Oktober 9, 2026

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi

Di tangan pemimpin yang tercerahkan (cerdas dan bijaksana) hal yang rumit menjadi sederhana, di tangan pemimpin yang tergelapkan (goblok dan grusa grusu) hal yang sederhana menjadi ruwet.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan dirinya merasa “diserang” terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam Sidang Kabinet Paripurna di lingkungan Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, 20 Juli 2026.

Para pakar spontan tersenyum sinis “Presiden diserang oleh siapa”. Saat para pakar melepas kritiknya agar presiden sedikit cerdas ,  bahwa program-program yang di banggakan yang menguras ratusan triliun uang negara hanyalah proyek politik yang penikmat terbesarnya adalah para perampok uang negara.

Presiden  menggeser kritik para pakar urusan kebijakan publik menjadi urusan pribadi.  Presiden jangan memanipulasi memberi makan gratis karena presiden tidak mengeluarkan serupiah pun uang pribadi presiden untuk program MBG.

Para analis ekonomi bahwa program MBG menggunakan uang pajak (APBN) rakyat, mereka membayar pajak dan menyerahkan sebagian penghasilan kami agar negara ini dikelola dengan baik, bukan dengan perasaan sentimentil seorang politisi yang merasa diri serba-benar dan hebat.

Rakyat minta hentikan program MBG, karena program itu berantakan dijalankan menjadi ladang korupsi.

Berhentilah beracting seolah-olah menjadi martir yang dikorbankan demi isi perut para koruptor. Rakyat membayar pajak bukan untuk membiayai sandiwara amatiran  dengan cerita berapi api, tengok kanan – kiri “saya – saya – saya sedang diserang”

Presiden menggunakan trik yang amat buruk mengalihkan perhatian kebocoran triliunan rupiah dari berbagai sumber keuangan akibat under-invoicing.

Koruptor beramai ramai menjarah uang APBN, para pakar dan rakyat harus diam. Carut-marut tata kelola, vendor-vendor “titipan” bergentayangan di program MBG, dan tempat lain maling bergentayangan, rakyat dilarang protes.

Hentikan action mentalitas menjadi korban, rakyat hanya sedang menagih struk belanja dari uang yang  diambil dari keringat keja keras kami, menjadi jarahan para koruptor.

Tidak usah teriak-teriak saya – saya – saya – ini itu – itu ini,  tidak usah lebay, tidak perlu bersandiwara, saya di serang oleh para pakar yang dianggap goblok.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca