Oktober 10, 2026
Ilustrasi foto : Masjid At-Taqwa Komplek Pertamina Pondok Ranji (Sang Langit)

Malam berjejak.

Aku luruh dalam auman lukamu.

Auman cinta yang tak bertepi, tak berperi.

Cinta yang kau tanam di gang sempit itu, tumbuh subur jadi hama hidupku.

Aku dan kamu, hanyalah bingkai-bingkai kecil yang tak pernah tertata rapi.

Tak pernah selesai dibangun oleh jiwamu dan jiwaku.

Di gang sempit itu, kau membisu, beku dan kelu.

Bibirmu terpasung kata.

Sunyi adalah pilahan.

Sunyi adalah pilihan.

Pilahan dan pilihan itu, mengusung jarak batas antar kita.

Batas jasadku dan jasadmu yang tak pernah berujung pada dipan panjang, tempat kita menabur benih cinta.

Di sini, di gang sempit, aku merindu lenguhmu.

Merindu keluhmu.

Merindu desah napasmu ketika tubuhmu terbujur kaku tanpa busana di perjalanan malam.

Aku tetap mengenangmu dari jauh, di antara kepingan puzzle, kepingan lego, yang tak pernah berhenti mencari batas kesempurnaan.

Sajak karya (Gus) Edi Efendi


Baca juga puisi-puisi :


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

1 thought on “Jejak Malam”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca