
Lantas dimana Letjen Prabowo Subianto saat mertuanya dikhianati oleh para pembantunya..?? Pertanyaan yang menggantung di artikel sebelumnya “KRONIK ’98: ABRI DALAM PUSARAN POLITIK (Bag 2)“
Ikuti terus agar pembaca yang Budiman menemukan jawabannya.
Pecah Kerusuhan di Jakarta
Kepulan asap masih mengepul dari sisa-sisa reruntuhan bangunan yang habis terbakar, menandakan bara yang belum padam sepenuhnya. Pemandangan itu kini terlihat tak asing lagi di pinggiran ibukota, tak hanya melukiskan peristiwa memilukan yang baru saja terjadi, namun juga menyiratkan sebuah ancaman yang masih mengintai negeri ini.
Beberapa titik di pinggiran ibukota masih terlihat sekumpulan orang yang mencoba melakukan penjarahan, meskipun status darurat sipil sudah ditetapkan.
Sementara di bilangan Jalan Cendana, Presiden Soeharto terdiam mencerna berbagai data tentang perkembangan situasi ibukota. Tak terasa air mata menetes di pipinya, melihat negri yang amat dicintainya tengah berada di ambang bahaya.
Menimbang dengan cermat beberapa kemungkinan yang akan terjadi, dan segala perkembangan situasi yang harus segera diantisipasi. Mencari solusi agar kemelut ini segera berhenti, mencari titik temu yang bisa disepakati oleh seluruh elemen bangsa ini.
Tak ingin bangsa ini terperosok pada konflik politik yang berkepanjangan, setelah 32 tahun mencapai keberhasilan pembangunan. Mencegah pertumpahan darah antar sesama anak bangsa, yang bisa timbul akibat perang saudara.
16 Mei 1998, Presiden Soeharto memanggil para pimpinan teras ABRI guna memastikan loyalitas dari para pembantunya. Perintah pengamanan diberikan, namun ternyata tidak pernah dilaksanakan. Bukti bahwa pimpinan ABRI terlibat dalam kekacauan ini tak lagi terbantahkan, bahkan terlihat indikasi merekalah tangan yang secara sembunyi-sembunyi mengobarkan kekacauan.
Operasi Cipta Kondisi
Jika dirunut dari beberapa jam sebelum pecahnya kerusuhan, dimana aktivitas masyarakat ibukota yang awalnya berjalan normal mendadak berubah menjadi mencekam setelah perusahaan operator angkutan umum dipaksa untuk menarik armadanya kembali ke poolnya. Masyarakat ibukota yang tengah bekerja tiba-tiba dipulangkan secara mendadak, sementara tak ada angkutan umum lagi yang tersedia.
Perkembangan situasi itu jelas menandakan bahwa sedang adanya gerakan sistematis yang sedang berjalan, operasi cipta kondisi tak lagi bisa terbantahkan. Hanya ada dua kekuatan yang bisa memaksa perkantoran memulangkan karyawan, juga menekan perusahaan angkutan untuk menghentikan layanan, yakni para taipan dan pimpinan militer yang memiliki kewenangan tanpa batasan.
Duet antara taipan dan pimpinan militer dalam menciptakan kerusuhan tak lagi bisa dibantahkan, karena hanya mereka yang memiliki kendali atas operasional perkantoran serta wewenang untuk menghentikan layanan angkutan dengan dalih kedaruratan.
Sebagai seorang Jenderal Besar TNI dengan segudang pengalaman, tak sulit bagi Presiden Soeharto untuk melihat fakta di lapangan serta mengambil kesimpulan. Naluri militer beliau yang terasah tajam tak lagi bisa diragukan, terjadinya pembangkangan atas perintah pengamanan dan pemulihan keamanan adalah indikasi kuat bahwa para pimpinan ABRI kala itu telah melakukan pengkhianatan.
Tak mungkin lagi bagi Presiden Soeharto berharap pada orang-orang yang tak bisa diandalkan, di sisi lain langkah-langkah strategis harus segera dilakukan untuk mencegah meluasnya kerusuhan yang dapat memicu konflik berkepanjangan.
Ada beberapa pilihan:
1. Merombak kabinet secara besar-besaran dengan menempatkan loyalisnya pada jabatan penting yang dinilai mampu menjalankan operasi pemulihan keamanan dan ketertiban,
2. Melakukan negosiasi politik dengan pimpinan militer yang sudah jelas melakukan pembangkangan.
3. Mengundurkan diri dan merelakan setiap pencapaian pembangunan runtuh secara perlahan.
Jika opsi pertama diambil, maka hal yang mungkin untuk dilakukan oleh Presiden Soeharto adalah dengan mengkonsolidasikan seluruh loyalisnya untuk mempertahankan kekuasaan. Pangab Wiranto dicopot dan digantikan oleh Prabowo Subianto selaku menantunya, lalu memberikan kewenangan penuh untuk melakukan tindakan. Resikonya bisa terjadi perang saudara antara pasukan kubu Wiranto VS Prabowo.
Sahabat, pembaca yang Budiman, kita akan akan menukik semakin dalam menyelami “KRONIK ’98”, selanjutnya nantikan dalam tajuk “KRONIK ’98: PRABOWO DIANTARA MANUVER WIRANTO (Bag 1)”.
Salam Indonesia Raya
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
1 thought on “KRONIK ’98: KABUT ANGKARA DI IBUKOTA”