
Inpres No 16 Tahun 1998, Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional (KOPKKN)
Pembaca yang Budiman, sebelum melanjutkan membaca artikel di bawah, pastikan pembaca telah membaca artikel sebelumnya “KRONIK ’98: ABRI DALAM PUSARAN POLITIK (Bag 1)“
Pembentukan Kopkamtib mengisyaratkan penerapan darurat militer, eksesnya akan mempengaruhi investor asing. Menganggap bahwa situasi keamanan di Indonesia sedang tidak stabil dan beresiko bagi investasi.
Sebagai jalan tengah maka dibentuklah Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional (KOPKKN) dengan ditunjuknya Pangab selaku Panglima KOPKKN melalui Inpres No 16 Tahun 1998, sedangkan KSAD diangkat sebagai Panglima.
Terbitnya Inpres no 16 Tahun 1998 sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki Presiden, sesuai Tap MPR No V/MPR/1998. Itu artinya Presiden mempercayakan sepenuhnya masalah-masalah keamanan dan ketertiban kepada ABRI. Masalah-masalah tersebut harus segera dikendalikan untuk menjamin agar semua perencanaan politik, sosial, ekonomi dan budaya dapat berjalan.
Wiranto Tidak Laksanakan Perintah Presiden
Namun setelah diangkat sebagai Panglima KOPKKN, Jenderal Wiranto tidak melaksanakan perintah tersebut. Wiranto tidak mengkonsolidasikan seluruh kekuatan ABRI ataupun memimpin jajarannya untuk menjamin keamanan dan ketertiban. Perintah dari Presiden Soeharto selaku pimpinan tertinggi ABRI tidak dilaksanakan oleh Wiranto.
Menurut disiplin kemiliteran, seharusnya jika Wiranto menolak perintah dari Pimpinan tertinggi maka dia harus segera mengundurkan diri, tapi hal itu tak juga dilakukan.
Akhirnya Presiden Soeharto yang mulai tidak puas dengan kinerja Wiranto, menawarkan jabatan Panglima KOPKKN kepada Jenderal Subagyo HS, jawabannya juga tidak memuaskan.
Kedua Jenderal tersebut mengutarakan kekhawatiran yang sama, alasannya tidak ingin membenturkan ABRI dengan Rakyat demi mencegah bertambahnya korban jiwa. Itu alasan mereka.
Dalih menghindari pelanggaran HAM dijadikan narasi untuk melegitimasi pembangkangan atas perintah, suatu hal yang paling hina dalam diri seorang prajurit. Entah ada apa sebenarnya dengan keduanya. Faktanya mereka sudah menolak perintah Presiden Soeharto, artinya pembangkangan.!
Alasan Wiranto dan Subagyo secara militer tak bisa diterima sama sekali, jatuhnya korban jiwa tetap bisa dihindari jika pelaksanaan tugas dikerjakan dengan teratur maka akan mendatangkan hasil yang baik.
Tanggal 18 Mei 1998, ribuan massa Mahasiswa berhasil menjebol gerbang dan menduduki gedung DPR MPR untuk melakukan tekanan-tekanan terhadap MPR. Padahal saat itu penjagaan ketat dilakukan oleh ABRI, dan bila ABRI memiliki tekad untuk mencegah seorangpun masuk, kejadian ini tidak akan terjadi. Indikasi adanya pembiaran semakin kental, mengisyaratkan bahwa petinggi ABRI tidak loyal terhadap Presiden Soeharto.
Merasa mendapat dukungan dari ABRI, Harmoko selaku ketua MPR yang selama ini dikenal sebagai pendukung Presiden Soeharto mendadak putar haluan. Harmoko memilih menuruti tekanan dari Mahasiswa dengan menyerukan agar Presiden Soeharto mengundurkan diri.
Dalam momen tersebut ada pula Amien Rais yang ikutan pansos dengan mengultimatum Presiden Soeharto agar mengundurkan diri atau dia akan memimpin Mahasiswa untuk mengepung Istana Negara pada tanggal 20 Mei 1998, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.
Para Sengkuni itu berkolaborasi untuk memprovokasi massa, mengira bahwa dengan cara seperti itu mereka bisa mendapatkan kebahagiaan di masa mendatang. Namun kenyataan di kemudian hari, mereka justru makin terperosok dalam lumpur kehinaan.
Melihat perkembangan situasi yang dapat mengarah pada konflik horizontal yang semakin membahayakan keselamatan Bangsa dan Negara, maka pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto menyatakan pengunduran dirinya.
Para Sengkuni bertampik sorak Sorai, merasa bahwa mereka sudah siap untuk mengambil alih jabatan sebagai Presiden Indonesia. Namun di situ masih ada Habibie, sosok yang jenius namun dapat menghalangi ambisi mereka. Untuk itu perlu ada upaya untuk menjatuhkan Habibie. Bagaimana caranya mereka menjatuhkan Habibie..??
Lantas dimana Letjen Prabowo Subianto saat mertuanya dikhianati oleh para pembantunya..??
Akan segera terjawab pada artikel berikutnya dalam tajuk “KRONIK ’98 : KABUT ANGKARA DI IBUKOTA“
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
1 thought on “KRONIK ’98: ABRI DALAM PUSARAN POLITIK (Bag 2)”