
Kaus pelukis bolongnya lebih jujur dari lukisan-lukisan naturalisnya. Kaki penuh noda itu telah lebih banyak berjalan menuju kekecewaan daripada galeri. Lihat, betapa tubuhnya adalah kanvas terbaik penuh jejak perlawanan, goresan marah, dan tinta-tinta kesepian yang tidak pernah kering.
Di sekelilingnya: karya-karya prematur yang tidak diminta lahir. Sosok-sosok tanpa wajah, mungkin karena ia sendiri lupa bentuk wajahnya setelah terlalu sering menatap cermin yang hanya memantulkan kegagalan.
Katanya ingin melukis dunia. Tapi ia malah menggambar bayangan sendiri, berulang-ulang
Dan mungkin, justru dalam ketidaksempurnaan ini, dalam kekacauan kuas dan sobekan kanvas, dan sederetan anomali seniman itu benar-benar hidup. Ia membuktikan bahwa luka pun bisa dicetak jadi karya.
Sajak Gyo Madaskar (SIM/Lamteng)
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.