Oktober 9, 2026

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi, 10/06/2026

Secara alami tercatat dalam sejarahnya, mahasiswa memegang peran sentral sebagai agen perubahan (agent of change), pilar masa depan bangsa (iron stock), dan pengontrol sosial (social control). Melalui pemikiran kritis, semangat muda, dan penguasaan ilmu pengetahuan, mahasiswa menjadi motor penggerak utama dalam kemajuan dan pembaharuan negara.

Awalnya berada di posisi agak tenang, mengamati rupiah terus terpuruk sesuai nalurinya terpanggil untuk bersikap mengultimatum pemerintah dalam 18 hari ini 09/06/ harus bisa mengendalikan rupiah yang terus melemah dengan segala dampaknya.

Nilai tukar rupiah sudah terperosok hingga menyentuh angka Rp 18.000 per dolar AS. dan masih terus melemah. Pemerintah menganggap remeh dan berkelakar.

Pemikir kritis dan kepekaan mahasiswa menyerap semua perkembangan dan kejadian negatif yang terus berkembang. Mengerti dan memahami Presiden Prabowo Subianto sedang membawa Indonesia ke jalan yang beresiko.

Referensi dari W. Timothy Coombs (1999) mengatakan bahwa “Sebuah negara yang sedang menghadapi krisis harus mendasarkan strateginya pada pemenuhan kebutuhan emosional publik”.

Presiden sepertinya memilih diminish strategy, ingin meminimalkan dampak tetapi menganggap remeh masalahnya. Fakta yang terjadi mismatch ketidak sesuaian yang fatal antara retorika elite dengan realitasnya, maka yang akan terjadi bukan simpati rakyat justru rakyat menjadi antipati kepada penguasa negara.

Sangat jelas krisis rupiah terus melemah itu terjadi akibat kegagalan pemerintah sendiri dalam mengelola nadi finansial negara. Mahasiswa mengetahui rakyat terus menerus menjadi objek pembodohan dibuat tidak berdaya dari realitas hantaman imported inflation (inflasi barang impor) itu nyata langsung menggerus daya beli masyarakat pedesaan. Di titik inilah komunikasi Presiden gagal total, tetapi tetap membela diri dengan kesombongan.

Pemerintah selalu menggunakan excuse strategy (strategi pembenaran), bahkan merespon dengan kelakar bahkan terkesan sebagai “hiburan”. Rakyat balik merespon dengan sinis, nada negatif dan melawan dengan bermacam macam simbol sarkasme. Mahasiswa tidak lagi membutuhkan retorika pejabat dengan kesulitan hidup rakyat yang makin terjepit apalagi dalam keseharian terlalu fulgar dipertontonkan jarak yang melebar antara hidup mewah para pejabat penguasa dengan hidup miskin rakyatnya.

Penguasa sudah tidak memiliki kepekaan lagi terhadap denyut nadi rakyat yang nafasnya semakin tersengal. Menghadapi preventable crisis rezim nanar dengan sikap defensif, reaksioner, atau menyerang balik melalui berbagai media, bahwa gerakan aktifis sebagai “antek asing yang antipati kemajuan” adalah sebuah blunder.

Reputasi rezim dipertaruhkan atas kesalahan yang dibuat sendiri, strategi terbaik mestinya bersifat  akomodatif : menerima kritik dengan kepala dingin, menunjukkan transparansi kesalahan dalam pengelolaan risiko fiskal.Ketika rezim terkesan tetap meremehkan fluktuasi mata uang dan di saat yang sama rakyat terus memburuk, ketidakpastian (uncertainty) membayangi kehidupan yang semakin sulit.

Mahasiswa mengeluarkan ultimatum 18 hari sejak hari ini 09/06 presiden bisa fluktuasi mata uang yang terus melemah atau tidak. Kalau tetap pongah, tidak mengakui adanya kegagalan dalam mengelola nadi finansial negara sama artinya memperbesar api krisis, maka reformasi jilid II adalah resiko yang harus terjadi, akan sulit untuk dipadamkan.

Lebih berbahaya kalau akumulasi kebencian dan kemarahan terus membesar dipastikan akan menjadi potensi api perlawanan untuk menurunkan presiden dari kekuasaannya karena dianggap tidak becus dan realitas komunikasi Presiden yang gagal total.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca