PKO Sebagai Salah Satu ‘Jalan Ninja’ Pengamalan Surah al-Ma’un Muhammadiyah

Jalan Ninja
Jalan Ninja saat ini banyak dipakai masyarakat sebagai adagium pernyataan tekad, langkah dan ketetapan pribadi seseorang. Sebenarnya, apakah ‘Jalan Ninja’ tersebut?
Istilah ninja sendiri sebenarnya berasal dari arti harfiah yaitu sebagai orang yang bertahan atau orang yang menyelinap. Istilah ini mengambil dari ‘budaya pop’ Jepang, dimana kala itu produk-produk budaya tercipta dari komik dan animasi karya orang Jepang. Cerita seri Naruto hasil karya Masashi Kishimoto pada tahun 1999, yang memicu istilah jalan ninja yang menjadi ciri khas, Uzumaki Naruto sang tokoh utama cerita tersebut. Menurut Masashi Kishimoto, dalam certa ini, jalan ninja bukan hanya sekadar teknik bertarung atau kemampuan fisik, namun juga merupakan sebuah prinsip hidup, yaitu sebagai pribadi yang semisal teguh dan kuat pendiriannya, tidak menarik kata-kata yang telah diucapkan, mempunyai loyalitas tanpa batas serta semangat pantang menyerah apapun halangan yang merintanginya.
Jalan Ninja memberi pengertian tentang kesetiaan terhadap diri sendiri, pantang menyerah terhadap impian atau siap mewujudkan mimpi tanpa batas dan kemauan dan kemampuan teguh untuk bertahan serta beradaptasi dalam kondisi paling sulit sekalipun. Ini jelas semangat ‘fighter sejati’. Juga kita diajarkan untuk dalam meraih kesuksesan (dan kemenangan) tidak selalu an sich pada kemampuan kekuatan (fisik, materi dan kekuasaan), namun juga harus pandai memanfaatkan peluang, kecerdikan, ketekunan, dan keberanian untuk mandiri meski pihak lain meremehkan kita. Kita juga diajarkan semangat untuk tidak lari dari masalah (colong gelangang tinggal playu, istilah Jawa), bahkan terus berusaha bahkan saat tak ada yang percaya serta tetap setia pada nilai-nilai (value) yang diyakini. Dalam hal ini pula, untuk meraih kesuksesan dan kemenangan, diperlukan adaptasi terhadap perubahan apapun, baik pesaing (musuh) ataupun perubahan lingkungan, budaya maupun aturan yang berlaku.
Kyai Soedja’

Danilayin atau H. Muhammad Soedja.
Banyak yang belum mengenal namanya, Kyai Soedja (nama panggilan beliau). Padahal, ide pembentukan PKO ini berasal dari seorang pemuda, yang bernama Raden Danilayin atau Danil yang kemudian setelah dewasa dan menjadi Haji Muhammad Sudja (H.M Soedja).
Danil ini merupakan putra pertama dari Raden Kaji Lurah Hasyim Ismail yang lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1885. Sementara itu, Raden Kaji Lurah Hasyim adalah abdi dalem putihan yang menjabat sebagai lurah keagamaan (Kaum) pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII. H. Sudja mempunyai bersaudara yaitu Raden Muhammad Djazoeli (setelah ibadah Haji menjadi bernama H. Fachroddin), Raden Hidajat (setelah dewasa menjadi nama Ki Bagus Hadikusumo), dan Siti Bariyah.
Perlu kita ketahui, bahwa Raden Kaji Lurah Hasyim adalah contoh sosok pengkader Muhammadiyah yang sejati. Menurut Hajriyanto Y. Thohari, dalam tulisannya di web Majalah Republika, semua putra-putri Raden Kaji Lurah Hasyim Ismail adalah kader-kader awal dan utama Muhammadiyah pada masa awal dan berhasil menjadi pemimpin-pemimpin utama Muhammadiyah yang luar biasa perannya pada masa-masa formasi Muhammadiyah. Ke delapan putra-putri Haji Hasyim tersebut secara berurutan adalah sebagai berikut:
- Pertama, Siti Djazimah (aktivis ‘Aisyiyah awal),
- Muhammad Soedja (Ketua PKO pertama),
- Haji Fachrodin (Wakil Ketua Hoofbestur atau HB Muhammadiyah),
- Ki Bagus Hadikusumo (Ketua Hoofbestur atau HB Muhammadiyah),
- Haji Zaini,
- Siti Moendjijah (Ketua ‘Aisyiyah),
- Siti Bariyah (Ketua ‘Aisyiyah pertama), dan
- Siti Walidah (berbeda dengan Walidah yang isteri Ahmad Dahlan).
Kembali pada Kyai Soedja atau Danilayin. Danil muda mendapat pendidikan agama dari orangtuanya yang memang merupakan salah satu pemuka agama (kaum) di kampung Kauman. Ia juga belajar dari Lurah abdi dalem atau Ketib (Khotib) yang lainnya di Masjid Gedhe Kauman serta pula pernah ‘nyantri’ pada Pondok Pesantren Wonokromo, Bantul, Yogyakarta.
Sejak muda, Kyai Soedja ini merupakan seorang pembelajar otodidak atau belajar secara mandiri dan berpikiran kritis dan visioner. Oleh Kyai Dahlan (panggilan KH. Ahmad Dahlan), Daniliyin ini sejak muda telah dikader menjadi kadernya dengan berbagai metode baik secara langsung, mengaji, diskusi, penugasan dan lain sebagainya. Setelah Muhammadiyah resmi didirikan, beliau belum termasuk dalam struktur kepemimpinan Muhammadiyah mengingat usianya yang masih muda. Namun dalam gerak organisasinya ia sering dilibatkan oleh Kyai Dahlan. Untuk selanjutnya, penulis menggunakan nama Kyai Soedja atau Danilayin sebagai panggilan dalam tulisan ini.
Pendirian PKO
Tahun 1919 tepatnya 20 Mei 1919 Gunung Kelud (ejaan lama: Keloed) meletus, mengalirkan lahar sampai 38 kilometer ke arah Kabupaten Blitar dan sekitarnya, yang mengakibatkan sekitar 5.160 orang tewas, meluluhlantakkan banyak bangunan, sekitar 100 kampung hancur dan 15.000 hektare lahan produktif rusak parah. Pemerintah Hindia Belanda sampai kewalahan menangani bencana ini. Oleh sebab itu dibentuklah Komite Keloed (Steun Comite Keloed), suatu Komite yang terdiri dari kelompok kemanusiaan untuk membantu korban letusan Gunung Kelud pada tahun tersebut. Komite banyak ini melibatkan berbagai pihak, termasuk anggota Muhammadiyah dari Kampung Kauman yang dikomandoi Danilayin (Kyai Soedja), para pegiat kemanusiaan dari berbagai latar belakang di Yogyakarta (pribumi maupun bangsa Belanda maupun etnis lain), dan bahkan dokter-dokter serta intelektual Belanda. Tugas kelompok ini menggalang dana, logistik, dan tenaga medis untuk korban yang menunjukkan semangat toleransi kolaborasi lintas suku, agama, dan etnis berbasis kemanusiaan.
Seperti dirilis Suara Muhammadiyah TV dalam video yang berjudu Steun Comite Keloed dan PKO merupakan embrio bagi gerakan MDMC – Historimu #6 menulis: Dalam “Verslag openbare vergadering P.K.O.” (lihat Soewara Moehammadijah October 1923 Tahooen 4) dilaporkan bahwa Hoofdbestur Muhammadiyah Bagian PKO telah menggelar rapat (vergadering) di Lodge (Loji) Malioboro (sekarang Gedung Agung) pada tanggal 25 Agustus 1923. Rapat dihadiri 500 orang. Mewakili pemerintah kolonial dr. Offringa dan dr. John hadir dalam acara tersebut. Beberapa tokoh Tionghoa disebutkan turut hadir dalam rapat tersebut. Adapun para jurnalis media massa yang hadir seperti utusan Soerabaia Handelsblad, Boedi Oetomo, Pewarta Soerabaia, Sin Po, Perniagaan, Djawa Tengah, Bintang Islam, Soewara Moehammadijah, dan Centraal Tiong Hwa. Selebihnya, peserta vergadering adalah para anggota dan pengurus Muhammadiyah, terutama dari Bagian PKO.
PKO, atau Penolong Kesengsaraan Oemoem, kini berubah nama bernama PKU atau Pembina Kesejahteraan Umat, resmi didirikan pada tanggal 17 Juni 1920, pada Rapat Oemoem Terbuka (Openbare Vergadering) Muhammadiyah tahun 1920 yang dipimpin langsung oleh KH. Ahmad Dahlan. Ide pembentukan PKO ini berasal dari seorang pemuda, yang bernama Raden Danilayin atau Haji Muhammad Sudja (H.M Soedja).
Pembentukan Bagian PKO ini sebenarnya menjadi pemikiran Danilayin sejak lama, paling tidak setahun sebelum Rapat Umum Terbuka (sekarang disebut Muktamar) 1920, yaitu setelah dibentuknya Komite Keloed tersebut di atas. Komite ini menginspirasi beliau untuk membentuk suatu badan atau bagian dari gerakan Muhammadiyah yang bertugas sebagai ‘penolong kesengsaraan oemat’ yang sedang tertimpa musibah.
Kendati bantuan hasil penggalangan yang dilakukan gagal dikirim ke korban letusan Gunung Kelud, sebab ‘dawuh’ Sri Sultan Hamengku Buwono VII agar bantuan tersebut diberikan kepada orang miskin di Yogyakarta, karena urusan korban letusan Gunung Keloed telah ditangani oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Dana dan semua yang sudah dikumpulkan oleh Komite Keloed oleh Kyai Soedja digunakan oleh kawan-kawan untuk menolong fakir, miskin, kelompok miskin di wilayah Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Ide PKO ini disampaikan kepada gurunya, KH. Ahmad Dahlan dan gayung bersambut, ide PKO ini diterima dan Danilayin ditetapkan sebagai Ketua Bagian PKO, bersama dibentuknya Bagian-Bagian lainnya sebagai kelengkapan unsur pembantu pimpinan pusat (hoofdbestuur) Muhammadiyah.
Bagian-Bagian yang disepakati dibentuk yaitu;
- Bagian Tabligh: Dipimpin oleh H. Fachrodin, fokus pada syiar dan penyebaran ajaran Islam;
- Bagian Pengajaran: Dipimpin oleh H. Hisyam, berperan dalam pendidikan dan pengajaran melalui sekolah;
- Bagian Taman Poestaka: Dipimpin oleh H. Mochtar, bertugas mengelola kepustakaan dan literasi; dan
- Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO): Dipimpin oleh H. Sjoedja, berfokus pada bantuan sosial dan kesehatan.
Kemudian oleh Kyai Dahlan, keempatnya diminta mempresentasikan ide-ide pokok tentang bagian yang diketuai masing-masing pada Rapat Oemoem Terbuka tanggal 17 Juni 1920 disaat pelantikan keempat pimpinan bagian tersebut. Untuk Ketua PKO, Kyai Soedja dibantu oleh Sekretaris yaitu Drijowongso (diangkat menjadi Sekretaris PKO pada Peringatan Perkoempoelan Tahoenan Moehammadijah 30 Maret – 2 April 1923 di Jogjakarta).
Pada saat pelantikan di Rapat Oemoem Terbuka tersebut, Kyai Soedja mempresentasikan bagiannya, main job description bagian, dan juga sebagai langkah nyatanya beliau mengemukakan rencana membangun hospital atau Ziekenhuis (rumah sakit), Armenhuis (rumah miskin), Weeshuis (panti yatim) serta Gerakan Pengumpulan Zakat.
Mendengar pemaparan rencana tersebut, para hadirin yang mengikuti Rapat Oemoem Terbuka dan pelantikan para Ketua Bagian itu mentertawakan ide-ide dari Kyai Soedja. Dalam pemikiran para hadirin, yang dikemukakan langsung dalam rapat tersebut, urusan hospital dan armhuis adalah urusan Pemerintah (Kolonial Belanda) dan bahkan dikatakan bahwa apakah Kyai Soedja akan meniru ‘kaum kafir’ (bangsa Belanda) yang mempuyai hospital Bethesda (Petronella Zienkenhuis) dan Panti Rapih (Onder de Bogen Zeinkenhuis).
Dalam keriuhan kehebohan ide-ide yang dianggap ‘muluk-muluk’ para hadirin, Kyai Dahlan berusaha menenangkan rapat dan mengajak hadirin untuk terus mendengarkan pemaparan lanjutan Kyai Soedja yang terhenti sejenak tersebut. Setelahnya Kyai Soedja dengan saksama memaparkan perincian rencananya dan mengingatkan hadirin tentang inti Surah Al Ma’un dan ide-ide termaksud adalah pengejawatahan dari surah tersebut. Diingatkan tentang isi dan inti Surah Al Maun tersebut para hadirin menjadi terang pemikirannya dan mulai memahami ide-ide yang disampaikan.
Penulis menilai, bahwa ide ini adalah revolusioner dan visioner, ide yang melompat jauh dari jamannya, penuh tantangan dan rintangan, dimana kala itu bangsa ini pada saat itu, juga gerakan Muhammadiyah masih sangat awal pemikirannya, pendanaan dan sumber daya manusianya. Bahkan, pengamalan Al Ma’un dalam bentuk bagian-bagian dari PKO ini merupakan fresh idea, ide yang belum pernah terpikirkan orang pada jamannya, dibanding bagian-bagian lain sebagai kelengkapan struktur organisasi Muhammadiyah.
Pada perkembangannya, Ide PKO dan bagian-bagian di dalamnya ini kelak terwujud satu persatu. Walau, tantangan dan rintangan baik dari kalangan internal maupun masyarakat dan juga Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Pandangan negatif dan meremehkan masyarakat kala itu dapat dikikis pelan-pelan oleh kesigapan dan pelayanan para insan PKO yang tiada kenal lelah melayani masyarakat dengan fasilitas yang dimilikinya. Dasar dari pelayanan ini adalah inklusivisme dan humanisme universal, yaitu pelayanan yang menyeluruh, merata, tidak membeda-bedakan suku, agama dan ras masyarakat.
Pandangan masyarakat yang belum tahu fungsi dan apa itu rumah sakit (klinik kesehatan kala itu), masih banyak yang percaya pada dukun, klenik dan orang pintar, pelan-pelan diterangkan PKO Moehammadijah. Selain itu, pelayanan PKO tidaklah mencari keuntungan namun didasarkan pada kewajiban agama untuk menolong dan peduli pada sesama khususnya pada kaum dhuafa, dengan penuh keikhlasan (Al Ma’un Spirit).
Dalam perjalanan awal, sempat pula terdapat rintangan berupa pembiayaan guna mendanai operasional bagian-bagian dari PKO ini. Seringkali terjadi defisit anggaran operasional. Bahkan tercatat akhirnya untuk mendanai Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memberikan subsidi sebesar 1.200 Gulden dan Sri Paku Alam VII memberi subsidi sebesar 300 Gulden untuk gerakan PKO bagian kesehatan ini. Tahun 1929 PKO di bawah kepemimpinan dr. Sampoerno menerima subsidi dari pemerintah kolonial sebesar 5.400 Gulden dan juga dari Keraton Yogyakartasebesar 3.023,53 Gulden, disamping pendapatan dari pemasukan pasien sebesar 2.345 Gulden dan wakaf serta sumbangan dari warga persyarikatan.
PKO bagian kesehatan mulai mendirikan Klinik pada 15 Februari 1923 yang dipimpin oleh dokter pribumi muslim bernama Mas Dokter Soemowidagdo, seorang dokter pemerintah Hindia Belanda atau gouverments-indisch arts. Bahkan sebelumnya seorang dokter berkebangsaan Belanda yaitu Dokter Royen yang bersimpati pada gerakan PKO ini menyatakan siap bergabung, namun hal itu tidak terwujud karena Sri Sultan HB VIII meminta sang dokter bertugas di tempat lain. Lokasi Klinik tersebut adalah di Kampung Jagang Notoprajan No.72 Kota Yogyakarta (sekarang menjadi SD Muhammadiyah Notoprajan). Menurut catatan sejarah Muhammadiyah, kala itu biaya berobat di klinik PKO sebesar 10 sen, sedangkan biaya rawat inap per hari sebesar 2 gulden. Namun demikian, klinik PKO memberikan pengobatan gratis kepada orang yang tidak mampu (kaum dhuafa).
Dokter Soemowidagdo bertugas di PKO sampai tahun 1926 dan kemudian karena beliau ditugaskan di Batavia, kedudukannya digantikan oleh dr. Soekiman Wirjosandjojo (kelak menjadi Perdana Menteri Indonesia yang ke-6). Dr. Soekiman menjabat sebagai Direktur PKO Moehammadijah sejak 1926 sampai 1930, dan setelah itu beliau pamit untuk meneruskan karirnya di bidang politik dan dunia pergerakan. Beliau digantikan oleh dokter Sampoerno. Kendati demikian, dr. Soekiman tetap berdiri di belakang layar, memberikan advis kepada dr. Sampoerno dalam menjalankan PKO Moehammadijah tersebut. Kelak, dr. Soekiman juga ikut mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta yang kemudian dikemudian hari menjadi Universitas Islam Indonesia.
Pada perkembangan fisik PKO Moehammadijah, dikarenakan jumlah masyarakat yang harus dilayani makin banyak dan juga klinik dikembangkan menjadi Poliklinik sehingga lokasi pelayanan juga harus membutuhkan ruang yang luas maka di tahun 1928 lokasi perlu dipindahkan ke tempat yang lebih memadai dengan menyewa sebuah bangunan di Jl. Ngabean (sekarang Jl. KH. Ahmad Dahlan) No.12 B di Kota Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1936 poliklinik PKO Muhammadiyah dipindahkan lokasinya yang lebih luas yaitu ke Jl. Ngabean No. 20 Yogyakarta hingga saat ini. Pada tahun 1970-an status klinik dan poliklinik berubah menjadi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Untuk penamaannya sebelum tahun 1947 masih memakai nama PKO Moehammadijah (Ejaan Van Ophuijsen), namun di tahun 1947, Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) diberlakukan sehingga O pada Oemoem disesuaikan dengan ejaan Republik menjadi U (Umum). Dimana PKO menjadi PKU. Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1970-an status klinik dan poliklinik berubah menjadi Rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Sejarah mencatat, PKO Moehammadijah adalah rumah sakit pertama yang didirikan dan dimiliki oleh pribumi bangsa Indonesia. Kini, berdasarkan data, Pada tahun 2024, Muhammadiyah memiliki 141 rumah sakit dan lebih dari 400 klinik dengan nama Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, atau nama-nama lain sesuai kearifan lokal atau juga dikelola oleh universitas Muhammadiyah yang memiliki fakultas Kedokteran.
Selain bagian-bagian di atas, pada perkembangan awal, dirintislah PKO Bagian Penolong Haji pada tahun 1921. Kyai Soedja terlibat dalam pembentukan Bagian Penolong Haji setelah ia ditunjuk oleh K.H. Ahmad Dahlan untuk memimpin perjalanan haji yang dikoordinir oleh Bagian Penolong Haji, melakukan survei kondisi perjalanan haji, dan memperkenalkan Muhammadiyah kepada pemimpin tanah suci, Mekkah, Arab Saudi.
Tujuan Muhammadiyah mengirim delegasi ke Arab Saudi ini adalah untuk bernegosiasi dengan otoritas setempat guna memperjuangkan hak dan pelayanan jemaah haji Hindia Belanda. Perjalanan ini tejadi pada tahun 1922. Kyai Soedja melaksanakan tugas ini bersama Wirjopertomo. Atas usaha dan ketekunannya, Kyai Soedja kemudian dikenal sebagai pelopor perbaikan perjalanan haji Indonesia. Di masa kemerdekaan Kyai Soedja kemudian mendirikan PPHI (Panitia Perbaikan Haji Indonesia). Harian De Locomotif tanggal 30 Juni Tahun 1930 memberitakan bahwa PKO Moehammadijah mendirikan rumah sakit Lapangan atau Poliklinik Haji di Mekkah.
PKO di Masa Kini
PKO sebagai embrio gerakan filantropi persyarikatan kemudian berkembang di Muhammadiyah menjadi majelis dan lembaga seperti, MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat), suatu lembaga yag bertugas mengembangkan program-program untuk memberdayakan masyarakat, seperti petani, nelayan, buruh, dan kelompok dhuafa, agar lebih mandiri dan meningkatkan kesejahteraannya baik untuk individu, kelompok masyarakat, masyarakat marjinal ataupun di daerah terpencil atau tertinggal.
Kemudian, ada MPKU (Majelis Pembinaan Kesehatan Umum) yang saat ini membawahi pembinaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) kesehatan seperti Rumah Sakit, Klinik dan bentuk lembaga Kesehatan PKU Muhammadiyah (atau bernama lain), MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center). Pendirian MDMC ini juga diinspirasi dari Steun Comite Keloed dan PKO yang dirintis sejak 2007 dan dilembagakan pada Muktamar Muhammadiyah tahun 2010. Majelis ini singkatnya berfungsi sebagai penyelenggara utama kegiatan dan pembinaan kesehatan Muhammadiyah, yang mencakup pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan, penelitian, dan advokasi untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan kesehatan di masyarakat, terutama bagi kaum dhuafa.
Inspirasi PKO di bidang aksi sosial sekarang terwujud nyata dan profesional dengan adanya MPS (Majelis Pelayanan Sosial). Untuk gerakan sosial lainnya saat itu, aksi-aksi yang bertujuan sosial, mengurus orang yang terlantar dan mati di jalan atau di rumah, khususnya kaum dhuafa, saat ini terwujud dengan adanya AmbulanMu, armada Ambulan di bawah pembinaan MPS yang siap bergerak membantu masyarakat dimanapun, dan dimiliki oleh Rumah Sakit, Klinik atau Pimpinan Cabang atau Pimpinan Ranting. Selain AmbulanMu, juga ada program unggulan PKU yaitu Rumah Singgah Pasien Muhammadiyah, Muhammadiyah Children Center, Muhammadiyah Difability Center dan sebagainya. Panti Asuhan, Panti Lansia, Panti Yatim Piatu dan lain-lain masuk dalam Majelis ini.
Untuk bagian Distribusi Zakat PKO juga mengembangkan lembaga amil zakat yang terorganisir dan profesional dan dipercaya masyarakat pada Persyarikatan Muhammadiyah yang kelak di bernama LazisMu (Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah). Lembaga ini bertugas mengelola dana zakat, infak, wakaf, dan sedekah lainnya dari berbagai sumber untuk kemudian disalurkan dan digunakan secara produktif guna memberdayakan masyarakat.
Jalan Ninja Al-Ma’un
PKO Moehammadijah
Menyimak sejarah dan kisah perjuangan KH. Ahmad Dahlan, Kyai Soeja, Kyai Drijowongso, dr. Soemowidagdo, dr. Soekiman, dr. Soeparno dan seluruh insan pendiri dan pembangkit Bagian PKO Moehammadijah kita dapat menyimpulkan bahwa dalam menyampaikan cita-cita sampai terwujudnya aksi dan fasilitas fisik dari berbagai bagian dari gerakan PKO Moehammadijah yaitu Ziekenhuis (rumah sakit), Armenhuis (rumah miskin), Weeshuis (panti yatim) serta Gerakan Pengumpulan Zakat, mereka telah menempuh Jalan Ninja, selalu istiqomah dalam mengamalkan Surah Al Ma’un secara kaffah, penuh totalitas dan dedikasi tinggi, bekerja untuk persyarikatan tanpa memperdulikan kepentingan pribadi.
Tanpa menafikan para pejuang Muhammadiyah dari Bagian yang lain tentunya, ‘Jalan Ninja Al Ma’un’ ini selalu menjadi pedoman insan-insan PKO Moehammadijah sampai sekarang. Perjuangan pendahulu PKO kini banyak diteruskan oleh insan kader Moehammadiyah di seluruh tingkatan, mulai dari Pimpinan Pusat, Wilayah, Cabang dan bahkan Ranting.
Jika dahulu Rumah Sakit PKU Muhammadiyah diusahakan di Pusat Muhammadiyah (baca: Jogjakarta), pada perkembangannya, makin banyak rumah sakit, klinik, balai kesehatan dan lain sebagainya. Tingkat PCM (Pimpinan Cabang Muhammadiyah) dan PRM (Pimpinan Ranting Muhammadiyah) bahkan saat ini sudah banyak yang memiliki AUM sekelas Rumah Sakit (dengan berbagai tipe tingkatan) ataupun Klinik Utama.
Tantangan biaya dan pendanaan, perijinan dan hal-hal yang bersifat teknis bahkan tantangan non teknis seperti penolakan lingkungan sekitar masyarakat yang heterogen alhamdulillah banyak dilewati oleh para kader Muhammadiyah di semua lini tingkatan dalam mewujudkan berdirinya AUM bagian PKU ini. Penulis melihat, bagian PKU kesehatan yang banyak diusahakan oleh kader Muhammadiyah bahkan di tingkat PCM dan PRM, kemudian bagian distribusi amal zakat (LazisMU) dan penolong kesengsaraan umat saat bencana dan musibah (MDMC) diikuti kemudian bagian rumah miskin maupun panti yatim. Dalam perjalanannya terwujud, hal non teknis penolakan masyarakat tersebut berganti menjadi pujian atas pelayanan dan keprofesionalan PKU Muhammadiyah. Menurut penulis, inilah semangat ‘Jalan Ninja Al Ma’un’ yang diwariskan oleh pendahulu-pendahulu PKO Moehammadijah, yang seiring perkembangan zaman ide-idenya terus berkembang dan berkelanjutan.
Semangat menggembirakan, mencerahkan dan berkemajuan ini adalah Jalan Ninja Al-Ma’un kader Muhammadiyah di manapun berada.
Penulis: Utomo Dwiharsanto, ST., MM., CHD, CPM, CHCM, CPTM
Anggota Majelis Ekonomi PCM Muhammadiyah Grabag – Kab. Magelang
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.