Oktober 9, 2026
Foto : Sejumlah pengikut aliran Islam Syiah di Iran

Disampaikan Oleh : M Rizal Fadillah

Syi’ah adalah gerakan politik sejak kelahirannya. yang bermula dari terbunuhnya Ali bin Abi Thalib oleh kelompok Khawarij akibat ketidakpuasan perundingan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah di Padang Shiffin. Sebagai gerakan politik tentu senantiasa bersentuhan dengan kekuasaan dimanapun dan kapanpun.

Jika di suatu negara Syi’ah belum kuat maka gerilya merangkak menjadi pola bakunya. Ia bergerak memasuki berbagai elemen strategis dan memperkuat pengaruh pada elemen-elemen tersebut. Mengimplementasikan keyakinan taqiyah dalam ambivalensi narasi.

Jika Syi’ah sudah menjadi kekuatan riel di negara tertentu maka Syi’ah tampil dengan terang-terangan melalui institusi formal seperti partai politik, lembaga swadaya masyarakat, lembaga kajian strategis, media politik, bahkan sayap milisi atau divisi militer. Hubungan langsung dengan jaringan Syi’ah global menjadi absolut. Iran sebagai komandan kekuatan global sangat menentukan.

Lebanon, Yaman, Iraq, dan Suriah adalah contoh negara yang tidak stabil akibat keberadaan dan eskalasi faham Syi’ah. Seluruhnya bergerak diawali dengan pengembangan keagamaan kemudian penguatan komunitas, berlanjut penggalangan politik, dan berujung pada pembentukan ssyap-sayap militer. Negeri yang membuka peluang berkembangnya Syi’ah rawan konflik.

Konflik di Timur Tengah adalah bukti stabilitas politik yang rusak. Indonesia memiliki kerentanan tinggi pula jika membiarkan eskalasi gerakan Syi’ah meningkat. Ada gambaran embriotik atas hal ini. Dulu ada tokoh Syi’ah Indonesia IJABI menyatakan “Mengorbankan darah dan mengalirkannya bersama darah Imam Husein adalah mimpi yang diinginksn oleh orang Syi’ah” kemudian menegaskan “Apakah kita harus memindahkan konflik Sunnah-Syi’ah dari Irak ke Indonesia?”.

Pasca Revolusi Iran 1979 angin ekspornya mulai terasa. Pada Desember 1984 aktivis Syi’ah meledakkan Seminari Al Kitab Malang, Januari 1985 peledakan Candi Borobudur, Maret 1985 hendak membom Bali namun meledak di Bis Pemudi saat di Banyuwangi. Bergerak kembali dengan konflik susulan. April 2000 pembakaran Ponpes Al Hadi Batang, November 2006 kerusuhan Bondowoso, April 2007 aksi besar tuntut pembubaran YAPI Bangil. Januari 2008 peristiwa Lombok.

Desember 2011 pembakaran rumah-rumah pengikut Syi’ah pimpinan Tajul Muluk di Sampang Madura. Konflik berdarah sampai pada proses hukum Tajul Muluk. Februari 2015 penyerangan Syi’ah atas Masjid Az Zikra Sentul Bogor dan September 2017 pengeroyokan warga Syi’ah atas muslim di Halmahera Selatan. Akhirnya aktivitas Syi’ah dilarang.

Embrio konflik dan radikalisme Syi’ah jika tidak cepat ditangkal dan di antisipasi akan cepat  memanas dan membakar. Jika lembaga pendidikan Syi’ah menjamur, kembalinya banyak pelajar Syi’ah dari Iran, paradigma HAM ditunggangi, pemerintah yang permisif, serta kepentingan global bermain, maka dipastikan stabilitas politik akan terganggu dan rusak oleh eskalasi gerakan Syi’ah. Syi’ah itu merusak.

Pemerhati Politik dan Kebangsaan,

Bandung, 19 Mei 2026

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca