Oktober 9, 2026
Foto : Alm. Ibu Supiyah Supangat di kebun singkong

Orang-orang menyebutnya alat tukar,

Padahal ia adalah keringat yang gugur di sudut-sudut pasar

Jejak langkah yang lelah menyusuri jalan,

Dan doa-doa yang terhembus di sela napas yang tertahan.

Ia bukan sekadar angka di atas kertas,

Melainkan detik-detik yang direnggut paksa dari batas

Waktu yang terpotong dari pelukan anak

Pagi yang hilang, digantikan oleh bayang-bayang gelap

Ia adalah mimpi yang rela ditangguhkan,

Sayap-sayap yang dilipat demi dapur yang tetap berasap

Ia adalah malam-malam panjang tanpa tidur

Dan pagi-pagi yang datang tanpa sempat menyapa subuh

Orang-orang menyebutnya rezeki,

Padahal ia adalah waktu yang dikorbankan tanpa jeda

Rindu yang diredam demi piring yang terisi

Dan langkah-langkah tabah yang terus melawan sunyi

Namun, di balik semua itu ada kekuatan

Ada jiwa yang terus bertahan di tengah himpitan

Sebab meski tenaga ini digilas jam

Semangat tetap menyala, tak pernah padam

Jadi, biarlah ia disebut apa saja

Alat tukar, rezeki, atau sekadar angka

Karena di balik setiap lembarannya yang usang

Ada cerita perjuangan yang takkan hilang

To My Dad and My Mom, sujudku takkan pernah terhenti untuk kalian

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca