Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Suherman

Dunia ini terbentang begitu luas dipenuhi ratusan negara, miliaran manusia, dan peradaban yang beragam. Namun dalam realitas politik internasional, sering kali dunia yang luas ini seakan dipersempit oleh satu kekuatan yang merasa berhak menentukan arah sejarah: Amerika Serikat.

Sejak berakhirnya Cold War, Amerika Serikat tampil sebagai kekuatan dominan yang sering menyebut dirinya sebagai penjaga tatanan dunia. Tetapi pertanyaan mendasar yang semakin sering muncul adalah: penjaga bagi siapa, dan untuk kepentingan siapa?

Banyak negara merasakan bahwa tatanan global yang disebut “berbasis aturan” kerap berubah menjadi aturan yang dibuat dan ditafsirkan oleh satu kekuatan saja.

Jejak Intervensi yang Panjang

Dalam beberapa dekade terakhir, dunia menyaksikan berbagai intervensi militer yang dipimpin atau didukung Amerika Serikat.

Invasi ke Iraq pada 2003, misalnya, dilakukan dengan alasan senjata pemusnah massal yang kemudian tidak pernah ditemukan. Perang tersebut menewaskan ratusan ribu orang dan mengguncang stabilitas kawasan selama bertahun-tahun.

Di Afghanistan, operasi militer yang dimulai pada 2001 berlangsung hampir dua dekade sebelum akhirnya pasukan Amerika ditarik pada 2021, meninggalkan negara itu dalam kondisi politik yang tetap rapuh.

Bagi banyak pengamat, rangkaian intervensi ini menimbulkan kesan bahwa kekuatan militer digunakan bukan semata demi keamanan global, tetapi juga demi mempertahankan pengaruh geopolitik.

Standar Ganda dalam Politik Internasional

Kritik terhadap Amerika Serikat juga muncul karena apa yang sering disebut sebagai standar ganda.

Di satu sisi, Washington mengklaim membela demokrasi dan hak asasi manusia. Namun di sisi lain, Amerika Serikat tetap menjadi sekutu kuat bagi negara yang banyak dikritik dunia atas kebijakan militernya, seperti Israel dalam konflik di Timur Tengah.

Ketika pelanggaran dilakukan oleh lawan geopolitiknya, sanksi keras segera dijatuhkan. Tetapi ketika dilakukan oleh sekutu, responsnya sering jauh lebih lunak. Ketimpangan ini memicu pertanyaan besar tentang keadilan dalam sistem internasional.

Dunia Tidak Lagi Unipolar

Realitas global hari ini sebenarnya sudah berubah. Dunia tidak lagi sepenuhnya unipolar.

Kebangkitan kekuatan lain seperti China dan meningkatnya peran negara-negara Global South membuat keseimbangan kekuatan menjadi lebih kompleks. Banyak negara kini menuntut sistem internasional yang lebih adil dan tidak didominasi satu kekuatan saja.

Dalam dunia yang semakin multipolar, arogansi kekuasaan tidak lagi mudah diterima. Negara-negara berkembang semakin sadar bahwa kedaulatan mereka tidak boleh ditentukan oleh tekanan politik atau militer dari luar.

Saatnya Tatanan Global yang Lebih Adil

Dunia yang begitu luas ini tidak seharusnya menjadi panggung bagi satu negara untuk menentukan arah semuanya. Tatanan internasional yang sehat harus dibangun di atas prinsip kesetaraan, penghormatan terhadap kedaulatan, dan kerja sama antarbangsa.

Institusi seperti United Nations sebenarnya didirikan untuk memastikan bahwa tidak ada negara yang terlalu dominan dalam menentukan nasib dunia. Namun tanpa reformasi yang serius dan komitmen nyata dari negara-negara besar, prinsip tersebut sering hanya menjadi retorika.

Penutup

Dunia ini terlalu luas untuk dikendalikan oleh satu kehendak politik. Ia milik seluruh bangsa, bukan milik satu kekuatan.

Dan ketika semakin banyak negara mulai menyuarakan hal itu, pesan yang muncul menjadi semakin jelas:

tatanan global yang adil tidak lahir dari dominasi, tetapi dari kesetaraan.

08,03/7 Maret 2026

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca