Oktober 10, 2026
Ilustrasi Jokowi dan Megawati (Ilustrasi: Indra Fauzi – Tempo)

Megawati Di Bawah Bayang-Bayang Jokowi

semutibrahim.com | Kak Naz – PDI-P itu sudah berkali-kali menunjukan jati dirinya sebagai Partai yang takut untuk fighting mempertahankan maruah partainya ketika harus berhadapan dengan Jokowi. Kepengecutan itu telah dibuktikan ketika Megawati tak setuju Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI, namun ketika Jokowi dibawa oleh Gerindra bersama koalisi partainya kala itu, Megawati takluk.

Begitu juga ketika PDI-P mengusung Kadernya di PILKADA Solo (Achmad Purnomo-red), tiba-tiba Jokowi menyalip, memasukan nama Gibran yang belum cukup memenuhi syarat AD/ART Partai sebagai kandidat Walikota Solo, Megawati takluk juga, padahal banyak elite dan petinggi PDI-P berang dengan manuver Jokowi saat itu.

Ganjar, Bacapres Besutan Jokowi

Terakhir ketika Jokowi mengambil inisiatif meng-endorse Ganjar Pranowo sebagai Bacapres yang lagi-lagi mendahului keputusan Megawati, inipun sempat membuat berang banyak elite PDI-P. Trimedya Pandjaitan saat itu bahkan secara terang-terangan mengatakan bahwa Ganjar tak memiliki prestasi yang layak saat menjabat Gubernur Jateng. Ganjar dinilai sosok yang gagal, namun “Kemlinthi” (congkak) terhadap Partai.

Tapi lagi dan lagi akhirnya Megawati dan jajaran elite PDI-P takluk dihadapan Jokowi. Dan yang paling mencengangkan, setelah PDI-P takluk dan seakan tak berdaya menerima Ganjar sebagai Bacapres karena diendorse Jokowi, ditengah perjalanan menuju waktu pendaftaran Capres di KPU November 2023 mendatang, Jokowi mengisyaratkan “berbelok” dan “nikung” dukungannya kepada Prabowo dengan manuver politiknya yang mendorong Gibran masuk sebagai Cawapres Prabowo.

Ini benar-benar manuver politik paling spektakuler sepanjang sejarah perpolitikan Indonesia. Hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun, pada periode keduanya Jokowi mampu membuat terobosan politik yang menghantarkan 2 anak lelakinya, seorang menantu dan seorang adik iparnya duduk pada posisi jabatan politik penting dan strategis di negeri ini.

Cawe-cawe Jokowi

Jokowi bukan hanya telak “menohok” Megawati dari depan dan belakang, tapi juga sekaligus menjadi “King Maker” dibelakang layar, bukan hanya terhadap partai PDI-P, namun juga bagi sebagian besar partai politik nasional lainnya, lembaga legislatif dan eksekutif sekaligus.

Tangkapan layar Megawati membayangi Jokowi (12/10/2023 ; 22.22 WIB)

8 tahun yang lalu, banyak media dan pengamat politik yang mengatakan Jokowi harus lepas dari bayang-bayang Megawati, bahkan “TIRTO” pada Agustus 2019 masih menuliskan “Bayang-Bayang Megawati di Pemerintahan Jokowi Usai Kongres PDIP”. Namun siapa sangka hanya dalam kurun waktu 4 tahun terakhir saja, justru Megawati-lah yang kini tak bisa lepas dari bayang-bayang Jokowi.

Maka. jika demikian keadaan dan kenyataannya, terminologi apakah yang tepat untuk disandangkan pada Jokowi, kecuali “The Most Powerful King” bagi negeri yang semakin hari semakin terlihat seperti negeri dibawah otoritarian bergincu demokrasi ini.


Artikel di atas di angkat dari tulisan Kak Nazlira Alhabsyi, Judul dan sub judul oleh Redaksi Semut Ibrahim

Baca juga MUSLIHAT LIMPO BERKILAH DARI RASUAH


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca