Jerit Hati Seniman

Oleh Bambang Oeban
Bang Ali Sadikin,
namamu bukan sekadar tertera di papan jalan, atau judul seminar setahun sekalidengan spanduk belel dan konsumsi ala kadarnya.
Namamu adalah keputusan,yang diambil saat anggaran lebih suka lari menjadi beton, ke proyek yang bisa difoto dari udara, bukan ke peluhseniman yang hidup kerap tak terdata di neraca pembangunan
Bang Ali, engkau tahu benar bahwa bangsa tanpa seniman adalah bangsa yang gagap bicara, tak siap menertawakan diri sendiri, tak sanggup mengkritik kekuasaan tanpa berubah jadi teriakan kosong
Maka engkau bangun
Gelanggang Remaja, bukan satu, bukan dua, tapi lima wilayah Jakarta, seolah berkata : “Bakat tak boleh terpusat di satu gedung ber-AC, ia harus tumbuh di sudut kota, di pinggir lapangan,di antara sepatu robek dan gitar murah.” Di sana anak-anak muda belajar berdebat tanpa baku hantam, belajar bermain peran tanpa jadi munafik, belajar musik tanpa harus kaya dulu
Engkau paham, remaja yang diberi panggung tak akan mudah tergoda jadi figuran kejahatan.
Lalu sejarah berputar pelan, Raden Saleh, maestro yang tak hanya melukis, tapi juga berpikir jauh ke depan menghibahkan tanah untuk kebun binatang
Tempat di mana manusia belajar rendah hati melihat makhluk lain hidup tanpa pidato, tanpa janji kampanye
Ketika kebun binatang itu dipindahkan ke Ragunan, tanahnya tak kau jual pada spekulan berdasi, tak kau sulap jadi pusat belanja yang menjual diskon dan lupa.
Kau ubah namanya : Taman Ismail Marzuki
Bukan nama jenderal, Bukan nama pejabat, Bukan pula nama investor, Nama seniman
Itu pilihan politik paling sunyi dan paling berani. Taman Ismail Marzuki menjadi rumah besar, bukan istana
Tak ada singgasana, yang ada kursi kayu, kopi pahit, naskah yang direvisi tengah malam, lukisan yang ditolak galeri tapi dicintai zaman
Di sana seniman miskin tak dipermalukan, Di sana kritik tajam tak langsung dicap subversif, Di sana ide gila tak buru-buru dirawat di rumah sakit jiwa
Bang Ali tahu, seniman itu aneh, keras kepala, sering ribut soal hal sepele tapi diam saat negeri dijarah
Maka mereka perlu bapak, bukan bos.
Bapak yang paham : seni tak bisa disuruh cepat, tak bisa ditargetkan seperti tender, tak bisa dipatok ROI per kuartal
Seni tumbuh dari kegelisahan, dan kegelisahan tak lahir di ruang rapat berpendingin udara.
Tahun-tahun berlalu, lalu Taman Ismail Marzuki melahirkan nama-nama besar yang kini fotonya terpajang di dinding museum dan halaman buku pelajaran, meski dulu mereka tak punya uang makan siang.
Jakarta menjadi kota yang berani bicara, menertawakan diri sendiri, mengkritik penguasa tanpa harus sembunyi di lorong gelap. Lalu Bang Ali pergi.
Dan sejak itu, ada yang terasa hilang, bukan di bangunan,tapi di rasa aman. Rumah masih berdiri, tapi bapaknya tak lagi duduk di beranda.
Setelah Bang Ali tiada, seniman seperti anak yatim yang diajak rapat tapi tak didengar
Taman Ismail Marzuki mulai sering disebut sebagai aset, bukan rumah
Anggaran mulai bicara lebih lantang daripada ide. Kurator mulai takut lebih dari pencipta. Proposal lebih sakti daripada puisi
Gedung direnovasi, tapi jiwa sering tercecerdi balik dinding baru. Seni mulai diminta sopan, ramah sponsor, aman bagi semua pihak, kecuali bagi kebenaran. Humor masih ada, tapi tak lagi menggigit.Satir masih tampil, tapi sudah disterilkan
Seniman diminta kreatif, tapi jangan terlalu kritis. Diminta vokal, tapi jangan menyebut nama Bang Ali, di sinilah kritik kami berdiri : bukan untuk menghakimi, tapi mengingatkan.
Negeri ini sering bangga membangun gedung seni, tapi lupa membangunkeberanian melindungi seniman. Kita rajin merayakan Hari Seni, tapi absen saat seniman berurusan dengan sensor, intimidasi dan perut kosong. Kita suka pidato soal budaya,tapi alergi pada kritik yang lahir dari budaya itu sendiri. Parodi kami jadi senjata tumpul, karena terlalu sering diminta menyenangkan semua orang. Padahal seni, bila menyenangkan semua pihak, biasanya sedang berbohong.
Bang Ali pernah mengajarkan lewat kebijakan, bukan ceramah : bahwa seniman harus diberi ruang bahkan ketika mereka menyebalkan. Karena bangsa dewasa tak anti terhadap suara sumbang.
Kini, solusi tak perlu muluk : Kembalikan Taman Ismail Marzuki sebagai rumah, bukan etalase. Kembalikan gelanggang sebagai tempat tumbuh, bukan sekadar bangunan serbaguna yang lebih sering dipakai acara seremonial. Berikan keberpihakan nyata, bukan sekadar lomba proposal yang hanya dimenangkan oleh mereka yang pandai menulis bahasa birokrasi.
Biarkan seniman miskin tetap berkarya tanpa harus menjadi pengemis proposal. Lindungi kritik, bahkan yang pedas cabai rawit karena cabai pedas tanda masakan belum basi. Humor jangan dimarahi, satir jangan dicurigai, parodi jangan dipersekusi.
Bang Ali, kau telah pergi tapi jejakmu masih jelas : bahwa pemimpin besar tak takut pada seniman, karena ia tahu seni bukan musuh negara, melainkan cermin terkadang tak ingin kita tatap.
Jika hari ini seniman terasa kehilangan bapak, itu bukan karena bapaknya tak meninggalkan warisan, melainkan karena kita tak cukup berani mewarisi sikapnya.
Maka pamflet ini kami tempelkan di dinding ingatan, agar generasi berikutnya tahu : pernah ada pemimpin yang mengerti bahwa bangsa besar tak hanya diukur dari jalan tol, tapi dari seberapa jujur ia mendengar suara senimannya. Dan Bang Ali Sadikin, telah membuktikannya tanpa perlu tepuk tangan berlebihan.
Dari Timur Bekasi, Rabu, 17 Des 2025.13.23
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.