Oktober 9, 2026

Disampaikan Oleh : Haremen

Gambar ilustrasi

Di jantung Kathmandu, gedung parlemen terbakar, bukan oleh api kayu atau kabel pendek, tetapi oleh bara keberanian pemuda—pemuda yang menolak diam, pemuda yang menolak lutut palsu.Menteri diusir, dipukuli, terlempar ke kali dari jembatan, dan dunia menyaksikan, ternganga, bagaimana istri seorang menteri meregang nyawa, terbakar oleh kemarahan rakyat yang tidak lagi sabar. Tidak hanya itu, pihak kepolisian mereka lumpuhkan dan orang-orang kaya lari terbirit-birit ke negara tetangga.

Sebelum huru-hara, di ruang-ruang parlemen yang seharusnya suci, terlihat kepengecutan merayap di tubuh wakil rakyat Nepal. Mereka menunduk, bukan pada rakyat, bukan pada amanah yang diemban, tetapi pada kekuasaan uang yang manis, pada janji kosong koalisi sekutu partai.

Sebelum huru-hara, di balik senyum diplomatis dan pidato megah, ada kaki yang berlutut, tangan menadah, hati terkunci oleh ketakutan: takut kehilangan kursi, takut kehilangan pamrih, takut dicabut izin berkhianat secara elegan.

Bila ingin melihat kejujuran suci, perhatikan mereka di rumah ibadah, di sana hanya ada satu yang mereka tundukkan : Tuhan Yang Maha Esa, dan siapa pun yang menolak kompromi, tetap teguh pada amanah—taat azas, tunduk pada undang-undang, justru dianggap melawan kemunafikan, dengan segera mereka akan diganti, dicopot, diganti, di PAW, oleh sistem haus penaklukan, oleh hirarki yang haus darah moral.

Sebelum huru-hara, datanglah ke gedung parlemen, di sana Wakil Rakyat berlutut, tersenyum puas, menyaksikan kaki-kaki yang melayani iblis oligarki, menikmati setiap kontrak kotor, setiap senyum palsu, setiap MoU dibuat untuk menipu keadilan yang mengangkangi undang-undang.

Sebelum huru-hara, datanglah ke gedung-gedung kementrian dan istana Perdana Menteri Nepal, di sana iblis oligarki berunding, mengukir kesepakatan yang menindas rakyat, mengatur dunia dengan hak istimewanya sendiri. Undang-undang hanyalah kertas, hukum hanyalah bayangan, disaat iblis berkuasa dengan uang dan sefala tipu dayanya.Namun ada senjata yang tidak bisa dilawan iblis : kejujuran. Amanah yang teguh, doa yang membakar langit, dapat meruntuhkan satu generasi penipu, pengkhianat, dan sekutunya. Itu semua atas kehendak Tugan Yang Maha Esa, yang menegakkan hak, mengangkat yang lemah, meruntuhkan yang angkuh, dan membersihkan yang kotor.

Gedung rakyat yang pernah diduduki penipu kini berganti penghuni. Demonstran hadir—pemuda yang berani, pemuda yang merasakan darah tanah airnya mengalir di jantungnya, pemuda yang menyalakan api perubahan untuk menghapus debu kepalsuan dan kebusukan.Sebelum huru-hara, Wakil Rakyat berlutut pada Ketua Partai, Ketua Partai berlutut pada Perdana Menteri, Perdana Menteri berlutut pada Wakil Rakyat, dan di atas semua itu, iblis oligarki tersenyum puas, menguasai hirarki kebusukan legislatif, eksekutif, yudikatif Nepal dan semua itu berlutut padanya.

Tetapi hari ini, hirarki itu telah runtuh. Bukan karena uang, bukan karena kekuasaan, tapi karena keteguhan hati, karena amanah, karena keberanian. Dan ketika hari itu tiba, suara rakyat bergema : menghapus jejak kepengecutan, mengangkat bangsa dari lutut iblis, menuju cahaya keadilan yang hakiki, menuju fajar baru Nepal yang merdeka dari dusta, pengkhianatan dan penindasan.

“BRAVO GERAKAN PEMUDA NEPAL BERSATU”

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca