
Daniel Mohammad Rosyid @Rosyid College of Arts
Prabowo sudah melihat tanda-tanda kekeliruan arah pembangunan NKRI saat dia memutuskan mendirikan Gerindra 20 tahun silam. Dalam arsitektur ala UUD 10/8/2002, partai politik diberi kedudukan istimewa : hak untuk monopoli politik hampir secara radikal Konsekuensinya dilihat Prabowo dengan jelas : Polity as public goods menjadi barang langka, dan oleh karenanya mahal sekali. Politik menjadi barang mewah yg hanya bisa dinikmati oleh para elite yg memiliki dukungan logistik yg cukup. Ini adalah akar sistemik korupsi.
Beda Jokowi dengan Prabowo
Jokowi dengan cerdik memilih menunggangi PDIP daripada membangun pertai politiknya sendiri, dengan memanfaatkan kelemahan birokrasi yang masih mudah disuap. Prabowo membangun Gerindra sebagai kendaraan politiknya sendiri. Jokowi kemudian belajar dari Prabowo dengan membangun PSI terutama sebagai kendaraan politik dinastinya.
Prabowo menyaksikan kebangkitan ersatz capitalism di era Soeharto, lalu merasakan sendiri bagaimana kapitalisme semu itu membesar menjadi full-fledged capitalism terutama di era Joko Widodo. Demokratisasi yg diimpikan kaum reformis ternyata melahirkan duo korporatokrasi-duitokrasi di mana jagad politik diisi oleh para bandit, badut, dan bandar politik yang suka ngglembuk, nggendham dan nyopet suara rakyat.
Banyak kaum reformis enggan mengakui kegagalan agenda reformasi ini. Reformasi ternyata hanya terjadi secara semu di permukaan, sementara mesin pemerintahan yang disebut birokrasi masih mengidap KKN yg justru makin parah. Ini yang menjelaskan mengapa banyak investasi publik tidak value for money yang meningkatkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi hanya value for monkeys, yaitu para koruptor.
Investasi tidak banyak menciptakan lapangan kerja. Para pembantu Prabowo seperti Menkeu Purbaya dan Mentan Sulaiman menghadapi hambatan transformasi justru oleh orang-orang dalam di Kementrian mereka sendiri. Agenda desentralisasi juga mengalami kemunduran karena birokrasi derah yang corrupt. Pada saat ongkos menjadi kepala daerah makin tinggi, korupsi juga merembes ke birokrasi daerah. Rekrutmen ASN dan aparat bahkan menjadi instrumen korupsi. Sementara itu rekrutmen mahasiswa baru di banyak kampus makin mendorong kampus kampus itu menjadi pabrik ijazah aspal.
Transformasi yg diupayakan Prabowo akan dipijakkan pada :
1) Pendididikan yg menyiapkan warga muda yg cakap, sehat dan produktif di usia 18 tahun,
2) Pasar yg terbuka dan berkeadilan serta bebas-riba,
3) Investasi yg memandirikan dengan berpijak pada potensi2 agro-maritim kita yg melimpah,
4) Birokrasi yang kompeten, dan bersih dari KKN, dan
5) Ketersediaan energi yg cukup untuk mentenagai berbagai proses nilai-tambah, dan untuk negara kepulauan seluas Eropa ini;
6) Armada kapal nasional
– sebagai infrastruktur negara kepulauan;
– yang mendukung kehadiran pemerintahan di laut yang efektif. Transformasi ini membutuhkan waktu dan kepemimpinan yg kuat, serta situasi politik nasional yang kondusif.
Setiap bangsa yg maju memerlukan perubahan yang terkelola. Transformasi akan terus terjadi karena bangsa dan negara ini memerlukan keberanian untuk melakukan inovasi-inovasi di berbagai bidang namun dengan memperhatikan konservasi nilai-nilai dasar yang diamanahkan oleh para pendiri bangsa dalam UUD 18/8/1945. Birokrasi yang korup akan menghambat transformasi ini karena lebih menghendaki status quo yang mereka nikmati selama ini. Apalagi jika POLRI gagal direformasi.
Surabaya, 19 Nopember 2025
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.