Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Suherman

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur dan program-program ambisius pemerintah, terdapat sebuah ironi yang menyakitkan.

Kita disuguhkan angka-angka anggaran yang terdengar fantastis : triliunan rupiah untuk koperasi desa, puluhan triliun untuk pengadaan kendaraan dinas, hingga ratusan triliun untuk mendirikan universitas-universitas baru. Di atas kertas, negara tampak begitu “mampu”.

Namun, di balik gemerlap angka tersebut, terselip realitas pahit yang menampar wajah pendidikan kita : negara seolah kehilangan daya beli untuk hal-hal paling mendasar.

Bagaimana mungkin negara sanggup menggelontorkan 1,8 triliun hanya untuk kipas angin, atau mengalokasikan operasional harian senilai 1 triliun untuk ribuan SPPG, namun tiba-tiba menjadi “miskin” ketika dihadapkan pada penghapusan pajak buku? Bagaimana mungkin anggaran ratusan triliun tersedia untuk membangun gedung-gedung kampus megah, namun perpustakaan-perpustakaan sekolah di pelosok masih kosong melompong dan guru-guru honorer masih harus berjuang memenuhi kebutuhan pokok dengan gaji yang tak layak?

Ini bukan sekadar masalah alokasi dana, melainkan krisis prioritas. Pembangunan fisik, gedung, kendaraan, mesin, memang mudah dihitung dan dilihat mata. Ia memberikan ilusi kemajuan yang instan. Sebaliknya, investasi pada “perangkat lunak” peradaban seperti literasi, kesejahteraan guru, dan akses pengetahuan, adalah proses yang sunyi, lambat, dan tak selalu terlihat dalam foto-foto peresmian. Namun, justru di situlah letak fondasi sejati sebuah bangsa.

Negara yang mengklaim mampu membiayai segala macam proyek raksasa, sejatinya tidak sedang mengalami kekurangan uang.

Yang ia alami adalah kekurangan visi. Ketika pajak buku masih dibebankan kepada rakyat yang ingin belajar, itu adalah simbol bahwa negara belum sepenuhnya menempatkan ilmu pengetahuan sebagai hak asasi, melainkan masih menganggapnya sebagai komoditas dagang. Ketika guru, pahlawan yang membentuk karakter generasi penerus dibiarkan hidup dalam ketidakpastian ekonomi, maka kita sedang merusak masa depan dari akarnya.

Mendirikan universitas baru tanpa memperbaiki kualitas pendidikan dasar dan menengah ibarat membangun atap rumah tanpa fondasi. Gedung boleh berdiri kokoh, namun isinya akan rapuh. Kualitas pendidikan tidak diukur dari seberapa tinggi bangunan kampusnya, melainkan dari seberapa dalam pemahaman siswanya, seberapa sejahtera gurunya, dan seberapa mudah akses bukunya.

Sudah saatnya kita berhenti terhipnotis oleh angka-angka anggaran yang memabukkan. Kemakmuran sebuah bangsa tidak ditentukan oleh berapa banyak truk atau mobil dinas yang dimilikinya, tetapi oleh seberapa cerdas, kritis, dan berdaya saing manusianya. Jika negara benar-benar “mampu”, buktikanlah dengan menghapus pajak buku, menggaji guru dengan mulia, dan memastikan setiap anak Indonesia memiliki akses setara terhadap ilmu pengetahuan. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa triliun uang yang dihabiskan untuk kipas angin, tetapi akan mengingat apakah generasi ini dibiarkan bodoh atau diberdayakan untuk maju.

09.23/28 Juli 2026


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca