AL ARQOM’S HOME
(Refleksi Hari Pendidikan Nasional)

Rumah Al Arqom arti dari Al Arqom’s Home, rumah yang monumental. Sejarah mencatat bahwa rumah yang berada di lereng bukit Shafa kota Makah itu adalah Tempat yang dipilih oleh Muhammad Rosullullah untuk mengenalkan Islam dan menguatkan Tauhid kepada sahabat sahabatnya, kediaman itu juga didaulat oleh sang Nabi sebagai wahana internalisasi “ideologi” tentang sebuah kebenaran dari langit. Kebenaran yang kontra dengan kebiasaan lama yang telah berjalan di Kota Makah. Beliau mengajak untuk percaya kepada satu tuhan sedang kepercayaan penduduk kota berkata sebaliknya yakni banyak tuhan yang disembahnya yang berupa berhala berhala. Sang rasul mengajarkan arti positif sebuah egalitarian namun yang mentradisi dikota itu adalah kasta miskin dan kaya yang menganga jaraknya serta eksploitatif.
Dan bagi status quo ajaran Muhammad itu jika dibiarkan akan menjelma sebagai ancaman serius bagi kemapanan mereka. Maka langkah senyap menjadi keputusan sang nabi untuk mendidik kader kader awal Islam di rumah itu.
Rumah Al Arqom atau dalam catatan sejarah dikenal sebagai baitul arqom bagi para sahabat Nabi tidak sebatas tempat mengerti apa itu Islam, iman dan Ihsan, tapi ditempat itu sebuah pengertian awal suatu ilmu perlu dilanjutkan ke etape yang lebih tinggi yakni pemahaman mendalam tentangnya, kemudian dilanjutkan kepada menguji efek sebuah kebenaran, lantas diinternalisasikan kepada kesadaran untuk segera dikenalkan kepada khalayak bahwa telah datang warta kebenaran, kemudian diformulasikan kepada rupa rupa strategi dan gerakan amal, bahwa memang kebenaran langit itu benar benar mampu mengajak khalayak ke jalan keselamatan.
Baitul Arqom sedikit banyak memberikan pesan kepada kita semua tentang pentingnya sebuah pendidikan. Dengan pendidikan kita belajar untuk mengerti, lantas dengan pendidikan kita belajar untuk memahami, dengan pendidikan kita belajar memilah mana yang benar dan mana yang buruk, dengan pendidikan pula kita kemudian diharap mampu bergerak ke arah yang lebih baik dan luhur, dengan dengan pendidikan juga kita dianjurkan sanggup menata diri, dan mendapat cara untuk hidup lebih bermartabat.
Jika kemudian hal hal diatas telah terinternalisasi secara sadar, maka dampak paling utama dari sebuah pendidikan jika dilihat dari kacamata agama adalah membentuk manusia yang kian takut pada Tuhannya. Dan dari sinilah lahirlah semacam “perlawanan” buah dari sebuah pendidikan itu sendiri. Lantas muncul pertanyaan.
Apakah bentuk perlawanan itu?.
Pertama, perlawanan terhadap diri sendiri alias kemempuan cerdas dalam mengelola ego, kemudian yang kedua adalah perlawanan terhadap sesuatu hal diluar kita yang sekiranya menyimpang dari rel rel kebenaran universal, kemalasan adalah penyimpangan maka harus dilawan, korupsi adalah penyimpangan maka perlu di lawan, begitu juga dengan narkoba, penyalahgunaan wewenang, dan eksploitasi alam, semua itu perlu dilawan. Tapi rupanya bentuk bentuk penyimpangan itu marak terjadi di negeri kita dan dilakukan oleh orang orang kuat. Siapkah kita menghadapinya dengan semangat pendidikan Al Arqom’s Home yang sarat dengan keberanian, aksi serta keyakinan bahwa Tuhan akan selalu berada difihak yang benar. Dan akhirnya saya ucapkan Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional. Wallahu a’lam Bishowab.
Oleh : Wildan Sule Man, Penulis Amatir, aktifis Muhammadiyah Jawa Tengah.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.