Oktober 10, 2026
Eggi Sudjana (Ist)

Sahabat Eggi

Saat sidang Ahok 2016-2017, Eggi Sudjana memasukan surat yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara agar menahan Ahok. Persidangan yang berlangsung di PN Jakarta Pusat, Gajah Mada. Karena saat itu gedung PN Jakarta Utara di Tj- Priok sedang direhab.

Eggi Sudjana dan Sahabat Eggi menandatangani surat; a quo dimaksud dengan atas nama yang betul-betul NEKAD, yakni menggunakan jabatannya Ketua DK (Dewan Kehormatan), sehingga dari organisasi di Manado dan lain-lain Kota di Republik Indonesia menghardik dan memang absolute, jelas perbuatan melanggar etik, sehingga menjadi perbincangan hangat bahkan panas di DPP Organisasi Advokat. Tentunya Anies tidak tahu (mungkin).

Namun saat itu, Ketua (Presiden) DPP Organisasi Advokat adalah pecinta “TOKOH BESAR” ulama yang mewakilkan eksistensi kepribadiannya yang cinta ulama kepada Sahabat Eggi. Sehingga keduanya aman tentunya. Hal ini tentu Anies gak tahu. Pastinya.

Dalam pada itu, Sahabat Eggi dihardik oleh Ahok sambil menunjuk-nunjuk ke Sahabat Eggi, dimuka hakim saat jalannya persidangan berlangsung oleh PN Jakarta Utara di Gedung Pertanian Ragunan-Jakarta Selatan pindah dari Glodok, karena China kaya pengusaha Glodok (UMUMNYA DIKENAL SELAKU PENGUSAHA MENENGAH DAN ATAS) ketakutan dangan massa yang kian mengerikan yang dendam kepada Ahok si Penista agama. Lalu Ketua PN karena melihat gejala-gejala kerawanan antar dua pihak pro kontra ulama ruang di ruang sidang, ruang sidang yang banyak justru dipenuhi 1/3 adalah intel pro Ahok. nDilalah Hakim Ketua Majelis malah mengancam akan mengeluarkan sahabat Eggi dari ruang sidang.

Anies mungkin tahu peristiwa ini. Karena ramai di media. Atau Anies sedang sibuk gak sempat baca, berita media-media online kelas satu.

Namun kini di 2024 Anies, sepertinya pasang strategi sambil coba-coba reserve, sudah ingin menjauh dan melupakan “tokoh ulama besar yang jadi panutan Eggi dan sahabat Eggi yang di 2017 kepala jadi kaki jadi kepala.” Karena bisa jadi sudah mendapatkan alih dukungan dari wong cilik yang katanya anti politik identitas. Koq belum berhasil? Lalu, implikasi aksinya, beberapa kelompok gak boleh reaksioner?

Siapa dia?

Ia manfaatkan dendam pribadi kepada si Nganu. Nganu petugas yang berkhianat. Hak dan hal yang wajar dalam berpolitik (praktis) pragmatis. Kata sebagian orang, walau menyakiti, itu urusan belakangan. Look like dapat Mimin tinggalkan Hayeee?

Bakat etos Anies, dengan data empirik pilpres 2024. Akankah melawan kecurangan yang pasti terjadi sejak di pemilu dan pilkada (walau pilkada, pilpres saat dipilih oleh parlemen/legislatif) ORLA, ORBA OREFORM dan ORDE SAKIT MENTAL dengan pola non litigasi yang halal menurut hukum?

Hal gejala-gejala ini cukup di tunggu dalam diam. Jika saja Anies dan sahabat barunya melawan sungguhan, bukan hanya sekedar.

Mudah-mudahan ada banyak pihak membantu secara aktif, proaktif serta progresif.

Catatan, bukan membantu saat Pilkada 2024. Cukup sudah masuk dalam perangkap kera.

Yang ternyata narasi keliru atau salah atau kurang, tambahkan saja atau tanya saja kepada para makelar penikmat Anies 2017-2022 yang kini sedang hot-hotnya melotot kepada Eggi dan Para Sahabatnya dari yang tak bertopi, berdasi dan non dasi, hingga berpeci bahkan ada yang bersurban.

Artikel di narasikan oleh “Sahabat Eggi”.

Editor : Bams


Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca