Oktober 9, 2026
Foto ilustrasi

Demokrasi Hanya Akrobat Penghibur Rakyat, Idealisme Politisi Hilang, Sirna Paska Pilpres

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Pemilu telah usai, bunglon-bunglon politik pun sudah mulai lompat pagar satu persatu bergabung dengan pemerintahan terpilih Prabowo Subianto. Nasdem, PKB, PPP bahkan partai PKS pun sudah mulai goyah dan terjadi dua faksi di elite, kelompok satu berkehendak bergabung dengan alasan sudah cukup lama menjadi oposisi dan sebagian menolak, sontak saja Fachri Hamzah politsi partai gelora yang paling getol membela Prabowo Gibran secara tegas menolak PKS untuk bergabung ke pemerintahan Prabowo Gibran, dan bukan Fachri Hamzah saja Akbar Faisal pun ikut nyentil “Hendaknya para  politisi itu percaya pada jalan pikirannya” benar benar cuitan yang menohok uluhati PKS.

Di sisi lain rakyat hanya sebagai bumbu dan  pemanis demokrasi yang di sapa hanya saat dibutuhkan setiap lima tahun setelah itu di biarkan saja karena satu suara rakyat mampu menghidupi lima tahun politisi beserta keluarganya dengan segala fasilitasnya. Itulah sisi gelap demokrasi yang sering disembunyikan oleh para politisi bunglon

Kenaikan BBM dan tarif dasar listrik pun seperti tak bisa di hindari dan akibatnya rakyat kecil menjadi benteng terakhir penyelamatnya. Ini semua kerakusan para elit politisi  dan pejabat yang memanfaatkan jabatannya untuk memenuhi gaya hedon yang menjadi kebiasaan para pejabat yang tak bermoral.

Sahabat Ida fillah dan lillah

Saatnya DPR, MPR, DPD terpilih kita tantang untuk mengembalikan UUD 2002 yang penuh dengan manipulatif untuk  segera di kembalikan pada UUD 1945

Mari kita evaluasi setelah seperempat abad Reformasi Pemerintah telah gagal mensejahterakan rakyat, akan tetapi hanya menyuburkan segelintir orang (Oligarki) lewat kebijakan-kebijakan yang berakibat pada sistem Negara Pancasila berasa Negara liberal, bahkan kental dengan aroma Komunis, peran swasta lebih dominan mengendalikan pasar, para cukong menjadi penentu kebijakan. Anggota DPR hanyalah korea-korea yang lebih tunduk dan taat  kepada para ketua partai daripada aspirasi rakyat (Bambang Pacul Anggota DPR RI dari partai PDI-P)

Sahabat Ida fillah dan lillah

Saat ini kita melihat gelagat dan sikap para  politisi yang awalnya berteriak keras untuk melakukan Perubahan dan sepertinya akan melacurkan idealisnya demi kenyamanan sesaat, atau bahkan  semua partai akan bergabung ke pemerintahan.

Untuk itu biarlah Parlemen Jalanan yang menjadi Oposisi yang akan membuat bising telinga para korea di Senayan.

Politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri, Mlmereka heran dan  terkejut jika rakyat mempercayainya. (Charles de Gaulle, Pimpinan militer dan Negarawan Perancis)

Salam Perjuangan

IDA Nurhaida

Aktivis Perempuan Bandung


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca