Oktober 10, 2026
Foto : Suasana pemakaman salah satu pahlawan di TMP Kalibata, Jakarta

Jakarta, SemutIbrahim – Hari Pahlawan menjadi salah satu momen penting bagi bangsa Indonesia untuk mengenang, menghargai, dan meneladani semangat juang para pejuang yang telah berkorban demi tanah air. Momen ini bukan sekadar simbol, tetapi pengingat akan semangat juang dan pengorbanan tanpa pamrih yang menjadi fondasi berdirinya Negara Indonesia yang berdaulat, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.

Setiap tahun, masyarakat Indonesia memperingati Hari Pahlawan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari upacara bendera, ziarah ke makam pahlawan, pawai, hingga refleksi nilai-nilai kepahlawanan untuk diterapkan dalam kehidupan masa kini.

Penetapan hari penting ini bertujuan untuk memastikan bahwa semangat dan nilai-nilai kepahlawanan para Pahlawan Nasional tidak pernah pudar, serta menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa dalam mengisi kemerdekaan.

Berbagai kegiatan, mulai dari upacara resmi hingga refleksi di masyarakat, selalu mewarnai peringatan ini di seluruh penjuru negeri.

Sejarah Hari Pahlawan

Hari Pahlawan dilatarbelakangi oleh pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Peristiwa tersebut adalah perang antara Indonesia dan sekutu yang paling dahsyat setelah kemerdekaan Indonesia. Peristiwa heroik ini merupakan salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia dan diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.

Pasukan sekutu, terdiri dari tentara Inggris dan Belanda (NICA) datang ke kota Surabaya pada 25 Oktober 1945. Kedatangan pasukan Sekutu ke Indonesia pada awalnya bertujuan untuk mengamankan para tawanan perang serta melucuti senjata tentara Jepang.

Namun, situasi berubah ketika pada tanggal 27 Oktober 1945, rombongan NICA yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby memasuki Surabaya dan segera mendirikan pos pertahanan. Pasukan Sekutu yang sebagian besar terdiri dari tentara Inggris kemudian menyerbu penjara dan membebaskan tawanan perang yang ditahan oleh pihak Indonesia.

Tak berhenti di situ, Sekutu juga memerintahkan rakyat Indonesia untuk menyerahkan senjata mereka. Permintaan tersebut mendapat penolakan keras dari masyarakat. Pada 28 Oktober 1945, pasukan Indonesia di bawah komando Bung Tomo melakukan serangan terhadap pos-pos pertahanan Sekutu dan berhasil menguasai beberapa titik penting di kota itu.

Tokoh-tokoh kunci dalam komando pertempuran Surabaya antara lain:

  • Mayjen Sungkono: Beliau adalah Komandan Pertahanan Kota Surabaya (Panglima Tentara Keamanan Rakyat/TKR Divisi Jawa Timur) yang memegang komando militer tertinggi dalam pertempuran tersebut.
  • Bung Tomo (Sutomo): Meskipun bukan dari struktur komando militer formal, perannya sangat sentral sebagai orator ulung yang membakar semangat juang rakyat dan pemuda Surabaya melalui siaran radio, menjadikannya pemimpin simbolis perlawanan rakyat.
  • Gubernur Suryo: Sebagai Gubernur Jawa Timur, beliau adalah pemimpin sipil dan pemerintahan tertinggi di Surabaya yang mendukung penuh perjuangan rakyat dan menolak ultimatum Sekutu.
  • Mayjen TKR HR Mohammad Mangoendiprojo: Beliau adalah pimpinan TKR yang juga terlibat dalam perundingan awal dengan pihak Inggris dan memimpin pasukan dalam beberapa pertempuran.
  • Prof. Dr. Moestopo: Berperan dalam mengorganisir pengambilan senjata dari tentara Jepang untuk digunakan melawan Sekutu dan menentang masuknya pasukan Inggris ke Surabaya.

Meski sempat ada kesepakatan gencatan senjata pada 29 Oktober, bentrokan tetap tidak terhindarkan. Ketegangan memuncak ketika Brigadir Jenderal Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945, yang kemudian memicu kemarahan pihak Inggris.

Pada hari Rabu, 19 September 1945, Di bawah pimpinan Ploegman dan Spit, sekelompok orang Belanda dan Indo-Belanda berkumpul, menaiki atap hotel Oranje (Yamato) di Tunjungan. Secara demonstratrif dan arogan mereka mengibarkan bendera bahkan memiliki senjata Jepang. (Bung Tomo: 2008 dan Roeslan Abdulgani: 1994)

Bung Tomo yang kala itu menjadi wartawan Kantor Berita Antara, bersama fotografer Abdul Wahab meliput peristiwa tersebut. Abdul Wahab kemudian memotret peristiwa tersebut. Tak lama Abdul Wahab kemudian dipukul oleh seorang Indo Belanda (pribumi pendukung Belanda), dan nyaris dikeroyok. (Bung Tomo: 2008)

Aksi arogan orang-orang Belanda dan Indo-Belanda ini segera mengundang kemarahan masyarakat. Mereka berkumpul di sekitar Hotel Oranje. Semakin lama semakin banyak jumlahnya. Sebagian membawa bambu runcing, golok, keris dan pedang. Sepasukan Kenpeitai (Polisi Militer Jepang) pun datang, namun rakyat sudah tak peduli. Batu-batu melayang. Menghampiri orang-orang Belanda yang berada di atap Hotel Oranje. (Bung Tomo: 2008)

Tiba-tiba suara letusan tembakan terdengar. Rakyat semakin murka. Baku hantam tak terhindarkan. Tinju lawan tinju. berlemparan batu. Golok dan senjata tajam lain mulai bermain. Beberapa pemuda nekad naik ke atas Hotel Oranje. Seorang kemudian jatuh dipukul orang Belanda. Lainnya tetap mencoba merangsek ke atas menuju bendera. Tangga tiba-tiba disandarkan. Para pemuda semakin melaju. Tiba-tiba saja seorang merobek warna biru bendera tersebut. (Bung Tomo: 2008)

“Ya Allah, pemuda yang berada di atap itu menyobek kain warna biru yang melekat di bendera tiga warna tersebut sehingga tinggal warna merah putih! Perlahan-lahan dinaikkan Sang Merah Putih tersebut. Getaran jiwa yang meluap-luap bagaikan air bah tidak tertahankan,” demikian kesaksian haru Bung Tomo yang menyaksikan peristiwa tersebut. (Bung Tomo: 2008)

Sementara serdadu Kenpeitai hanya termangu, orang-orang Belanda melarikan diri ke belakang hotel. Ploegman tewas menemui ajalnya di insiden tersebut. Meski Sudirman, residen Surabaya sudah meminta rakyat untuk bubar, namun permintaan itu tak ditanggapi. Bung Tomo kemudian naik ke atas, dan mengajak mereka menyanyikan Indonesia Raya. Setelah puas bernyanyi, perlahan mereka membubarkan diri. Truk-truk membawa mereka meninggalkan Jalan Tunjungan. (Bung Tomo: 2008)

Pekik Takbir Bung Tomo Di Hotel Majapahit

Pagi hari 10 November, tentara Inggris melancarkan serangan besar-besaran ke Surabaya. Rakyat dan pasukan Indonesia melakukan perlawanan hebat, meski Inggris mengeluarkan ultimatum melalui Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh, pengganti Mallaby. Dalam ultimatum itu, Indonesia diminta menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan, atau Surabaya akan digempur dari darat, laut, dan udara.

Para pejuang dan arek-arek Surabaya menolak tunduk pada ancaman tersebut. Akibatnya, Inggris melancarkan serangan besar dari berbagai arah, memicu pertempuran dahsyat yang kemudian dikenang sebagai salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah perjuangan bangsa yakni Pertempuran Surabaya, 10 November 1945.

Tokoh yang Berperan pada Pertempuran 10 November di Surabaya yakni Bung Tomo, Raden Mas Tumenggung Suryo, Mayjen Sungkono, Mayjen Mangoendiprodjo, Prof Dr Moestopo, KH Hasyim Asy’ari, Abdul Wahab, KH. Abbas Buntet, Moestopo dan K’tut Tantri.

Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga menjadi simbol pengorbanan, keberanian, dan semangat pantang menyerah yang diwariskan untuk generasi masa kini. Melalui peringatan ini, masyarakat diingatkan bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari darah dan air mata para pejuang bangsa.

Tema Hari Pahlawan 2025

Untuk tahun ini, tema resmi Hari Pahlawan 2025 yang dirilis oleh Kemensos adalah :

“Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan.”

Tema tersebut mengandung makna mendalam. Kalimat “Pahlawanku Teladanku” mengajak masyarakat untuk menjadikan pahlawan sebagai inspirasi dalam bersikap dan bertindak. 

Sementara “Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan” menegaskan bahwa perjuangan bangsa tidak berhenti pada masa lalu, melainkan harus terus dilanjutkan dengan kontribusi nyata sesuai peran masing-masing.

Logo Hari Pahlawan 2025

Bersamaan dengan tema, logo resmi Hari Pahlawan 2025 juga telah dirilis oleh Kementerian Sosial. Logo ini menggambarkan figur manusia yang bergerak maju sambil mengibarkan Bendera Merah Putih, sebagai simbol semangat generasi penerus dalam meneruskan cita-cita kemerdekaan.

Warna merah pada logo mencerminkan keberanian dan semangat juang, sedangkan biru melambangkan optimisme, kemajuan, dan semangat inovatif. Keseluruhan desain logo merepresentasikan perpaduan antara semangat masa lalu dan langkah maju menuju masa depan.

Peringatan Hari Pahlawan biasanya diisi dengan kegiatan nasional dan lokal yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Berdasarkan panduan Kemensos, berikut beberapa kegiatan utama dan pendukung yang dapat dilakukan :

1. Kegiatan Utama

– Upacara Ziarah Nasional di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta, pada 10 November 2025 pukul 08.00 WIB;

– Tabur Bunga di Laut di perairan Teluk Jakarta;

– Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara oleh Presiden Republik Indonesia.

2. Kegiatan Pokok :

– Upacara Bendera di seluruh instansi pemerintah, sekolah, dan lembaga masyarakat pada 10 November pukul 08.00 waktu setempat.

– Mengheningkan Cipta Serentak selama 60 detik pada pukul 08.15 waktu setempat.

– Pengibaran Bendera Merah Putih Satu Tiang Penuh di rumah, kantor, dan fasilitas publik.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca