Oktober 10, 2026

Ilustrasi karya Pe’i. dari ngopi bareng

Pao An Tui dan KNIL

Teguh mantan wartawan senior Republika yang kini tengah ‘melanglang dunia’. Teguh yang berdarah Betawi, Cina, dan Jawa menyatakan bahwa kini memang ada kesimpangsiuran mengenai sejarah pembentukan laskar bersenjata etnis Cina di masa perang kemerdekaan: Pao An Tui (PAT). ‘’Kalau mau mengangkat pahlawan dari etnis Cina ini, maka lebih baik yang dijadikan itu adalah kelompok Kin An Tui, yakni sebuah kelompok sosial yang membantu masyarakat Tionghoa dan pribumi pada masa Jakarta diduduki Belanda di awal kemerdekaan itu juga,’’ katanya. Teguh mengatakan Pao An Tui ada milisi bersenjata yang bercitra buruk di mata rakyat Indonesia. Karena, milisi yang dibentuk secara nasional ini pada sekitar pertengahan 1947 dilatih dan dipersenjatai oleh tentara Belanda (KNIL). Tempat latihan militer mereka adalah di Cimahi, Jawa Barat.

KNIL atau Koninklijk Nederlands-Indische Leger adalah tentara kerajaan Belanda, sebagai kekuatan militer yang dipertahankan oleh Kerajaan Belanda di wilayah jajahan Hindia Belanda, di daerah-daerah yang sekarang menjadi bagian dari wilayah Indonesia.

Fakta bahwa Pao An Tui tidak berpihak pada Republik Indonesia dibuktikan dengan adanya serangan laskar Pao An Tui di Medan kepada pihak TNI yang saat itu di komandoi oleh Jamin Ginting. Alasan penyerangan mereka adalah karena ingin membalas dendam kepada terhadap laskar rakyat yang mereka sebut sebagai ‘laskar liar’. ’’Akibat penyerangan ini mereka pun balik dihabisi oleh pasukan TNI yang dipimpin Jamin Ginting itu,’’ katanya. ‘’Ingat Jendral Spoor dulu saja tak mau merangkulnya. Bahkan, Syahrir pun yang sempat mau merangkul mereka, tiba-tiba membatalkan keputusannya. Sikap Syahrir berubah setelah dicegah oleh Tokoh Partai Tionghoa Indonesia,’’ kata Teguh.

Memoar Oei Tjoe Tat

Jika sekarang ada pembelaan terhadap Pao An Tui dasarnya hanya mengacu pada sebuah memoar yang ditulis Oei Tjoe Tat. Dia mengatakan bahwa Pao Aun Tui tidak menghalangi kemerdekaan Indonesa. ‘’Memoar inilah yang banyak dikutip sejarawan Cina di Indonesia. Selain itu tak ada. Bahkan catatan sejarah lain menyatakan Pao An Tui pada perstiwa 10 November 1945 memihak pada tentara Belanda. Data ini diperkuat berbagai foto perang kemerdekaan yang ada di arsip Belanda dalam situs gahetna.nl. Di sana jelas sekali terlihat fakta bahwa Pao An Tui dilatih oleh KNIL (tentara Belanda),’’ tegasnya. Menurut Teguh, jika pada akhirnya PAT menjadi pro-Republik, itu terjadi ketika Belanda mulai terdesak di level diplomatik. Konsul Cina di Jakarta menyuplai informasi yang menjadi dasar bagi PAT untuk mengambil kebijakan politik. ”Belanda telah memperkirakan semua itu, dan mereka tidak mau bernasib sama dengan Jepang,’’ ujar Teguh. Dalam soal Pao An Tui, Teguh telah menuliskan kajiannya secara komprehensif pada rubrik ‘Kazanah’ di Harian Republika pada awal tahun 2011.

Tulisan ini bisa dinikmati pada artikel selanjutnya (lihat penelitian Andjarwati Noorhidajah yang terangkum dalam buku Tionghoa di Surabaya, serta memoir Soemarsono-komandan Pemuda Rakyat). Menuliskan: Pao An Tui, dengan membaca arsip Belanda. Dia sampai pada kesimpulan Pao An Tui Surabaya terlibat membantu NICA dalam perang 10 Nopember Bung Tomo marah dan mengobarkan semangat anti-Tionghoa. Akibatnya, terjadi pembantaian masyarakat Tionghoa di Medan, Tangerang, Bagan Siapi-api, dan kota-kota di Jawa Barat dan Tengah; Karawang. Keterlibatan Pao An Tui Surabya membantu NICA inilah yang diingkari banyak sejarawan Tionghoa Indonesia.

Pengingkaran itu terjadi sedari awal. Buktinya, ketika masyarakat Tionghoa Medan berupaya melindungi diri, mereka membentuk Pao An Tui dan meminta Jenderal TED Kelly (komandan pasukan Inggris), untuk mempersenjatai mereka. Fakta yang digunakan masyarakat Tionghoa Indonesia untuk membersihkan nama Pao An Tui adalah organisasi ini resmi dibentuk 28 Agustus 1947 di Jakarta atas restu PM Sutan Sjahrir. Oey Tjoe Tat, mantan menteri keuangan era Soekarno, juga menggunakan fakta yang sama untuk mengatakan Pao An Tui bukan antek Belanda.

Oey Tjoe Tat mengingkari keterlibatan Pao An Tui di Surabaya. Namun Siaow Giok Tjhan, pahlawan kemerdekaan Indonesia dari etnis Tionghoa, tidak mengingkarinya. Demikian pula Liem Koen Hian, tokoh Partai Tionghoa Indoneisia (PTI) yang sejak 1930 mengkampanyekan nasiolisme Indonesia bagi masyarakat Tionghoa peranakan. Sikap keduanya terlihat saat menanggapi pembantaian Tionghoa di Tangerang, dengan menuduh Belanda diuntungkan oleh pembantaian itu.

Peristiwa Balaraja

Peristiwa Balaraja (Perang Balaraja) dipicu oleh penurunan bendara Merah Putih yang kemudian di ganti dengan bendera Merah Putih Biru (Bendera Belanda) oleh seorang anggota laskar Pao An Tui. Peristiwa memantik perang antara Poa An Tui dengan laskar rakyat dan para Jawara Tangerang. Pao An Tui di Tangerang dibentuk oleh Chung Hua Hui, organisasi para tuan tanah kaya yang menjadi anak emas Belanda selama sekian ratus tahun dan sudah barang tentu pro NICA. Bahkan ada informasi atau isyu yang sulit diklarifikasi menyebutkan Pao An Tui Tangerang berniat mendirikan negara Capitanate of Tangerang.

Pao An Tui di Jakarta dipersenjatai Jenderal Spoor, komandan NICA. Pao An Tui di Bandung diberi akses ke perdagangan gelap senjata di Singapura oleh Pierre Paul  Raymond Pierre Paul Westerling si pembantai). Benny G Setiono, penulis buku Tionghoa dalam Pusaran Politik, mati-matian membersihkan nama Pao An Tui. Dia menulis; Pao An Tui tidak pernah menghambat revolusi Indonesia. Adalah benar ada anggota Pao An Tui yang berpihak ke NICA, mungkin karena sakit hati atau hal lain. Soekarno pun nyaris mengakui Pao An Tui. Namun ia mengurungkan niatnya setelah sebagaian masyarakat Tionghoa, terutama kaum kiri dan nasionalis seperti Lim Koen Hian gan SGT, menentangnya.

Pao An Tui tidak punya jasa sama sekali dalam perjuangan Indonesia. Organisasi ini adalah simbol oportunistik Tionghoa Indonesia, yang hanya sibuk menjaga properti ketimbang membantu Indonesia memerdekakan diri. Mereka tidak peduli siapa yang akan berkuasa; Belanda atau Indonesia, yang penting properti usaha selamat. Sementara Laskar Rakyat melihat properti Tionghoa adalah logistik bagi Belanda. Ketika taktik Bumi Hangus dalam perang kemerdekaan dijalankan, seluruh properti Tionghoa di desa-desa dimusnahkan. Di Karawang, dalam sepekan lima penggilingan padi milik etnis Tiongoa hancur dibakar, dan akses distribusi diputus. Akibatnya, pasokan pangan ke Jakarta induk pasukan NICA hancur.

Jenderal Spoor dan TNI tampaknya tahu bagaimana menjaga jarak dengan Pao An Tui. Keduanya belajar dari pengalaman Jepang yang dikhianati PAT di Tungchow. Alkisah, PAT garnisun Tungchow yang dibentuk dan dilatih Jepang sebagai serdadu boneka, dan melayani Jepang selama periode gencatatan senjata Tangka, tiba-tiba membokong dari belakang. PAT membantai 250 serdadu Jepang dan Korea di Tungchow. (lihat Japanese and China War, karya Robert Hunter Boyle)

Po An Tui adalah Milisi Cina Indonesia yang dibentuk dan dipersenjatai oleh penjajah Belanda, mereka membentuk satuan untuk setia kepada Belanda. Tugas mereka menjadi mata-mata, melakukan aksi teror, penculikan, pemerkosaan, penjarahan dan mengambil upeti dari petani-petani pribumi, memeras rakyat pribumi untuk diambil kekayaan dan disetorkan ke Belanda, bahkan mereka akan membunuh kalau ada pribumi yang menentang.

Westerling di selundupkan Pao An Tui ke Singapura

Po An Tui juga bersekutu dengan  Raymond Pierre Paul Westerling, pembantai umat Islam Makassar. 50 ribu ummat Islam Makassar dibantai Westerling setelah membantai Ummat Islam di Makassar, lalu Westerling lari ke Jakarta dan Jawa Barat. Westerling dikejar oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Po An Tui lah yang membantu meloloskan  Raymond Pierre Paul Westerling yang kemudian diselundupkan dan dilarikan dengan pesawat kecil menuju Singapura. Mudahnya Westerling kabur ke Singapura, karena ia memiliki hubungan istimewa dengan Milisi Po An Tui sebagaimana diceritakan Jenderal Besar (Purn) AH. Nasution dalam bukunya “Memenuhi Panggilan Tugas”.

Dimasa Perang Kemerdekaan laskar PAT mendapat pasokan senjata dari Singapura. Tidak sampai disitu, Po An Tui (PAT) juga melakukan teror di Bandung Jawa Barat, melakukan penculikan dan pembunuhan. Di tahun 1945, begitu Bung Karno dan Bung Hatta mendeklarasikan Kemerdekaan Indonesia, Po An Tui di Sumatera Utara berontak. Po An Tui Medan angkat senjata tidak mau bergabung dengan NKRI. Di wilayah Balaraja Tangerang, Po An Tui juga berontak tidak mau bergabung dengan NKRI, akhirnya umat Islam marah, terjadi perang di Balaraja. Jadi Milisi PAT ini pengkhianat, dalam sejarah Po An Tui selalu berkhianat kepada NKRI.

Di zaman penjajah Belanda mereka bersekutu dengan Belanda. Saat Belanda pergi dari Indonesia Pao An Tui ikut Jepang, begitu Jepang hengkang dari Indonesia mereka ikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat pemberontakan PKI mereka ikut PKI, mereka ikut membunuh para ulama, mereka bunuh kyai, dan mereka bunuh masyarakat pribumi. Bahkan, Po An Tui memusuhi sesama etnis Tionghoa, jika ada orang Tionghoa masuk Islam mereka aniaya, jika ada orang Tionghoa yang cinta NKRI, anti penjajah Belanda, Jepang atau anti PKI maka akan dimusuhi mereka. PAT tak lebih hanya benalu.

Komite Sentral Pao An Tui (PAT) berkantor pusat di Batavia, ibu kota kolonial Indonesia, dan terdiri dari Loa Sek Hie (Ketua), Oey Kim Sen (Wakil Ketua), Khouw Joe Tjan (Sekretaris) dan Cong Fai-kim (Bendahara). Unit-unit lain didirikan di Medan, Sumatra Utara pada tahun 1946, kemudian di Jawa pada tahun 1947. Pao An Tui dibubarkan pada 1949 seiring berakhirnya kekerasan dan penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia.

Ceritakan sejarah selurusnya sejarah, walau hanya setitik sekalipun. Jangan sekali-kali memanipulas sejarah. CMIIW


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

1 thought on “Pao An Tui, Milisi Pengkhianat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca