
Orang-orang menyebutnya alat tukar,
Padahal ia adalah keringat yang gugur di sudut-sudut pasar
Jejak langkah yang lelah menyusuri jalan,
Dan doa-doa yang terhembus di sela napas yang tertahan.
Ia bukan sekadar angka di atas kertas,
Melainkan detik-detik yang direnggut paksa dari batas
Waktu yang terpotong dari pelukan anak
Pagi yang hilang, digantikan oleh bayang-bayang gelap
Ia adalah mimpi yang rela ditangguhkan,
Sayap-sayap yang dilipat demi dapur yang tetap berasap
Ia adalah malam-malam panjang tanpa tidur
Dan pagi-pagi yang datang tanpa sempat menyapa subuh
Orang-orang menyebutnya rezeki,
Padahal ia adalah waktu yang dikorbankan tanpa jeda
Rindu yang diredam demi piring yang terisi
Dan langkah-langkah tabah yang terus melawan sunyi
Namun, di balik semua itu ada kekuatan
Ada jiwa yang terus bertahan di tengah himpitan
Sebab meski tenaga ini digilas jam
Semangat tetap menyala, tak pernah padam
Jadi, biarlah ia disebut apa saja
Alat tukar, rezeki, atau sekadar angka
Karena di balik setiap lembarannya yang usang
Ada cerita perjuangan yang takkan hilang
To My Dad and My Mom, sujudku takkan pernah terhenti untuk kalian
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.