Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Suherman

Di setiap lembar sejarah bangsa, rakyat selalu menjadi barisan paling depan ketika negara berada dalam ancaman. Mereka rela kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa demi mempertahankan tanah air. Dari perang kemerdekaan hingga berbagai krisis nasional, rakyat kecil selalu hadir dengan pengorbanan nyata.

Namun pertanyaannya sederhana sekaligus menyakitkan : apakah para pejabat juga rela mati untuk negara?Jawabannya sering kali membuat publik kecewa: sebagian besar tidak.

Rakyat memahami bahwa mencintai negara bukan hanya soal pidato dan upacara, melainkan keberanian berkorban. Petani rela sawahnya menjadi medan perang. Buruh tetap bekerja di tengah ekonomi sulit. Prajurit mempertaruhkan nyawa di perbatasan. Bahkan rakyat miskin tetap membayar pajak meski hidup pas-pasan. Mereka tidak pernah bertanya, “apa untungnya untuk saya?” karena yang mereka pikirkan adalah keberlangsungan negara.

Sebaliknya, banyak pejabat justru terlihat menjadikan negara sebagai alat mempertahankan kekuasaan dan fasilitas. Ketika rakyat diminta hemat, sebagian elite hidup mewah. Ketika rakyat diminta bersabar, korupsi justru terus bermunculan. Ketika rakyat diminta nasionalis, uang negara malah dibocorkan melalui proyek bermasalah, mark-up, dan permainan anggaran.Inilah ironi besar republik ini: rakyat sering diminta berkorban atas nama negara, tetapi pejabat terlalu sering berkorban demi jabatan.

Pejabat hari ini tidak lagi diuji di medan perang, melainkan diuji oleh integritas. Rela mati untuk negara di era modern bukan berarti harus memegang senjata di garis depan. Bentuknya bisa berupa keberanian melawan korupsi, menolak suap, mengambil keputusan sulit demi kepentingan rakyat, hingga bersedia kehilangan jabatan demi mempertahankan kebenaran. Namun justru di titik itu banyak yang gagal.

Korupsi menunjukkan bahwa sebagian elite lebih takut kehilangan kenyamanan dibanding kehilangan masa depan bangsa. Mereka ingin dihormati sebagai pemimpin, tetapi enggan menanggung risiko sebagai pelayan negara. Padahal jabatan publik sejatinya adalah amanah pengorbanan, bukan tiket menikmati privilege tanpa batas.

Rakyat sebenarnya tidak menuntut pejabat menjadi pahlawan sempurna. Rakyat hanya ingin melihat keteladanan. Jika rakyat diminta disiplin, pejabat harus lebih disiplin. Jika rakyat diminta loyal kepada negara, pejabat harus lebih dulu menunjukkan loyalitasnya dengan kejujuran dan pengabdian.

Negara tidak akan runtuh karena rakyat kekurangan semangat berkorban. Negara runtuh ketika elite kehilangan rasa malu dan menjadikan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri sendiri.

Karena itu, pertanyaan “apakah pejabat rela mati untuk negara?” bukan sekadar sindiran, melainkan cermin krisis moral birokrasi. Sebab mencintai negara tidak cukup diucapkan dalam pidato. Ia harus dibuktikan melalui keberanian menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.Dan sejarah selalu mencatat satu hal penting : rakyat mungkin miskin dan sederhana, tetapi dalam urusan pengorbanan untuk negara, merekalah yang paling sering memberi tanpa banyak meminta.

15.53/22 Mei 2026

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca