Disampaikan Oleh : Haremen

Di lorong sunyi negeri, ada angka raksasa, dua ratus delapan puluh lima triliun —bukan sekadar bilangan, tapi luka yang membelah sejarah. Mahfud MD, mantan penjaga hukum dan politik negeri, berbisik dalam nada getir : “Sesungguhnya, Jokowi tahu…” tentang Riza Chalid, sang bayangan, yang menimbun harta dari keringat rakyat, menyembunyikan jejak korupsi yang mencekik perut anak bangsa.
Namun, kebenaran itu tidak pernah dibuka, bukan karena tak mampu, melainkan takut pada badai politik yang bisa mengguncang istana. Takut pada bayang-bayang kekuatan, takut pada retak aliansi, takut pada rakyat yang marah jika tahu uang mereka dicuri dalam gelap yang panjang.
Lalu zaman berganti, Prabowo Subianto naik tahta, sang jenderal yang kini presiden. Ia membuka lembar lama yang berdebu di laci kuasa. Kasus besar itu ditarik ke terang, disebutkan di hadapan publik, seperti menghunus pedang ke jantung gelap oligarki.
Rakyat pun terhenyak : “Inikah uang yang seharusnya jadi sekolah? Jalan dan jembatan?Rumah sakit dan pangan? Tapi hilang jadi tembok emas seorang mafia minyak?”
Suara Mahfud bergema, suara presiden baru menguat, namun pertanyaan tetap membara : Apakah kebenaran benar-benar dibuka? Atau hanya sebagian ditampilkan, sementara sisa cerita tetap terkubur, seperti bangkai di bawah tikar istana?
Sejarah kita tahu, korupsi bukan hanya tentang angka, tapi tentang siapa yang berani menarik selubung tirai dan menanggung resiko darah politik.
Maka rakyat menunggu, dengan dada berdebar, apakah Rp 285 triliun itu akan benar-benar kembali ke tanah air yang sedih dan sakit…?
Ataukah sekali lagi, ini hanya jadi tulisan luka, yang dibacakan di panggung kekuasaan, tanpa pernah menyentuh kehidupan mereka yang masih mengais harapan di tepi jalan.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.