Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Sebuah Cerita Fiksi Ilmiah yang Sangat Nyata

Tulisan Pertama Oleh Madi Saputra

Takengon, 5 Desember 2025 — pukul 03:14 WIB.Di luar jendela penginapan darurat ini, hujan masih menetes. Tidak deras, namun ritmenya seperti ketukan jarum jam yang mengingatkan bahwa waktu ekologis kita hampir habis.

Di atas meja kayu yang lembap terdapat tiga benda yang menatap saya seperti barang bukti kejahatan :

1. Peta konsesi hutan Sumatera tahun 1996 — berwarna hijau tua.

2. Foto satelit LANDSAT 2024 — berubah menjadi cokelat berlubang.

3. Daftar 533 jenazah dan 504 orang hilang — angka yang bertambah setiap jam seperti denyut jantung yang menuju henti total.

Ketiganya menceritakan satu kalimat yang sama, tanpa jeda, tanpa kompromi : Banjir ini bukan bencana alam. Ini adalah eksekusi yang direncanakan selama tiga dekade.

I. Pengamatan Intelijen Pertama

Tubuh Bumi yang Dibunuh Sebelum Hujan Turun

Ketika Siklon Senyar menghantam Sumatera 22 November 2025, ia tidak turun ke pulau yang sehat. Ia turun pada tubuh bumi yg sedang Sakit organ-organ vitalnya.

📌 Data yang saya verifikasi sendiri dari KLHK :

Tahun Virgin Forest %

1990 23,8 juta ha 55%

2024. 4,6 juta ha 11%

Hulu-hulu sungai pembunuh utama :

Batang Toru — tutupan tinggal 29%, lereng curam 87% sudah gundul

Krueng Peusangan — sawit dan tambang emas menguasai hulu sejak 2009

Aek Sibundong — 72% kawasan lindung dilepas jadi konsesi industri

Kesimpulan : Sebelum tetes pertama hujan jatuh, Sumatera sudah dalam koma ekologis.

II. Pengamatan Intelijen Kedua

Kayu Gelondongan : Peluru Pembunuh yang Sudah Disiapkan

Saya turun ke Sitinjo, Tapanuli Selatan, 27 November 2025.

Yang menghantam rumah rakyat bukan hanya air.

Yang menghantam adalah peluru alam :

Diameter 90–140 cm

Panjang 12–18 meter*

Jenis meranti & keruing — pohon induk usia 200–300 tahun

Kayu-kayu itu dulunya milik HPH besar di Riau-Jambi.

Ditumpuk, disembunyikan, dipindahkan nama konsesinya berkali-kali.Dan saat banjir datang….., Mereka bangkit sebagai senjata pemusnah manusia.* Seolah alam mengembalikan seluruh catatan kriminal industri itu ke pangkuan kita.

III. Pengamatan Intelijen Ketiga

Peta Konsesi yang Berubah Menjadi Peta Pembunuhan

Saya merentangkan dua peta di lantai penginapan : 1996 vs 2024 — dan hubungan keduanya seperti sidik jari dan TKP : 78% longsor fatal terjadi di bekas konsesi yang diterbitkan 2004–2014

64% korban tewas dalam radius 5 km dari tambang aktif pasca UU Minerba 2009*

100% gelondongan berasal dari spesies yang seharusnya dilindungi.

Tidak ada ruang untuk kata “kebetulan”, ini adalah peta pembantaian ekologis yang dirancang oleh pena birokrasi dan diselesaikan oleh air bah.

IV. Pengamatan Intelijen Keempat

Nama-nama yang Tidak Pernah Pergi

Mereka hanya berganti akta, berganti komisaris, berganti warna logo :

APP – Sinar Mas → 2,6 juta ha di Sumatera

Wilmar → sawit + logistik Aceh & Sumut

Korindo → setelah Papua terkunci, pindah ke barat

Kartel lokal → memanfaatkan otonomi daerah sebagai lisensi pembalakanMereka adalah hantu ekonomi yang menunggu badai sebagai “closing statement”.

V. Pengamatan Intelijen Kelima

Waktu yang Sudah Habis Sejak Kita Menghapus Remnya

Saya amati ketika aturan itu masih ada :

40% virgin forest adalah batas sakral Setiap pohon ditebang → ada regenerasinya* Siklus 35 tahun wajib

Lalu Era REFORMASI datang.

Regulasi dilucuti satu per satu.

Kita memberi kuasa kepada pasar untuk memegang jantung bumi.Sumatera hari ini adalah hasil akhirnya:* Pasien kritis yang dibiarkan sekarat tanpa ICU, tanpa dokter, tanpa doa.

Sebuah Renungan

Saya bukan korban banjir ini. Saya masih bernapas, masih bisa menulis.

Yang membuat saya menggigil bukan dingin pegunungan Gayo, tapi ingatan akan tanda tangan seorang Pejabat Negara di atas dokumen-dokumen 1990-an— dokumen yang ternyata adalah *surat izin pembunuhan ekologis” yang eksekusinya dilakukan air lumpur tahun ini 2025,

533 jiwa tidak mati karena hujan.

> Mereka mati karena manusia merobek jantung Sumatera dan menjualnya per hektar.

Kesalahan kita bukan ketika hujan datang,tetapi ketika kita menertawakan aktivis lingkungandan memuja pertumbuhan ekonomi tanpa batas.

Kita—saya, Anda, seluruh bangsa ini—telah menukar organ hidup bumi dengan angka pada neraca. Dan sekarang, bumi menagih yang harus dibayar sebab setiap yang kita lakukan pada bumi, bumi akan membalas dalam bahasa yang paling manusia pahami – kematian.

Dan mungkin, ketika orang-orang Gayo memeluk tanah basah ini sambil membaca doa,suara bumi berbisik :“Aku tidak marah. Aku hanya sedang kembali mengambil apa yang dulu kupinjamkan.”

Sumatera menangis.Tetapi siapa yang ia panggil dalam tangis itu? Kita kah? Atau Tuhan?

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca