Oktober 9, 2026

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ،

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لاَ تَغْضَبْ (رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berilah aku nasihat.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau marah.” Diapun mengulanginya beberapa kali, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau marah.” (HR. Al Bukhari).

Ilustrasi oleh AI

Dalam Islam, marah (ghadab) adalah emosi dasar yang bisa menjadi penyakit jika tidak dikelola, berasal dari setan (api) dan bisa dipadamkan dengan air (wudhu), tetapi boleh jika karena Allah (membela agama), bukan karena hawa nafsu pribadi, dan harus dikendalikan agar tidak merusak, misalnya dengan mengingat Allah, istighfar, berwudhu, diam, atau mengubah posisi, karena marah yang tak terkendali bisa menjauhkan dari syurga.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لاَ تَغْضَبْ (رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berilah aku nasihat.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau marah.” Diapun mengulanginya beberapa kali, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau marah.” (HR. Al Bukhari).

Hadits Arba’in ke 16 memiliki pesan singkat dimana Rasulullah SAW bersabda kepada seorang sahabat yang meminta nasihat: “La tahgdhab” jangan marah dan beliau mengulangnya beberapa kali. Hal ini menunjukan bahwa menahan amarah adalah hal yang penting dalam pembentukan akhlak seorang muslim.

Refleksi dari hadits ini mengajarkan kita bahwa marah adalah sifat manusiawi, tetapi  Islam membimbing umatnya untuk mengendalikan dan tidak menurutkan amarahnya. Amarah yang tidak terkendali seringkali menjadi sumber dosa seperti kebencian, permusuhan dan pertengkaran bahkan menjadi kerusakan hubungan sosial. Dengan menahan amarah kita mampu berfikir lebih jernih, bersikap adil, da terhindar dari penyesalan.

Untuk menanggulangi amarah dalam Islam, lakukan perubahan fisik (diam, duduk/berbaring, wudhu, salat sunah), ucapkan ta’awudz (A’udzu billah minasy syaithanir rajim) dan istighfar, serta meneladani kesabaran Nabi Muhammad SAW dengan merenungkan dampak buruk amarah dan memperbanyak mengingat Allah SWT agar hati lebih tenang dan terhindar dari godaan setan yang memicu amarah.

Hadits ini juga menanamkan nilai-nilai  kesabaran dan pemaaf sebagai ciri orang beriman. Menahan amarah bukan berarti lemah akan tetapi tanda kekuatan jiwa dan kedewasaan iman. Orang yang mampu menguasai emosinya akan lebih dekat menahan ketenangan hati dan ridha Allah. Sabar menahan amarah dalam Islam adalah kekuatan sejati (bukan fisik) yang melibatkan pengendalian diri dari perkataan dan perbuatan buruk saat emosi, mencerminkan keimanan, dan mendatangkan ketenangan serta pahala besar dari Allah SWT.

Konsep Sabar dalam Menahan Amarah

Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dan menahan amarahnya. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari no. 6114 dan Imam Muslim no. 2609.

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Artinya:
“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”

Pada hadits di atas Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya, bukan yang pandai bergulat, bukan yang jago berkelahi.

Pengendalian Diri dan Iman

Kemampuan seseorang dalam memanaje amarah menunjukkan kemampuan kontrol diri terhadap hawa nafsu dan merupakan cerminan iman yang kuat sehingga mampu mencegah perpecahan dan konflik, serta menciptakan hidup yang lebih damai dan harmonis.

Dalam realitas kehidupan, amarah sering muncul ketika harapan tidak sesuai kenyataan, saat kita merasa dirugikan, diremehkan bahkan tidak dihargai, sebagai manusia kita pasti akan meluapkan emosi. Namun, ketika kita meluapkan amarah masalah justru semakin rumit. Karna itu Islam mengajarkan menahan amarah agar seseorang mampu mengendalikan diri sebelum situasi memburuk.

Larangan marah juga bertujuan melindungi diri sendiri. Banyak penyesalan muncul bukan karena peristiwa awal, tetapi karena reaksi marah yang berlebihan, seperti ucapan kasar atau tindakan yang menyakiti orang lain. Dengan menahan marah, seseorang terhindar dari rasa bersalah dan konflik berkepanjangan.

Dalam kehidupan sehari-hari, refleksi hadits ini dapat di wujudkan dengan cara berfikir dahulu sebelum bertindak, beristighfar saat emosi untuk menenangkan diri, serta memilih sikap diam dan sabar ketika menghadapi situasi yang memancing amarah. Dengan mengamalkan hadits arba’in ke-16 ini, sebagai seorang muslim kita dapat membangun akhalak mulia, menjaga hubungan antar sesama dan menguatkan keimanan.

Disarikan dari meteri kuliah subuh oleh Ustadz Mapriansyah, SS di Masjid-Mu Jami’atul Hasanah, 06/09/2026.
Editor: Akas Syafira


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca