Oktober 9, 2026

Qorun (Bag #6) Dari Reruntuhan Qarun, Bangunlah Menara Syukur: Sebuah Renungan Abadi

Oleh : M. Syarif Hidayatullah, S. Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu

Melanjutkan artikel sebelumnya yang bisa pembaca kunjungi di: Qorun (Bag #5) “Dari Decak Kagum ke Gema Peringatan: Transformasi Kesadaran Massa”

Dari setiap lembar kisah Qarun yang telah kita telusuri, dari puncak kemewahan hingga ke dalam pusara bumi, kini tiba saatnya untuk menyatukan semua fragmen menjadi sebuah mozaik kebijaksanaan yang utuh. Bagian terakhir dari serial ini mengajak kita melampaui narasi historis menuju ruang renungan yang paling personal—sebuah cermin tempat kita berkaca, menanyakan pada diri: Di manakah posisi kita dalam lakon abadi antara syukur dan ingkar ini.

Al-Qur’an tidak hanya mengakhiri kisah Qarun dengan kehancuran, tetapi dengan sebuah gema peringatan yang bergaung melintasi zaman, dalam Surah Al-‘Ankabut:

وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ

“Dan (juga) Qarun, Firaun dan Haman. Dan sungguh, telah datang kepada mereka Musa dengan membawa bukti-bukti yang jelas. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi dan tidaklah mereka orang-orang yang luput (dari azab Kami).” (QS. Al-‘Ankabut: 39).

Ayat diatas dengan genius menyatukan tiga archetype kezaliman: Firaun (simbol kesombongan politik dan klaim ketuhanan), Haman (simbol kesombongan intelektual dan administratif), dan Qarun (simbol kesombongan ekonomi dan material). Bersama, mereka membentuk trinitas keangkuhan yang menolak kebenaran dengan cara masing-masing. Namun, hasil mereka sama: “wa mā kānū sābiqīn” — mereka tidak bisa melarikan diri.

Ini mengajarkan bahwa kesombongan memiliki banyak wajah—dan kita bisa terjebak dalam salah satunya tanpa menyadarinya. Kita mungkin bukan Firaun yang mengaku tuhan, tapi mungkin kita menyembah ego kita sendiri. Kita mungkin bukan Haman yang membangun menara tinggi, tapi mungkin kita membangun tembok arogansi intelektual. Kita mungkin bukan Qarun dengan harta yang dibenamkan, tapi mungkin kita tenggelam dalam ilusi kepemilikan.

Di Mana Qarun Bersemayam dalam Diri Kita?
–   Apakah dalam kebanggaan kita pada pencapaian material, hingga lupa bahwa semua itu adalah amanah?
–   Apakah dalam bisikan halus bahwa “ini semua hasil usahaku sendiri,” yang mengikis rasa syukur?
–   Apakah dalam kecenderungan untuk pamer dan mencari validasi melalui barang yang kita miliki?
–   Apakah dalam ketakutan untuk berbagi, karena menganggap rezeki yang datang adalah milik kita sepenuhnya?

Setiap kali kita merasa memiliki sesuatu—baik itu harta, jabatan, pengetahuan, atau bahkan pengikut di media sosial—saat itulah jiwa Qarun dalam diri kita bisa terbangun. Tantangannya bukan untuk tidak memiliki, tetapi untuk memiliki tanpa dimiliki oleh apa yang kita miliki.

Kisah Qarun bukan mengajak kita untuk menolak kekayaan, tetapi untuk merayakannya dengan cara yang benar—dengan syukur yang tulus, kerendahan hati yang mendalam, dan tanggungjawab sosial yang nyata. Syukur bukan sekadar ucapan di mulut, tetapi:
–   Pengakuan hati bahwa segala sesuatu adalah pemberian
–   Penggunaan yang proporsional—untuk diri dan untuk berbagi
–   Pencegahan dari kesombongan yang merusak.

Di akhir renungan ini, mari kita mengambil hikmah dari tenggelamnya Qarun—bukan sebagai kisah horor, tetapi sebagai peringatan penuh kasih. Setiap kali kita melihat kemewahan dunia, setiap kali kita mencapai kesuksesan, dan setiap kali kita tergoda untuk membanggakan diri, ingatlah: bumi yang kita pijak ini suatu kali pernah terbuka untuk menelan kesombongan.

Maka, berjalanlah dengan rendah hati di atas bumi. Milikilah dengan tangan terbuka. Berbagilah dengan hati yang lapang. Dan yang terpenting, selalu ingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki—nafas dalam hidung, detak jantung, pikiran yang jernih, dan setiap keping rezeki—adalah pinjaman ilahi yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.

Kisah Qarun mungkin berakhir di sini, tetapi pilihan kita terus berlanjut: apakah akan menjadi hamba yang bersyukur atau yang ingkar? Jawabannya ada dalam setiap detik hidup kita. Wallahu a’lam…

Serial Tulisan Bersambung “Kisah Qarun dalam Al-Qur’an” telah usai. Semoga membawa manfaat dan pencerahan bagi kita semua.

Semut Ibrahim Mediatama haturkan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada Ustadz M. Syarif Hidayatullah, S. Ag., M.M.Inov yang terus membersamai Semut Ibrahim dengan tulisan-tulisannya yang memantik ke-relijian kita semua.(Red/SIM)


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca