Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Suherman

Jika ada “Board of Peace” yang lahir bukan dari konsensus global, melainkan dari orbit satu kekuatan besar misalnya digagas pada era Donald Trump maka pertanyaan mendasarnya sederhana: ini forum perdamaian, atau instrumen geopolitik?

Dunia sudah punya arsitektur resmi : United Nations dengan mandat Piagam PBB. Ya, ia tidak sempurna. United Nations Security Council kerap buntu oleh veto. Tetapi legitimasi globalnya diakui hampir seluruh negara. Itu pembeda utama: legalitas dan pengakuan universal.

Forum di luar PBB terlebih jika sangat diasosiasikan dengan satu poros berisiko menjadi:Koalisi selektif, bukan representasi dunia.Alat tekan diplomatik, bukan ruang netral. Arena polarisasi baru, bukan jembatan damai.Bagi Indonesia yang menganut politik luar negeri bebas aktif, ini bukan soal ikut atau tidak ikut. Ini soal posisi tawar.

Indonesia : Lebih Kuat di Meja Global

Indonesia bukan penonton di sistem PBB. Kita konsisten menjadi kontributor besar pasukan penjaga perdamaian. Kita pernah duduk sebagai anggota tidak tetap DK PBB. Kita punya reputasi sebagai jembatan Global South dan negara Muslim moderat.Keluar dari orbit multilateral yang sah demi masuk ke forum yang belum tentu inklusif justru bisa : – Menggerus kredibilitas diplomasi. – Mengganggu keseimbangan hubungan dengan kekuatan besar lain, – Menempatkan Indonesia dalam pusaran blok baru.

Pertanyaannya tajam : Mengapa meninggalkan rumah bersama untuk masuk ke ruang yang kuncinya dipegang satu pihak…?

Realitas Politik Kekuatan

Era Trump dikenal dengan pendekatan transaksional dan bilateral. Jika “BoP” model demikian dibentuk, besar kemungkinan ia mengikuti logika kekuatan: siapa menyumbang paling besar, dia menentukan arah.Indonesia bukan negara kecil, tetapi juga bukan hegemon global. Dalam forum yang tidak setara, suara bisa terdenga namun belum tentu menentukan.

Dan dalam geopolitik, simbol keikutsertaan sering tidak sebanding dengan harga strategis yang dibayar.

Jalan Rasional

Alih-alih tergoda forum alternatif yang sarat kepentingan, Indonesia lebih rasional untuk:- Tetap memperkuat multilateralisme di bawah PBB.- Mendorong reformasi sistem veto.- Membangun koalisi negara berkembang agar suara Global South lebih solid.Karena pada akhirnya, perdamaian sejati lahir dari legitimasi bersama bukan dari panggung yang dikurasi satu kuasa.

Penutup

Jika “BoP” di luar PBB lebih mirip panggung geopolitik daripada ruang netral, maka Indonesia harus berhitung dingin.Kita bukan negara pengikut.Kita bukan pion.Dan dalam percaturan global, kemandirian diplomasi jauh lebih berharga daripada sekadar duduk di kursi yang disediakan orang lain.Saatnya berani keluar dari BoP bentukkan trump manusia haus darah.

19.09/4 Maret 2026

-Atna_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca