
Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi
Muara kekacauan di Indonesia tetap berada di hulu yaitu perubahan UUD 45 secara total menjadi UUD 2002. Akibat fatal negara berjalan tanpa kompas, bahkan kedaulatan negara di korbankan. Negara dalam kendali oligarki dan kekuatan asing lainnya.
Memaknai kedaulatan adalah menjaga agar kekuasaan tertinggi, kehendak politik, dan martabat bangsa tetap berada di tangan sendiri, bukan di bawah tekanan pihak lain. Ini berarti melindungi kemerdekaan politik, wilayah, ekonomi, dan dasar konstitusionalnya.
Setiap bangsa memiliki mimpi untuk menjadi maju, kreatif, dan berdaya saing. Namun mimpi itu tidak akan pernah tercapai jika politik yang mengatur kehidupan bersama justru menjadi mesin yang melemahkan nalar. Indonesia terjebak politik yang sibuk mengurus kekuasaan, bukan untuk mencerdaskan kualitas dan kesejahteraan rakyatnya.
Kekuasaan menghalangi lahirnya pikiran kritis, berpikir jernih, kritik kecerdasan rakyat dipangkas pelan-pelan. Politik dibangun di atas emosi, mereka hanya diajak bereaksi dan bertengkar setiap hari.
Era digital mestinya membawa harapan informasi menjadi lebih mudah diakses, diskusi lebih terbuka, yang terjadi justru industri buzzer tumbuh subur memproduksi pertengkaran kebisingan politik sebagai pentas konflik, bukan ruang gagasan.
Politik akhirnya terjerembab menjadi tontonan bukan pembelajaran, hanya memanjakan emosi. Proses politik hanya melahirkan pengikut, bukan pemikir untuk kemajuan bangsa.
Jika politiknya, reaktif, manipulatif, penuh distraksi, anti kritik, maka masyarakatnya juga akan tumbuh dalam ekosistem kebodohan dan ketololan sosial. Sosiologi modern menyebut kondisi ini sebagai political exhaustion kelelahan politik. Ketika masyarakat terlalu sering disuguhi konflik, drama, pencitraan, kebohongan, manipulasi dan kekacauan, layaknya negara bar – bar. Setiap hari hanya dipertontonkan badut – badut politik berdasi yang menjijikan. Tidak ada ruang otak rakyat untuk menganalisis hal penting.
Dalam kondisi kelelahan politik yang memuakkan dan menjenuhkan, ada dua kemungkinan yang akan terjadi : “Rakyat marah berubah menjadi gerakan masa rakyat akan menerjang rezim atau memilih menyerah, apatis, pasrah dan berhenti berpikir”.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.