Disampaikan Oleh : Haremen

Di layar kaca gawai, berkelebat potret hitam putih, bukan hitam putih warna, melainkan hitam kaus, putih huruf, yang menyimpan lebih banyak cerita daripada senyum dua sahabat yang berpose.
Anies Baswedan, mantan gubernur kota yang menjanjikan kolaborasi, mengenakan Plus Jakarta Sans, font modern, lahir dari semangat zaman, sebuah identitas kota yang hendak maju, yang digagas saat ia masih berkuasa di Balai Kota.
Di sampingnya, Tom Lembong berdiri, kausnya memamerkan garis klasik Times New Roman, jenis huruf dari 1931, dibuat untuk koran Inggris The Times, dipakai pertama kali 1932, lalu menjelma menjadi wajah formalitas dunia.
“Kalau kamu jadi font apa?” tulis Anies dalam unggahan sederhana, tanpa keterangan, tanpa tafsir, hanya pertanyaan yang menyerahkan makna kepada khalayak luas, kepada gelombang komentar netizen yang tak terbendung.
Namun publik tak sekadar melihat font. Mata mereka melintas pada sejarah ijazah, pada selembar kertas pengesahan yang pernah dipertanyakan keasliannya, pada tahun 1985 yang tercetak tebal, ketika Jokowi dikabarkan lulus dari UGM.
Ahli forensik digital, Rismon Sianipar, meneliti huruf demi huruf, membandingkan tipografi, menyebut Times New Roman tak mungkin ada di era mesin ketik dan DOS, sementara lembar pengesahan itu terlihat berbalut font modern yang mestinya baru populer jauh setelahnya.
Ia lalu bandingkan dengan ijazah Bambang Nurcahyo Pratowo, alumni sebaya, yang hurufnya masih sederhana, DOS yang kaku, bukan Times yang elegan. Kontras seperti dua wajah masa, yang satu berkarat dalam hitam-putih lawas, yang satu terlalu rapi, seakan melompat ke era digital.
Warganet pun bersorak :
“Lihat baju Pak Tom, jadi ingat ijazah sebelah…”
“Wkwk Times New Roman, keluaran tahun berapa itu, Pak?”
“Halus sekali sindirnya Abah Anies dan Tom, tepat sasaran, meski mereka pasti akan menyangkal.”
Kaus itu menjadi layar, font itu menjelma satire, sebuah simbol yang berbicara lebih keras dari kata, lebih tajam dari komentar resmi, lebih ramai dari sidang akademik.
Apakah kebetulan? Apakah hanya mode yang dimainkan? Ataukah sejarah memang gemar menyelipkan sindiran dalam lipatan kain sederhana?
Maka berdirilah dua tokoh itu, seolah hanya berfoto, tapi publik membaca narasi lain: tentang kertas, tentang font, tentang tahun yang tak pernah bisa disamakan antara 1985 dan 1932.
Dan pertanyaan Anies tetap menggantung di udara: “Kalau kamu jadi font apa?”
Publik menjawabnya dengan canda, dengan sinis, dengan tawa pahit: “Aku jadi font kebenaran, yang hurufnya tidak bisa dipalsukan, tidak bisa dihapus, tidak bisa ditukar, meski sejarah sering kali mencoba mengedit dirinya sendiri.”
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.