Oktober 10, 2026

Qorun (Bag #3) : Pamer Kekayaan, Saat Gemerlap Dunia Memikat Hati

Ilustrasi oleh Meta

Oleh : M. Syarif Hidayatullah, S. Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu

Artikel ini melanjutkan artikel sebelumnya Qorun (Bag #2) : Gemerlap Harta vs Bisikan Hati, Saat Nasihat Ditolak

Dari kesombongan yang terucap, kita memasuki babak di mana kesombongan itu dipamerkan secara nyata. Bagian ketiga dari kisah Qarun ini menghadirkan sebuah adegan teatrikal yang menggambarkan dengan sempurna bagaimana kekayaan bisa menjadi ujian bukan hanya bagi pemiliknya, tetapi juga bagi setiap mata yang memandangnya. Ini adalah momen dimana ilusi dan realitas bertabrakan, dan hati manusia diuji dengan pilihan paling fundamental: terpukau pada gemerlap dunia atau terpikat pada pesona keabadian.

Setelah menolak mentah-mentah nasihat bijak kaumnya, Qarun memutuskan untuk membungkam mereka dengan cara yang paling dramatis: sebuah pamer kekuatan dan kemewahan yang spektakuler. Al-Qur’an mengabadikan momen ini dalam firman-Nya:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ

“Maka dia keluar kepada kaumnya dengan (memakai) perhiasannya.” (QS. Al-Qasas: 79)

Kata “zīnatihī” (perhiasannya) dalam tafsir para ulama tidak hanya merujuk pada pakaian mewah yang bertabur emas dan permata, tetapi juga pada seluruh kemegahan yang menyertainya—kereta kuda yang berkilauan, para pengawal dan pelayan yang gagah, serta seluruh simbol status yang ditujukan untuk memperlihatkan keagungan dan kejayaannya. Ia keluar bukan untuk berbagi, tetapi untuk menunjukkan superioritasnya. Ini adalah puncak dari conspicuous consumption—konsumsi yang bertujuan untuk pamer status dan kekuasaan.

Adegan ini bekerja dengan efek yang diinginkan. Terbelahlah respon masyarakat menjadi dua kubu yang kontras, mencerminkan dua kecenderungan abadi dalam jiwa manusia.

قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Alangkah baiknya jika kita mempunyai seperti apa yang diberikan kepada Qarun; sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.'” (QS. Al-Qasas: 79)

Inilah suara hubbud-dunya (cinta dunia) yang murni. Mereka terpesona oleh tampilan luar. Bagi mereka, kesuksesan diukur secara material. Kalimat “Yā layta lanā” (Alangkah baiknya andaikan kita memiliki) mencerminkan rasa iri dan khayalan yang berbahaya. Mereka melihat “keberuntungan” Qarun hanya dari sudut pandang duniawi, tanpa mempertimbangkan beban moral dan risiko akhirat yang menyertainya. Ini adalah perspektif yang dangkal namun sangat manusiawi, sebuah jerat yang dapat dengan mudah menjebak siapa saja.

Namun, di tengah hiruk-pikuk kekaguman itu, berdirilah sekelompok lain dengan pandangan yang sama sekali berbeda. Mereka adalah para pewaris ilmu para nabi, yang melihat di balik tirai gemerlap itu.

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

“Dan orang-orang yang diberi ilmu berkata: ‘Celakalah kamu! Pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.'” (QS. Al-Qasas: 80)

Seruan “Waylakum!” (Celakalah kamu!) bukanlah kutukan, melainkan peringatan yang penuh rasa kasihan dan kepedulian. Ini adalah teriakan hati para pecinta kebenaran yang melihat saudara-saudaranya sedang terhipnotis oleh racun duniawi. Mereka segera meluruskan persepsi: Nilai sejati bukan terletak pada apa yang Qarun miliki, tetapi pada “tsawāb Allāh”—pahala dan ridha Allah yang kekal abadi.

Kata kuncinya ada pada “lā yulaqqāhā illāṣ-ṣābirūn”—pahala itu tidak akan diberikan kecuali kepada orang-orang yang sabar. Sabar di sini memiliki makna yang dalam: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar menjauhi maksiat, dan sabar terhadap godaan dan tipu daya kemewahan dunia. Mereka yang berilmu memahami bahwa kekayaan Qarun sebenarnya adalah ujian berat, bukan anugerah mutlak. Dan lulus dari ujian itu membutuhkan kesabaran yang jauh lebih berharga daripada semua harta Qarun.

Dari sudut pandang psikologis, momen ini menunjukkan social comparison theory dalam bentuknya yang paling primer. Manusia cenderung menilai diri mereka dengan membandingkan dengan orang lain. Qarun memicu perbandingan sosial ini. Kelompok pertama membandingkan dan merasa kurang, sehingga timbul iri hati. Kelompok kedua membandingkan tetapi dengan standar yang berbeda—mereka membandingkan dunia dengan akhirat, dan memilih yang abadi. Mereka memiliki emotional intelligence dan spiritual intelligence yang tinggi, mampu mengelola rasa kagum dan keinginan duniawi dengan bijak.

Renungan untuk kita di era media sosial, di mana pamer kemewahan dan curated life menjadi santapan sehari-hari, amatlah mendalam:

Ke arah manakah pandangan kita tertuju? Apakah kita termasuk dalam kubu yang berdecak kagum dan berharap memiliki kehidupan seperti para selebgram dan influencer yang tampak sempurna? Ataukah kita termasuk dalam kubu yang melihat semua gemerlap itu dengan kewaspadaan, mengingatkan diri sendiri dan orang lain bahwa “tsawāb Allāh” adalah tujuan akhir yang sesungguhnya?

Setiap kali kita scroll timeline dan melihat kemewahan orang lain, Qarun mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apakah ini ujian untuk iri? Atau peringatan untuk tidak terpedaya? Pilihan ada pada kita, dan pilihan itulah yang akan menentukan nasib kita. Wallahu a’lam…

To be continued…

Bagian selanjutnya akan membahas: Azab yang Menghancurkan dan Tenggelamnya Sebuah Keangkuhan.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca