
Disampaikan Oleh : Suherman
Katanya, MBG adalah penggerak ekonomi rakyat. Angkanya fantastis, ratusan triliun rupiah. Jika diasumsikan Rp 350 triliun per tahun, itu sekitar 1,7% dari total PDB Indonesia yang berada di kisaran Rp 20.000 triliun.
Pertanyaannya sederhana : Apakah 1–2% belanja konsumsi bisa mengubah struktur ekonomi? Atau sekadar membuat headline terlihat besar…?
Secara teori, belanja pemerintah memang punya efek pengganda (multiplier effect). Tapi teori ekonomi punya syarat : distribusi harus efisien, kebocoran minimal, rantai pasok menyentuh petani dan UMKM lokal, bukan berhenti di vendor besar dan kontraktor logistik.
Kalau pengadaan tersentralisasi dan dikuasai pemain besar, maka yang “bergizi” bukan rakyatnya, tapi neraca perusahaan tertentu.
MBG memang bisa menggerakkan sektor pangan: beras, telur, ayam, sayur. Tapi dampaknya bersifat konsumtif. Ia bukan industrialisasi. Ia bukan reformasi struktural. Ia bukan penciptaan produktivitas jangka panjang dalam skala besar.
Memberi makan itu mulia, mengklaimnya sebagai lokomotif ekonomi nasional, itu yang perlu diuji
Ekonomi tumbuh karena produksi, investasi, ekspor, inovasi, dan penciptaan nilai tambah. Bukan semata distribusi makanan massal.
Lebih jauh lagi, anggaran sebesar itu berarti ruang fiskal menyempit. Jika penerimaan negara stagnan dan utang meningkat, maka rakyat tetap membayar, entah lewat pajak, inflasi, atau pengurangan anggaran sektor lain.
Satirnya begini : Kalau benar MBG jadi pilar ekonomi, berarti ekonomi kita berdiri di atas kotak nasi.
Masalahnya, ekonomi modern dibangun di atas produktivitas dan daya saing, bukan di atas program konsumsi jangka pendek.
MBG bisa menjadi program sosial yang baik. Tapi menyebutnya mesin penggerak utama ekonomi itu seperti menyebut sendok sebagai mesin pertanian.
Rakyat perlu makan, tapi bangsa perlu bertumbuh dan pertumbuhan tidak cukup dengan kenyang.
12.59/14 Februari 2026
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.