Oktober 9, 2026
Gambar : Sunan Kalijogo saat berdakwah


Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi : 19.02.2026

Pada saat menjalankan shalat tarawih pertama salah seorang peserta Kajian Politik Merah Putih, layaknya seperti ahli siyasah memberikan ceramah singkat :

Hadis Qudsi menegaskan bahwa “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya”

Perang Badar  pada 17 Ramadan 2 Hijriah, adalah tahun pertama diwajibkannya puasa. Allah SWT langsung mencoba pengikut Rasulullah Saw untuk berperang yang sangat berat, pasukan muslimin hanya berjumlah 313 pertempur melawan 1.000 pasukan Quraisy.

Berjuang penuh keimanan dibulan puasa, Nabi memberikan keringanan (rukhsah) untuk berbuka guna menjaga kekuatan fisik saat pertempuran. Atas pertolongan Allah, muslimin meraih kemenangan.

Sebagian sahabat tetap berpuasa, sementara sebagian lainnya berbuka, dan Nabi sendiri diriwayatkan berbuka untuk memberi teladan atau menunjukkan keringanan yang dibolehkan.

Juga saat perang Fathu Makkah (Ramadhan 8 H) selain Perang Badar, Nabi Muhammad SAW juga berbuka puasa dalam perjalanan yang cukup berat saat menuju pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah).

Secara umum, selama sembilan tahun berpuasa, Nabi SAW berbuka puasa jika beliau dalam perjalanan (musafir) atau dalam pertempuran (jihad) yang melelahkan, bukan hanya sekali saja

Dari peristiwa Perang Badar dan Perang Fathu Makkah menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang realistis, yang mengizinkan berbuka puasa demi menjaga  kekuatan saat situasi darurat.

Dari peristiwa Perang Badar dan Perang Fathu Makkah di bulan Ramadhan adalah ibrah dari Allah SWT, meskipun dalam keadaan lapar dan haus, hal itu tidak  mengurangi semangat para sahabat untuk tetap menjalankan  berjuangnya

Kebiasaan Rasulullah SAW saat berpuasa di bulan Ramadan :

  • Rasulullah SAW selalu makan sahur dan tidak pernah meninggalkannya, mengakhirkan waktu bersahur. Niat puasa dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar.
  • Beliau menyegerakan berbuka puasa begitu matahari terbenam (waktu Maghrib tiba), sebelum melaksanakan salat Maghrib. Berbuka dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada dengan seteguk air.
  • Meningkatkan sedekah, berbagi makanan berbuka, dan kebaikan lainnya .

Bersama dengan Malaikat Jibril untuk tadarus Al-Qur’an. Meningkatkan ibadah malam (Qiyamul Lail) dan iktikaf di sepuluh malam terakhir.

Rasulullah SAW berpuasa Ramadan selama 9 tahun (2 H – 10 H), umumnya 29 hari. Nabi SAW melakukannya selama 29 hari sebanyak delapan kali, dan sekali selama 30 hari.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca