Oktober 10, 2026
Perwira AL Israel, Letkol Eli Ginsburg, salah satu orang yang memerintahkan pembantaian dalam operasi Mavi Marmara, tewas di tangan Pejuang Palestina. Foto Mavi Marmara

semutibrahim.com | Mavi Marmara – 13 tahun lalu. Tepatnya pada sepertiga malam terakhir tanggal 31 Mei 2010, 6 kapal bantuan kemanusiaan dalam misi Freedom Flotilla yang membawa 10.000 ton bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian, alat kesehatan dan alat bangunan yang sedianya akan di kirim ke Palestia hampir tiba di perairan Gaza di laut Mediterania.

1 dari 6 kapal tersebut mengangkut 600 orang relawan kemanusiaan yang berasal dari 32 negara, termasuk Indonesia. Para relawan ini terpanggil untuk ikut pelayaran Freedom Flotilla mengantar bantuan ke Gaza karena bersimpati kepada 1,8 juta warga Gaza (populasi pada tahun 2010) yang diblokade oleh Zionis Israel sejak tahun 2007 (hingga sekarang). Akibat blokade tersebut, Gaza menjadi penjara terbuka bagi penduduk Gaza, Palestina. Kapal yang mengangkut relawan tersebut bernama Mavi Marmara.

Belum sempat iring-iringan kapal kemanusiaan tersebut masuk ke wilayah perairan Gaza, tiba-tiba mereka dicegat oleh pasukan Zionis Israel. Tak tanggung-tanggung, Zionis Israel mengerahkan 19 speedboat militer, 2 kapal perusak, 2 kapal selam, dan 2 helikopter komando. Padahal, di dalam kapal kemanusiaan tersebut tidak ada sepucuk senjata, tidak ada sebutir peluru atau bahkan setitik mesiu sama sekali.

Pada saat penyerbuan dilakukan, satu persatu tentara bertopeng turun dari helikopter, menuju dek kapal yang berada di wilayah perairan internasional atau 130 Km di luar perairan teritorial Israel. Prajurit yang bersenjatakan senapan, granat kejut, dan gas air mata ditugaskan melancarkan serangan fajar pertama.

10 orang relawan kemanusiaan dalam misi Freedom Flotilla yang gugur di tembaki tentara zionis – Israel. Foto oleh IHH Humanitarian Relief Foundation

Tidak cukup sekadar menghentikan, tentara Zionis Israel juga menembaki para relawan. Akibatnya 9 orang relawan meninggal dunia akibat tembakan tersebut, serta 1 orang ‘menyusul’ meninggal setelah koma selama 3,5 tahun, dan 50 orang lainnya terluka, termasuk relawan dan jurnalis asal Indonesia, Surya Fachrizal, yang tertembak di bagian dada dan menyerempet paru-paru.

Serangan tersebut berlangsung sejak pukul 04.30 waktu setempat hingga pukul 09.00. Setelah itu, para relawan diborgol, dan dijemur di atap kapal di tengah Laut Mediterania hingga pukul 14.30 waktu setempat.

Pada pukul 17.00, kapal-kapal Freedom Flotilla diseret paksa ke pelabuhan Ashdod, Israel. Para relawan diturunkan dari kapal dan diinterogasi hingga pukul 03.00 dini hari. Saat proses interogasi tersebut, sebagian relawan mengalami penyiksaan, pemaksaan tandatangan dokumen palsu, serta pengambilan sidik jari dan retina mata.

Sore kemarin (9/10) waktu Palestina, atau malam waktu Indonesia Barat, terkabar bahwa Letnan Kolonel Eli Ginsburg, komandan pasukan Zionis Israel yang memimpin penyerangan kapal kemanusiaan Mavi Marmara tewas di tangan pejuang Palestina.


Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. (Pembukaan UUD 1945). Maka sebagai warga negara yang menjunjung tinggi kemerdekaan atas segala bangsa sudah sepatutnya mengutuk dengan keras invasi Zionis Israel atas Palestina.

Baca juga Sejarah Bait Al-Maqdis #1 dan Sejarah Bait Al-Maqdis #2: Akar Krisis Palestina untuk memahami sejarah dan latar belakang invasi Zionis Israel atas Palestina.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca