
Semutibrahim.com | Konten kreator sekaligus selebtwit, Nazlira Fardha Alhabsyi menyeratkan suhu politik yang menghangat setelah Surya Paloh (NASDEM) mendeklarasikan pasangan BACAPRES dan BAWAPRES PEMILU 2024 yang akan datang, dimana Cak Imin (PKB) di kerek naik mendampingi Anies Baswedan, sementara AHY (DEMOKRAT) di tinggalkan, meskipun Anies Baswedan pernah bersurat pribadi dengan tulisan tangannya kepada AHY yang berbunyi:
Pesan Singkat Anies Untuk AHY
Mas AHY yth,
Semoga dlm keadaan sehat, tetap produktif dan selalu dlm kesehatannya.
Melalui pesan singkat ini, kami bermaksud menyampaikan harapan, agar Mas AHY berkenan utk menjadi pasangan dalam mengikuti pilpres 2024.
Teriring salam hormat
Anies Baswedan

Tangkapan layar surat berupa pesan singkat dengan tulisan tangan yang banyak beredar di ruang maya tersebut pun banyak menuai tanggapan warga net dengan berbagai macam penilaian, ada yang menilai Anies menghianati AHY, dus Paloh (NASDEM) nir adab karena meninggalkan PKS dan Demokrat rekan koalisinya. Namun ada juga yang menilai Paloh piawai dalam berstrategi untuk menarik suara Nahdliyyin, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Kak Naz (Nazlira-red) menanggapi gejolak ini dalam tulisannya yang bertajuk PESAN KAKAK PKS UNTUK ADIK DEMOKRAT dengan bahasa yang lugas berusaha menterjemahkan makna dari sikap PKS kepada DEMOKRAT khususnya AHY.
Berikut tulisannya yang di rilis Kolom Media Semut Ibrahim. Cekidot.
PKS, Partai Politik Matang
Pesan Sekjen PKS (Aboe Bakar Al Habsyi-red) untuk AHY ini terkesan singkat dan normatif, padahal maknanya dalam dan bagus sekali. Ini sebuah pesan yang memuat esensi persahabatan yang tulus, dari seorang kakak pada adik juniornya.
Memang tak bisa dipungkiri, secara organisasi, PKS sangat jelas terlihat memiliki kemapanan menata peran dan fungsi para kader-kadernya, gugus tupoksinya terarah dan terkordinasi dengan sangat elegan.
Di PKS, siapa yang harus bicara apa, semuanya jelas dan terkondisi dengan baik. Tidak ada yang berjalan sendiri-sendiri dan bicara sesuai isi kepala masing-masing adalah cermin politisi dan kader-kader yang matang serta dewasa dalam berpolitik, karena ditempa dari militansi akar rumput, bukan “top to buttom”, mewarisi previlage elite dan founding father partai.
Pesan Kakanda Untuk Adinda
Pesan yang elok dan santun dari Sekjen PKS kepada AHY ibarat bahasa langit. Jika pesan itu dibedah, diurai dan diterjemahkan dalam bahasa membumi, maka pretelannya kira-kira mungkin begini:
“Wahai (Adinda-red) AHY, tenang dan sabarlah dalam menghadapi situasi ini. Jangan gelap mata dan gegabah dalam mengambil keputusan politik. Sadarlah, bahwa Partai Demokrat akan menghadapi blundernya sendiri jika memutuskan keluar dari koalisi Perubahan dibawah pengaruh ego dan emosional sesaat.”
“Jika kau mendatangi koalisi PDIP akan sangat memukul mental dan kehormatan Pak SBY serta Partai Demokrat. Karena masuknya Partai Demokrat dalam koalisi PDIP akan dipandang sebagai kontra produktif bagi elektabilitas partai PDIP dan koalisinya, memantik kegaduhan akibat resistensi ditingkat elit kader partai dan mitra koalisi yang berujung membebani PDIP dan koalisinya dengan banyak problematika politik. Jangankan berharap jatah Wapres disana, karena jatah menteri pun mimpinya sulit dalam koalisi bersama PDIP”.
“Mendatangi koalisi Partai Gerindra juga hanya akan memicu penolakan mitra koalisi Gerindra yang sudah guyub. Sekalipun SBY mampu mendekati dan melobi Prabowo, dapat dipastikan Airlangga, Zulhas dan Mardiono akan saling injak kaki dan kedipan mata, jatah kursi Menteri siapa yang rela dikurangi untuk diberikan pada Demokrat..? Jangan mimpi kursi Cawapres di koalisi ini, karena investasi Erick Tohir sudah bikin rusak empat kalkulator, tak mungkin isi dompet SBY mampu mengunggulinya, andai pun dompet SBY cukup tebal, tetap saja sulit mengatasi hambatan bakhil.”
“Partai Demokrat juga tidak mungkin menjadi Partai Bujangan (Jomblo-red) yang mampu berjalan sendiri tanpa pasangan koalisi, butuh kemampuan lebih dan pengalaman panjang untuk mengarungi Samudera Politik Indonesia yang ombaknya seringkali ganas dan tidak stabil. Jadi, wahai Adinda AHY, cepatlah segera kembali sebelum semakin jauh meninggalkan Koalisi Perubahan, karena dikhawatirkan bila melangkah terlalu jauh, akhirnya tersesat dan lupa jalan pulang.”
“Rumah besar Koalisi Perubahan adalah keluarga kita. Anggap saja Surya Paloh seorang Ayah yang menjengkelkan dan kurang dapat memahami keinginan AHY, tapi kan ada Akhmad Syaikhu yang bisa saja dianggap sebagai Kakak Tertua tempat mengadu dan PKS yang telah terbukti selalu dapat memahami dan mendukung Partai Demokrat sejak 15 tahun yang lalu. Apalagi sekarang ada PKB yang juga bisa dianggap sebagai saudara tua angkat, yang siap membimbing dan berbagi pengalaman pada AHY agar siap menjadi Presiden pada Pilpres 2034 mendatang.”
“Kembalilah AHY, kami di Koalisi Perubahan sudah sangat merindukanmu…”
Begitulah kira-kira tafsir pesan Kakak PKS tersebut, bisa salah bisa juga bener, yang penting tetap sabar, jaga persatuan, tegar dan tidak baper.
Baca juga opini cerdas lain dari Kak Naz tentang Bajingan Tolol, Rocky Memantik Kesadaran, bisa di baca di sini.
Salam Hangat – Semut Ibrahim
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.