
Disampaikan Oleh : Madi Saputra
Selasa, 6 Januari 2026, di kediaman pribadi di lereng Hambalang, Bogor, langit Jawa Barat tampak lebih berat dari biasanya. Di sana, selama sembilan jam penuh—dari siang hingga malam, dengan jeda makan dan shalat—berkumpul seluruh jajaran Kabinet Merah Putih, Jaksa Agung, Panglima TNI, Kapolri, Kepala Staf Angkatan Darat, Laut, dan Udara, Kasum TNI, perwakilan Dewan Energi Nasional, serta utusan khusus dari berbagai lembaga strategis. Ini bukan sekadar rapat biasa. Ini adalah retreat kedua setelah Magelang, sebuah ruang tertutup di mana Presiden Prabowo Subianto membuka lembaran-lembaran yang selama ini tersembunyi, membuka luka lama bangsa, dan menarik garis visi yang tajam untuk masa depan.
Sesi awal dibuka untuk media. Prabowo menjelaskan capaian satu tahun pemerintahan : pembangunan 11 jembatan gantung dalam sebulan untuk anak-anak di daerah terpencil, target 6.900 jembatan di 2026, dan berbagai inisiatif infrastruktur yang mulai terasa di lapangan. Video-video diputar: anak-anak berjalan di jembatan baru, wajah-wajah penuh harap. Namun, ketika layar berganti ke gambar penderitaan rakyat—keluarga yang terjebak kemiskinan, anak yang tak bisa sekolah karena jarak, ibu yang menunggu bantuan obat—suasana berubah. Ada yang menitikkan air mata. Lagu-lagu inspiratif mengalun, mempertegas tekad Prabowo : “Saya ingin menolong rakyat susah.” Emosi itu nyata, dan itu bukan pertunjukan.
Sesi kedua. Kemudian, pintu ditutup. Media diminta keluar. Sesi tertutup dimulai—dan di sinilah inti dari retreat ini terungkap.
Prabowo membuka data yang baru diterimanya dari lembaga resmi setelah dua bulan menjabat: angka-angka kehilangan kekayaan negara selama 31 tahun terakhir, sejak era pasca-Soeharto hingga 2025. Ribuan triliun rupiah hilang melalui mis-manajemen BUMN, under-invoicing, kebun sawit ilegal, penyelundupan SDA, dan berbagai bentuk pembobolan yang dilakukan oleh “1 persen manusia Indonesia”. Angka itu begitu besar hingga membuat peserta terpana—dan marah. Kemarahan itu bukan sekadar emosi; itu adalah api yang Prabowo nyalakan untuk membakar tekad. Ia mengatakan : “Kita harus menyudahi aksi pembobolan ini. Jika kalian tidak sanggup, silakan balik badan, mundur.”, dihadapan para menterinya.
Pesan itu tegas. Prabowo tidak ingin kompromi. Ia menawarkan pilihan : seirama atau keluar. Di tengah diskusi, ia menyelipkan dua ayat dari Surah Al-Baqarah: ayat 191 dan 217. “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan,” katanya, merujuk pada kezaliman dan penganiayaan yang menghancurkan iman dan masyarakat. Dalam konteks retreat, “fitnah” itu bukan sekadar cobaan; itu adalah korupsi sistemik yang selama puluhan tahun merampas hak rakyat, membuat Indonesia miskin meski kaya sumber daya alam. Ayat itu menjadi pengingat spiritual dari Sila Pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” perlawanan terhadap korupsi bukan hanya tugas politik, tapi panggilan moral, panggilan jihad melawan kezaliman.
Sesi tertutup juga membahas geopolitik. Prabowo menjelaskan kunjungan luar negeri yang intensif, peran Indonesia di Gaza, sikap terhadap konflik global, dan strategi pertahanan negara yang tidak boleh bocor ke publik. Ia menekankan bahwa dunia sedang dalam fase konflik baru—bukan hanya militer, tapi ekonomi dan sumber daya. Venezuela baru saja menjadi contoh : AS menangkap Maduro dalam 300 menit, dengan dalih narco-terrorism, tapi motif sebenarnya adalah minyak. Prabowo melihatnya sebagai peringatan: negara yang kaya SDA tapi lemah dalam pertahanan, perhubungan dan pengelolaan internal akan menjadi sasaran berikutnya.
Emosi peserta campur aduk. Ada yang gemas melihat angka-angka yang seharusnya membuat rakyat sejahtera. Ada yang marah karena selama 31 tahun, kekayaan itu mengalir keluar negeri, meninggalkan utang luar negeri dan kemiskinan. Ada yang terharu menitikkan airmata karena video penderitaan rakyat diputar berulang, seolah Prabowo ingin mengukirkan luka itu di hati setiap menteri. “Bismillah,” tulis salah seorang peserta dalam catatan pribadi, “saya optimis Pak Prabowo bisa menghentikan pembobolan ini. Tidak ada kata terlambat.”
Retreat Hambalang bukan sekadar evaluasi. Ini adalah panggilan untuk bangkit. Prabowo ingin kabinetnya tidak hanya bekerja, tapi berjuang. Ia ingin Indonesia tidak lagi menjadi penonton di meja makan global, tapi pemain yang mengendalikan nasibnya sendiri. Dengan menyoroti korupsi sebagai “fitnah” yang lebih kejam dari pembunuhan, ia mengajak seluruh kabinet untuk memilih: tetap bertahan dalam kemapanan lama, atau ikut membangun Indonesia baru—adil, makmur, dan berdaulat.
Di akhir sembilan jam itu, suasana bukan lagi campur aduk. Ada tekad. Ada api dan Ada harapan.
Dan itu, barangkali tujuan utama retreat Hambalang : membakar semangat Jihad.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.