Refleksi Milad Muhammadiyah ke 113

Assalamu ‘alaikum, wilujeng ahad saudara, bagaimana kabar hari ini, semoga tetap sehat dan selalu dalam lindungan Gusti Allah ta’ala. Mungkin sebuah kebetulan, kajian ahad pagi pimpinan Cabang Muhammadiyah Grabag kali ini membahas tafsir surah As-Syams atau “surat Matahari”. Dimana pada tanggal 18 Nopember 2025, organisasi Muhammadiyah yang berlambang matahari “syahadat” itu tepat berusia 113 tahun.
Dalam awalan kajian, ustadz Khidzir menyampaikan begitu pentingnya peran matahari dalam kehidupan ini, dengannya manusia akan mengetahui perjalanan waktu, dengan matahari pula manusia dan hayat ini diberi tanda-tanda, bahwa tugas matahari yang menyinari bumi dari pagi hingga siang lalu sore itu, adalah sebuah desain indah dari tuhan sebagai waktu untuk kehidupan atau penghidupan, seperti disebutkan dalam dua ayat surat Annaba‘, yang kurang lebih dapat diterjemahkan sebagai berikut, “dan malam dijadikan tuhan sebagai waktu Istirahat. sedang Kami jadikan siang sebagai waktu untuk beraktivitas mencari penghidupan“.
Dan Alhamdulullah ahad ini mentari bersinar cukup kaya dikampung saya, tak seperti hari kemarin terutama dimusim penghujan ini, sang surya tampak malu memperlihatkan wajahnya, kabut dan mendung menutupinya hingga sinarnya tak maksimal terpancar. Dan ahad pagi ini hingga hampir dhuhur Pancaran sinarnya menyapa dengan ramah di kampung saya dan sekitarnya, dengan citra senyum yang menggembirakan. Gembira tersebab anugerah yang luar biasa, sinar “As Syams” itu menghangatkan alam, cahaya darinya sanggup membantu tumbuhan memproduksi makanannya sendiri, cahaya darinya bisa memberi warna buah-buahan dan aneka tumbuhan dengan cat alami dan sedap dipandang, cahaya darinya sanggup menghidangkan dengan jelas hamparan alam yang indah ditangkap oleh mata para insan, cahaya darinya memberikan sinyal kepada manusia untuk senatiasa berikhtiyar dan berusaha menghidup-hidupkan alam.
Berkaitan dengan hal diatas, Jika kita cermati mengapa kemudian ormas Muhammadiyah berlogo matahari bersinar?, saya kira hal itu tak lepas dari cita-cita para pendirinya, Muhammadiyah dalam menjalankan misinya bagaikan sang Matahari, As Syamms ataupun Surya. Berangkat dari semangat Islam, Muhammadiyah tentu memiliki tugas untuk terus berupaya mencerahkan pikiran umat, senantiasa menggembirakan umat dengan menghidupkan Al Qur’an dan Sunnah sebagai penerang hati dan pencerdas nalar, Muhammadiyah akan terus menjalankan misinya mendidik warganya untuk senantiasa istiqomah memperjuangkan kemanusiaan, bahu membahu hidup secara jamaah, erat dan kuat serta tak pecah karena hanya persoalan “politik” dan tak terpisah-pisah karena sekedar kepentingan sesaat.
Seratus tiga belas tahun berarti pahit manis dan suka duka perjalanan telah dilaluinya, prestasi demi prestasi telah diukirnya, aktivitas demi aktivitas besar untuk bangsa dan negara telah tercatat pula. Karya karya besar telah dibangunnya. Namun perlu diingat Dari pengalaman itu semua, Muhammadiyah seyogyanya harus lebih waspada, terutama dengan penilaian dari masyarakat tentang predikat predikat plusnya, sebagai organisasi Islam terkaya, sebagai organisasi paling tertib, sebagai organisasi yang dipelopori para cerdik pandai, organisasi progresif dan maju. Sebab jika tak ada sedikit kewaspadaan, generasi dan kader Muhammadiyah bisa terlena dengan semangat kemajuan hingga lupa akan spirit masa lalu yang sarat nilai nilai yang sedikit banyak mulai terlupakan.
Seratus tiga belas tahun adalah kesempatan baik untuk instropeksi, bermuhasabah dengan kesadaran “mundur ke masa depan” dalam artian bahwa semangat tajdid dan progresif yang kita miliki jangan sekali-kali melupakan “tirakatnya” para pendahulu kita, seperti, tentang semangat “ngaji” sebagai charge gerakan dan penyala obor gerakan, tentang kekuatan “urunan” didikan Kyai Dahlan, tentang kedigdayaan Ikhlas ajaran Gus Muhammad Darwis, tentang kepedulian terhadap “kesengsaraan oemat” warisan dari kyai Soedjak, dan spirit kasih sayangnya terhadap anak yatim pesan dari surat Al-Ma’un, serta tentang gaya hidup sederhana para pendirinya yang jauh dari sikap bermewah-mewah, dan yang tak kalah penting yakni ajaran tentang kedekatan para “masayih” kepada rakyat jelata, dengan “dipeluknya” mereka kedalam hangatnya Islam yang menenteramkan, jauh dari mental “menara gading” yang kadang sangking tingginya tak mampu lagi melihat kondisi terbawah yang perlu uluran tangan dan kepedulian. Dan kejayaan Muhammadiyah tak lepas dari hal-hal diatas.
Akhirnya sugeng Ambal Warso untuk Muhammadiyah ke seratus tiga belas, tetaplah bersinar dan bermanfaat untuk umat. Wallahu a’lam Bishowab. Wassalam.
Oleh : Wildan Sulaiman, Penulis adalah Aktifis Muhammadiyah di PCM Grabag. (Ahad. 16 Nopember 2025)
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.