
Qorun Bag #2 : Gemerlap Harta vs Bisikan Hati, Saat Nasihat Ditolak
Oleh : M. Syarif Hidayatullah, S. Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu

Dari kemilau harta yang membutakan, kita melangkah lebih dalam menelusuri lorong jiwa Qarun. Jika bagian pertama memperkenalkan sosoknya yang kontroversial, maka bagian kedua ini menyibak momen-momen kritis dimana suara kebenaran berhadapan dengan tembok kesombongan. Ini adalah babak dimana nasihat yang tulus ditolak, dan ilusi diri dipercaya lebih dari segalanya. Kisahnya menjadi lebih tragis, karena kehancuran seringkali diawali dengan penolakan untuk mendengar.
Setelah menggambarkan kekayaan Qarun yang luar biasa, Al-Qur’an lantas menuturkan respon dari orang-orang di sekitarnya, mereka yang masih memiliki kejernihan hati.
إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
“(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”” (QS. Al-Qasas: 76)
Nasihat ini singkat namun menyentuh akar masalahnya: *”Lā tafrah”* (Janganlah terlalu bangga/bergembira). Ini bukan larangan untuk bersyukur atau merasakan kebahagiaan atas nikmat, tetapi peringatan terhadap jenis kegembiraan yang meluap-luap hingga melampaui batas, yang membuat seseorang lupa diri, lupa dari mana datangnya nikmat itu, dan lupa terhadap hak orang lain di dalamnya. Kaumnya mengingatkannya dengan prinsip ketuhanan yang paling dasar: Allah tidak mencintai kesombongan.
Namun, nasihat itu tidak berhenti di sana. Mereka melanjutkan dengan wejangan yang begitu bijak dan berimbang, sebuah panduan hidup bagi siapa pun yang dikaruniai kelebihan.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77)
Ini adalah masterclass tentang keseimbangan hidup. Mereka mengajaknya untuk:
1. Berorientasi Akhirat: Gunakan harta sebagai kendaraan untuk meraih pahala dan ridha-Nya.
2. Tak Melupakan Dunia: Nikmatilah bagianmu dengan sewajarnya, karena Allah halalkan yang baik.
3. Berbuat Baik: Tiru sifat Allah Al-Karim (Maha Pemberi) dengan menjadi dermawan.
4. Jangan Berbuat Kerusakan: Jangan gunakan hartamu untuk menindas, menyuap, atau merusak tatanan masyarakat.
Sayangnya, bisikan kebijakan ini pecah terhadap benteng keangkuhan Qarun. Ayat berikutnya mencatat jawabannya yang terkenal itu:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي
“Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi (harta itu) karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qasas: 78).
Inilah puncak dari psychological ownership dan self-attribution bias yang ekstrem. Dalam sudut pandang psikologi, Qarun mengalami distorsi kognitif yang parah. Ia mengaitkan kesuksesan sepenuhnya pada faktor internal (kepintaran, keahlian, usahanya sendiri) dan sama sekali mengabaikan faktor eksternal (karunia dan pertolongan Allah). Kalimat ini adalah deklarasi kemandirian sekaligus pengingkaran yang paling fatal. Ia memutus mata rantai syukur dan menggantinya dengan rasa bangga diri yang palsu. Ia melihat dirinya sebagai sumber dari segala pencapaiannya, bukan sebagai perantara yang menerima. Tafsir Ibn Katsir menyebutkan bahwa ia mungkin memang seorang ahli kimia atau ahli manajemen yang pintar, tetapi ia lupa bahwa ilmu itu sendiri adalah anugerah dari Allah.
Renungan bagi kita di zaman yang mendewakan self-made billionaires dan meritocracy absolut amatlah dalam. Sejauh mana kita meyakini bahwa kesuksesan kita murni karena skill dan kerja keras kita? Apakah kita masih menyisakan ruang dalam hati untuk mengakui bahwa kesehatan, kesempatan, lingkungan yang mendukung, dan bahkan kemampuan otak kita untuk berpikir adalah bentuk-bentuk kasih sayang Allah yang mendahului segala usaha kita? Saat kita mendapat promosi jabatan, apakah ucapan pertama kita adalah “Yes, akhirnya hasil kerjaku diakui!” atau “Alhamdulillah, ini karunia-Nya yang harus aku syukuri”?
Qarun mengajarkan kita bahwa nikmat yang tidak disyukuri tidak akan bertambah, justru akan berbalik menjadi ujian yang memberatkan hisab kita. Nasihat dari lingkungan sekitar adalah anugerah kedua dari Allah. Menolak nasihat yang baik sama dengan menutup pintu terakhir untuk menyelamatkan diri sendiri. Sebelum kita menyaksikan akhir yang dramatis dari kisah ini, mari kita bertanya pada diri: Adakah bisikan hati atau nasihat tulus dari orang lain yang selama ini kita abaikan karena merasa paling tahu, paling hebat, dan paling benar? Wallahu a’lam…
To be continued…
Jangan lewatkan bagian sebelumnya Qarun (Bagian #1) : “Sang Megah yang Lupa Daratan”
Bagian selanjutnya (Qorun Bag #3) akan membahas: Pamer Kekayaan yang Memikat dan Dua Reaksi yang Bertolak Belakang.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.