
Tetaplah bodoh, kawan,
Jika pintar menuntut kita percaya
Bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri, kebetulan saja sebagian diberi nomor agar tak tersesat pulang
Tetaplah bodoh, kawan,
Jika pintar mengharuskan kita sepakatbahwa sawit juga pohon karena punya daun hijau, cukup untuk mengganti nama hutan, meski akarnya tak lagi sudi menahan air
Tetaplah bodoh, kawan,
Jika pintar berarti curiga pada suara kritis, dianggap menggiring opini, menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna, dan empati harus menunggu siaran media.
Tetaplah bodoh, kawan,
Jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asingyang tak seberapa itu berbahaya, bisa meruntuhkan martabat bangsa yang konon berdiri tegak—tanpa bantuan siapa-siapa
Tetaplah bodoh, kawan,
Jika pintar mensyaratkan bantuan bencana dari diaspora perlu dipajaki dulu, agar duka ikut menyumbang penerimaan negara
Tetaplah bodoh, kawan,
Jika pintar berarti setujucukup menteri memanggul karung bantuan, sementara empati dianggap bonus, tak wajib, apalagi tulus
Tetaplah bodoh, kawan,
Jika pintar menuntut kita percaya bahwa ribuan korban hanyalah angka, terlalu kecil untuk disebut bencana nasional, hanya cukup jadi catatan kaki laporan tahunan
Tetaplah bodoh, kawan,
Jika pintar menganggap alih hutan ke sawit adalah keniscayaan, dan banjir selalu bisa kita titipkan pada takdir—agar tangan manusia tetap tampak tak ternoda
Mari, tetap bodoh, kawan,
Sebab di negeri ini, terlalu sering, yang disebut pintar justru adalah kelihaian melawan akal sehat, menyembunyikan fakta, dan memperdayai sesama
Kawan, mari, tetap bodoh
Fathul Wahid Sleman, 22 Desember 2025
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.