Oktober 9, 2026
Arkeolog Indonesia dan Australia, dipimpin oleh Mike Morwood dari University of New England dan R.P. Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Temuan itu mereka beri nama resmi Homo floresiensis, manusia dari Flores. Dunia segera menyebutnya dengan nama yang lebih mudah diingat : Hobbit.

Disampaikan Oleh : Mohammad Basyir Zubair (EMBAS)

Prolog : Ilmu yang Tidak Pernah Tenang

Ada yang aneh dengan arkeologi Indonesia.

Di satu sisi, tidak ada ilmu yang lebih kaya bahan bakarnya di negeri ini. Kepulauan seluas lima juta kilometer persegi, dihuni manusia sejak ratusan ribu tahun lalu, dilewati jalur perdagangan paling ramai di dunia, menjadi tempat lahirnya kerajaan-kerajaan yang mengubah sejarah Asia, semua itu adalah tambang data arkeologis yang nyaris tidak ada habisnya.

Di sisi lain, tidak ada ilmu yang lebih sering dijadikan arena pertarungan di luar batas-batas sains itu sendiri. Arena di mana klaim mengalahkan data, di mana sentimen mengalahkan metodologi, di mana kekuasaan mengalahkan konsensus ilmiah.Artikel ini adalah upaya untuk melihat keduanya sekaligus, kebesaran yang nyata dan kekacauan yang juga nyata, dengan mata terbuka dan tanpa basa-basi.

Lima kasus. Lima cerita. Satu benang merah : arkeologi Indonesia terlalu sering dijadikan mainan oleh pihak-pihak yang kepentingannya bukan pada kebenaran ilmiah.

I. Hobbit dari Flores : Temuan Terbesar yang Nyaris Dihancurkan oleh Tangannya SendiriPada September 2003, sebuah tim arkeolog yang bekerja di Gua Liang Bua, Flores, menemukan sesuatu yang tidak masuk akal.

Di kedalaman sekitar enam meter dari permukaan tanah, terkubur dalam sedimen berumur sekitar 18.000 tahun, mereka menemukan sisa-sisa manusia dengan ukuran yang membingungkan. Tinggi badan diperkirakan hanya sekitar satu meter. Volume tengkoraknya, sekitar 380 sentimeter kubik, hampir sepertiga dari manusia modern. Namun morfologi tulangnya bukan milik anak-anak. Ia adalah individu dewasa.

Tim itu terdiri dari arkeolog Indonesia dan Australia, dipimpin oleh Mike Morwood dari University of New England dan R.P. Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Temuan itu mereka beri nama resmi Homo floresiensis, manusia dari Flores. Dunia segera menyebutnya dengan nama yang lebih mudah diingat : Hobbit.

Pada Oktober 2004, makalah tentang Hobbit terbit di jurnal Nature. Dunia ilmiah terguncang. Time memasukkannya sebagai salah satu penemuan terpenting tahun itu. Para pakar evolusi manusia berlomba menulis ulang skenario bagaimana manusia menyebar ke Asia Tenggara. Homo floresiensis menjadi bukti bahwa kepulauan Indonesia menyimpan rahasia evolusi yang belum habis tergali.

Ini seharusnya menjadi momen paling membanggakan dalam sejarah arkeologi Indonesia. Yang terjadi kemudian adalah sebaliknya.

Drama Tulang yang Rusak

Beberapa bulan setelah publikasi di Nature, hubungan antara tim Indonesia dan Australia memburuk. Tanpa prosedur resmi yang disepakati bersama, spesimen Homo floresiensis, termasuk tengkorak yang menjadi pusat seluruh analisis berpindah tangan ke tangan Teuku Jacob, guru besar antropologi fisik dari Universitas Gadjah Mada yang meragukan interpretasi tim penemu.

Ketika spesimen dikembalikan, kerusakannya nyata dan serius. Sejumlah fragmen tulang patah. Tengkorak mengalami kerusakan permanen. Mandibula yang semula utuh mengalami distorsi.

Para anggota tim Morwood terkejut dan marah. Mereka mendokumentasikan kerusakan itu secara ilmiah. Ketegangan diplomatik antara peneliti Indonesia dan Australia dalam kasus ini berlangsung bertahun-tahun.

Jacob sendiri sebelum meninggal pada 2007 berpendapat bahwa Homo floresiensis bukanlah spesies baru, melainkan manusia modern yang menderita microcephaly, kondisi medis yang menyebabkan kepala tumbuh lebih kecil dari normal. Pandangan ini kemudian ditolak oleh mayoritas komunitas ilmiah internasional berdasarkan analisis lebih lanjut pada morfologi tulang lain yang tidak konsisten dengan microcephaly.

Namun kerusakan pada spesimen itu tidak bisa diperbaiki. Bagian dari sejarah evolusi manusia yang tersimpan dalam tulang-tulang itu telah hilang selamanya.

Apa yang Tersisa

Homo floresiensis kini diterima luas sebagai spesies tersendiri dalam genus Homo. Temuan lanjutan, termasuk gigi dan tulang tangan yang dianalisis dengan teknologi lebih canggih, semakin memperkuat interpretasi awal tim Morwood-Soejono.

Indonesia memiliki situs ini. Indonesia memiliki datanya. Namun sebagian besar analisis mendalam dilakukan oleh lembaga-lembaga di luar Indonesia karena keterbatasan fasilitas domestik.

Kasus Hobbit mengajarkan dua hal sekaligus : betapa luar biasanya potensi arkeologi Indonesia, dan betapa rapuhnya ekosistem ilmiah yang mengelilinginya.

II. Gunung Padang : Ketika Ambisi Mengalahkan Data

Tidak ada kontroversi arkeologi yang lebih panas di Indonesia dalam satu dekade terakhir dari Gunung Padang.Situs megalitik di Cianjur, Jawa Barat, ini sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Strukturnya yang berundak-undak, tersusun dari batuan andesit, sudah menarik perhatian arkeolog sejak awal abad ke-20. Secara konvensional, situs ini dianggap sebagai punden berundak dari periode megalitik, berumur beberapa ribu tahun.

Lalu datanglah tim yang berbeda, dengan klaim yang berbeda.

27.000 Tahun dan Sebuah Jurnal Bergengsi

Oktober 2023. Jurnal Archaeological Prospection, publikasi ilmiah peer-reviewed yang diterbitkan oleh Wiley menerbitkan sebuah makalah dengan klaim yang menggetarkan : Gunung Padang bukan sekadar punden berundak. Ia adalah piramida buatan manusia yang dibangun dalam beberapa fase, dengan fase tertua berusia antara 9.000 hingga 27.000 tahun.

Jika benar, ini adalah struktur buatan manusia tertua yang pernah ditemukan mengalahkan Göbekli Tepe di Turki (sekitar 11.500 tahun) dan piramida Djoser di Mesir (sekitar 4.600 tahun) dengan selisih yang tidak masuk akal jauhnya.

Media Indonesia meledak. Indonesia Punya Piramida Tertua di Dunia. Peradaban Manusia Harus Ditulis Ulang. Nusantara Lebih Tua dari Semua yang Kita Kira. Klaim itu menyebar ke media internasional. Pejabat negara menanggapi dengan antusias. Dana riset mengucur.Komunitas arkeologi dan geologi Indonesia dan internasional langsung bereaksi, dengan skeptisisme yang serius dan berargumentasi.

Retraksi dan Penolakannya

Maret 2024. Archaeological Prospection secara resmi meretraksi makalah tersebut. Alasan yang dicantumkan oleh editor jurnal sangat spesifik dan mematikan secara ilmiah : penanggalan radiokarbon yang diklaim membuktikan usia struktur buatan manusia itu ternyata diterapkan pada sampel tanah organik biasa, bukan pada artefak, bukan pada fitur yang bisa diinterpretasikan sebagai hasil karya manusia. Dengan kata lain, yang dipenanggal adalah tanah di sekitar situs, bukan bukti aktivitas manusia itu sendiri.

Ini bukan kesalahan kecil. Ini kesalahan fundamental dalam desain penelitian.

Yang lebih mengejutkan : para penulis makalah menolak retraksi. Mereka tidak mengakui kesalahan metodologis yang ditemukan oleh editor dan peer reviewer. Mereka berpendapat retraksi itu tidak sah.

Di Indonesia, narasi piramida 27.000 tahun masih terus beredar. Di YouTube, di grup WhatsApp, di seminar-seminar tertentu. Retraksi tidak pernah seviral klaimnya. Dan ini adalah salah satu cara pseudo-arkeologi bekerja : sekali narasi sensasional dilepaskan ke publik, ia memiliki kehidupannya sendiri yang tidak bisa dicabut kembali oleh koreksi ilmiah.

Yang Dibungkam

Yang jarang diceritakan dalam narasi populer tentang Gunung Padang adalah bahwa sudah ada arkeolog-arkeolog Indonesia yang jauh sebelum retraksi itu dengan sabar dan metodis menunjukkan masalah dalam interpretasi tim tersebut. Mereka menulis, mereka berbicara, mereka memperingatkan. Suara-suara itu kalah bersaing dengan klaim yang lebih spektakuler, dan beberapa di antaranya menghadapi tekanan sosial dan institusional karena berani mempertanyakan narasi yang sudah terlanjur menjadi kebanggaan nasional.

Arkeologi yang benar-benar besar tidak membutuhkan klaim yang dilebih-lebihkan. Gunung Padang adalah situs arkeologis yang nyata dan menarik. Ia layak diteliti dengan serius, dengan metodologi yang sahih, dan dengan kesimpulan yang proporsional terhadap data yang tersedia.

III. Sriwijaya yang Hilang : Misteri Terbesar Arkeologi Nusantara

Di antara semua kasus dalam artikel ini, inilah satu-satunya yang bukan soal klaim berlebihan atau permainan kekuasaan. Ini adalah misteri ilmiah murni, dan justru karena itulah ia paling menakjubkan.

Sriwijaya adalah salah satu kerajaan paling berpengaruh dalam sejarah Asia Tenggara. Berdiri sekitar abad ke-7 Masehi, ia menguasai jalur perdagangan Selat Malaka selama berabad-abad, mengumpulkan kekayaan dari bea cukai kapal-kapal dagang yang tak terhitung jumlahnya, dan menjadi pusat pendidikan agama Buddha yang didatangi oleh biksu-biksu dari Tiongkok dan India.

I Tsing, biksu Tiongkok yang singgah di Sriwijaya pada abad ke-7, mencatat bahwa di sana terdapat lebih dari seribu biksu yang belajar.

Pengaruhnya membentang dari Semenanjung Malaya hingga sebagian Jawa. Namanya terukir dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di berbagai penjuru Sumatera dan semenanjung.

Dan ibu kotanya, pusat dari semua kehebatan itu sampai hari ini belum ditemukan.

Palembang atau Bukan?

Konsensus yang paling luas diterima menempatkan pusat Sriwijaya di sekitar Palembang, Sumatera Selatan. Argumennya masuk akal : Palembang terletak di tepi Sungai Musi yang besar, posisinya strategis untuk mengontrol lalu lintas perdagangan, dan sejumlah prasasti penting dari periode Sriwijaya ditemukan di sekitar wilayah ini.

Namun bukti arkeologis fisik, bangunan, struktur, artefak dalam konsentrasi yang cukup untuk disebut ibu kota, masih sangat terbatas. Palembang adalah kota yang terus berkembang selama lebih dari seribu tahun. Lapisan-lapisan sejarah menumpuk di atas lapisan sejarah lainnya. Ekskavasi berskala besar di kota yang hidup dan padat adalah pekerjaan yang sangat sulit secara logistik dan sangat mahal.

Ada hipotesis alternatif yang menempatkan pusat Sriwijaya di tempat lain, di Jambi, di Kedah di Malaysia, di tempat-tempat lain. Masing-masing punya argumennya sendiri, masing-masing juga punya kelemahannya sendiri.

Mengapa Ini Penting

Ketidakhadiran bukti fisik ibu kota Sriwijaya bukan sekadar masalah akademik. Ia adalah lubang besar dalam narasi kebangsaan Indonesia. Kita dengan bangga menyebut Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara, dalam buku pelajaran, dalam pidato kenegaraan, dalam nama-nama jalan dan institusi. Namun kita belum bisa menunjukkan kepada dunia : ini dia, inilah tempatnya, inilah buktinya.

Bandingkan dengan Angkor di Kamboja, yang kompleks candinya bisa dilihat dan dikunjungi secara langsung. Atau dengan situs-situs Maya di Amerika Tengah yang terus menghasilkan temuan baru yang memukau. Sriwijaya, yang pengaruhnya tidak kalah besar, belum memiliki monumen yang bisa berbicara kepada publik.

Ini bukan kegagalan Sriwijaya. Ini adalah tantangan arkeologi Indonesia yang belum selesai, dan yang membutuhkan komitmen riset jangka panjang, bukan klaim instan.

IV. Chattra Borobudur : Ketika Simbol Agama Bertabrakan dengan Sains

Borobudur adalah monumen Buddha terbesar di dunia. Dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi di bawah Dinasti Syailendra, ia adalah salah satu pencapaian arsitektur dan seni yang paling luar biasa yang pernah dihasilkan manusia. UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Dunia pada 1991. Setiap tahun jutaan orang dari seluruh dunia datang bukan hanya sebagai wisatawan, tetapi sebagai peziarah ke salah satu puncak peradaban umat manusia.

Dan pada 2022, sebuah wacana muncul yang membuat komunitas arkeologi dan konservator di seluruh Indonesia dan dunia terperangah.

Chattra : Mahkota yang Tidak Terbukti

Chattra adalah ornamen berbentuk payung bertumpuk yang dalam tradisi Buddha diletakkan di atas stupa sebagai tanda kesucian dan keagungan. Wacana yang muncul adalah bahwa chattra perlu dipasang di puncak stupa utama Borobudur, dengan argumen bahwa ini adalah restorasi yang mengembalikan Borobudur ke bentuk aslinya.Komunitas arkeologi dan konservasi langsung bereaksi dengan satu pertanyaan mendasar : di mana bukti arkeologisnya bahwa Borobudur pernah memiliki chattra?

BRIN menyatakan bahwa kekuatan struktural stupa utama Borobudur sangat terbatas, pemasangan struktur tambahan di puncaknya berisiko menyebabkan kerusakan struktural yang serius. ICOMOS Indonesia memberikan kajian resmi yang meragukan dasar historis pemasangan chattra dan menyatakan bahwa intervensi semacam itu mengancam otentisitas Borobudur sebagai Warisan Dunia, yang berarti berpotensi mengancam status UNESCO-nya.

Para arkeolog senior angkat suara. IAAI menggelar rapat koordinasi. Perdebatan berlangsung sengit di ruang publik.

Wacana itu setidaknya untuk sementara tidak terlaksana. Namun pada 2026, suara-suara yang mendukung pemasangan chattra kembali terdengar dari kalangan pejabat kementerian.

Apa yang Sebenarnya Dipertaruhkan

Kasus chattra Borobudur bukan sekadar tentang sebuah ornamen. Ia adalah tentang siapa yang berhak menentukan nasib warisan yang milik semua orang.

Borobudur dibangun oleh manusia-manusia yang hidup dua belas abad lalu. Ia bukan milik satu agama, satu kelompok, atau satu era. Ia adalah warisan peradaban, milik umat manusia. Keputusan tentang intervensi fisik terhadapnya tidak bisa didasarkan pada tafsir ikonografis yang belum konsensus, apalagi pada kepentingan simbolik sesaat.

Prinsip konservasi internasional sangat jelas: intervensi pada warisan dunia harus reversible (bisa dibatalkan), harus didasarkan pada bukti yang kuat, dan harus melalui proses konsultasi yang melibatkan komunitas ilmiah internasional. Pemasangan chattra permanen di puncak stupa utama tidak memenuhi satupun dari kriteria ini.

Kemenangan sementara komunitas arkeologi dalam kasus ini penting untuk dicatat. Ia membuktikan bahwa suara ilmiah, ketika disampaikan dengan argumentasi yang solid dan dengan kesatuan yang cukup, bisa didengar bahkan oleh kekuasaan.

V. Menulis Ulang Sejarah : Ketika Negara Ingin Menjadi Pengarang Tunggal

Dari semua kasus dalam artikel ini, inilah yang paling langsung menyentuh pertanyaan mendasar tentang kebebasan akademik dan integritas ilmu pengetahuan di Indonesia.

Pada 2025, Kementerian Kebudayaan meluncurkan proyek ambisius : penulisan ulang sejarah Indonesia dalam 10 jilid. Gagasannya adalah menghadirkan narasi sejarah nasional yang komprehensif, diperbarui, dan relevan untuk generasi masa kini. Dalam kalimat yang terdengar mulia itu tersembunyi beberapa masalah yang sangat serius.

Mundurnya Seorang Guru BesarProf. Harry Truman Simanjuntak adalah salah satu arkeolog paling senior dan paling dihormati di Indonesia. Penelitinya mengenai prasejarah Indonesia telah diakui secara internasional. Ia bergabung dalam tim penulisan ulang sejarah itu.Kurang dari sepuluh hari kemudian, ia mengundurkan diri.

Dalam pernyataan yang kemudian menjadi viral di kalangan akademisi, ia menjelaskan tiga alasannya. Pertama, kerangka penulisan sudah disodorkan kepada tim tanpa melalui diskusi para pakar, para ahli diminta mengisi kerangka yang sudah ditetapkan sebelumnya, bukan membangun kerangka itu bersama-sama.

Kedua, rencana penulisan mencakup masa pemerintahan yang baru saja berakhir, sebuah keputusan yang berpotensi melahirkan bias politik yang sangat besar.

Ketiga, dan inilah yang paling menggelisahkan dari perspektif keilmuan, istilah ilmiah “prasejarah” akan dihapus dan diganti dengan “sejarah awal.”Tentang poin ketiga ini, Prof. Simanjuntak menulis dengan tegas: “Menggantikan Prasejarah dengan Sejarah Awal sama dengan menghapuskan istilah dan ilmu prasejarah dari nomenklatur keilmuan, sebuah keputusan yang betul-betul aneh, hanya dan baru kali ini terjadi di Indonesia.

“Mengapa Penghapusan “Prasejarah” Serius

Bagi pembaca awam, ini mungkin terdengar seperti perdebatan tentang peristilahan yang tidak penting. Ia bukan.”Prasejarah” dalam ilmu arkeologi dan antropologi mengacu pada periode sebelum keberadaan catatan tertulis, periode yang mencakup ratusan ribu tahun perjalanan manusia di kepulauan Indonesia. Ia adalah domain arkeologi, bukan sejarah dalam pengertian konvensional. Mengganti “prasejarah” dengan “sejarah awal” bukan sekadar perubahan nama, ia adalah pengaburan batas antara dua disiplin ilmu yang berbeda metodologi, sumber data, dan kerangka interpretasinya.

Lebih dari itu, ia mencerminkan kecenderungan yang mengkhawatirkan: mengatur bagaimana masa lalu harus dipahami dan dibahasakan, sesuai dengan kerangka yang ditetapkan oleh otoritas negara.Sejarah Resmi dan Bahayanya.

Pertanyaan yang perlu diajukan dengan keras adalah: apakah negara berhak menulis “sejarah resmi”?

Dalam tradisi akademik modern dan dalam negara demokrasi yang sehat, penafsiran sejarah adalah wilayah debat terbuka. Temuan baru mengubah pemahaman lama. Perspektif yang berbeda memperkaya narasi. Tidak ada satu versi tunggal yang boleh dikukuhkan sebagai satu-satunya kebenaran oleh otoritas negara.

Sejarah yang ditulis oleh kekuasaan, untuk kepentingan kekuasaan, dengan kerangka yang ditetapkan sebelum para ahlinya berkumpul, bukan sejarah dalam pengertian ilmiah. Ia adalah propaganda yang mengenakan jubah akademik.

Epilog : Arkeologi yang Kita Butuhkan

Lima kasus, lima wajah yang berbeda dari satu masalah yang sama.Hobbit dari Flores menunjukkan betapa luar biasanya potensi arkeologi Indonesia, dan betapa rapuhnya ekosistem yang seharusnya melindungi temuan-temuan itu.

Gunung Padang menunjukkan apa yang terjadi ketika ambisi mengalahkan metodologi, dan bagaimana narasi yang sudah terlanjur viral tidak bisa ditarik kembali oleh retraksi yang datang terlambat.

Sriwijaya yang hilang menunjukkan bahwa misteri ilmiah yang jujur jauh lebih menarik dari klaim yang dibuat-buat, dan bahwa arkeologi Indonesia masih punya pekerjaan besar yang belum selesai.

Chattra Borobudur menunjukkan bahwa warisan peradaban selalu berisiko dijadikan instrumen kepentingan, dan bahwa suara ilmiah, ketika bersatu, masih bisa didengar.

Penulisan ulang sejarah menunjukkan bahwa ancaman terhadap integritas keilmuan tidak selalu datang dari luar, ia bisa datang dari dalam, berselubung dalam niat yang terdengar mulia.

Arkeologi yang Indonesia butuhkan bukan arkeologi yang paling keras berteriak tentang penemuan tertua di dunia. Arkeologi yang Indonesia butuhkan adalah arkeologi yang jujur terhadap datanya, berani terhadap kekuasaan, dan terbuka kepada publik yang berhak mengetahui kebenaran tentang tanah yang mereka pijak.

Peradaban Nusantara yang nyata, dengan segala kompleksitas, keindahan, dan kontradiksinya, jauh lebih menakjubkan dari versi mana pun yang dibuat-buat.

Dan tugas kita adalah memastikan bahwa kebenaran itu, bukan klaim yang lain, yang sampai kepada generasi berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Coedès, G. (1918). “Le Royaume de Çrivijaya.” Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient, 18, 1–36.Dalton, R. (2004). “Little lady of Flores forces rethink of human evolution.” Nature, 431, 1029–1030.Manguin, P.-Y. (2004). “The Archaeology of Early Maritime Polities of Southeast Asia.” Dalam I. Glover & P. Bellwood (Eds.), Southeast Asia: From Prehistory to History. London: RoutledgeCurzon.Miksic, J.N. (2013). Singapore and the Silk Road of the Sea, 1300–1800. Singapore: NUS Press.Morwood, M.J., Brown, P., Jatmiko, Saptomo, E.W., Westaway, K.E., Due, R.A., Roberts, R.G., Maeda, T., Wasisto, S., & Djubiantono, T. (2004). “Archaeology and age of a new hominin from Flores in eastern Indonesia.” Nature, 431, 1087–1091.Morwood, M. & van Oosterzee, P. (2007). The Discovery of the Hobbit: The Scientific Breakthrough that Changed the Face of Human History. Sydney: Random House Australia.Natawidjaja, D.H., dkk. (2024). “Geo-archaeological prospecting of Gunung Padang buried prehistoric pyramid in West Java, Indonesia.” Archaeological Prospection, 31(2). [Artikel diretraksi pada Maret 2024].Retraction Watch. (21 Maret 2024). “Controversial pyramid paper retracted when authors turn out to have radiocarbon-dated nearby dirt.”Science AAAS. (2022). “Indonesia’s massive research reform triggers layoffs and protests.” Science.Tempo. (23 Mei 2025). “Profesor Arkeologi Beberkan Alasan Mundur dari Tim Penulisan Ulang Sejarah Indonesia.”Kompas.com. (17 Juni 2025). “Arkeolog Harry Truman Simanjuntak Keluar dari Tim Penulisan Ulang Sejarah.”Tirto.id. (September 2024). “ICOMOS dan BRIN Tolak Pemasangan Chattra di Borobudur.”The Conversation Indonesia. (20 September 2024). “Tiga Tahun Perjalanan BRIN: Birokratisasi atau Birokrasi untuk Riset dan Inovasi?”Tempo. (10 Februari 2025). “Dampak Pemangkasan Anggaran BRIN: Masa Depan Riset Makin Suram.”UNESCO World Heritage Centre. (1991). Borobudur Temple Compounds.ICOMOS Indonesia. (2024). Kajian dan Pernyataan tentang Wacana Pemasangan Chattra Borobudur.Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN. (2024). Pernyataan Akademik terkait Wacana Pemasangan Chattra Borobudur.

Kotagede, Yogyakarta 11 Juni 2026

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca