Oktober 9, 2026

Disampaikan Oleh : Haremen

Di ruang kaca berpendingin, para Komisioner duduk menimbang, dengan tinta dan tanda tangan mereka sempat menulis aturan yang menutup mata publik, menyegel ijazah, membungkam dokumen, seakan-akan sejarah bisa dikunci dengan pasal dan nomor peraturan.

Tapi rakyat di luar sudah tak sabar lagi. Suara-suara dari jalan, teriak marah di warung kopi, dengung gaduh di media sosial, menggelegar jadi gelombang yang tak bisa dibendung.

Mereka takut—bukan pada Tuhan, bukan pada kebenaran, tapi pada massa yang siap mengetuk pintu. Mereka takut—bukan pada dusta yang disimpan, tapi pada geruduk yang nyata bisa merubuhkan tembok institusi.

Siang itu, Muhammad Afifudin bicara, dengan wajah yang mencoba tenang : “Kami minta maaf… aturan ini menimbulkan keriuhan. Percayalah, ini bukan untuk kepentingan siapa-siapa.”

Namun siapa yang sudi percaya? Di telinga rakyat, kata maaf terdengar seperti alasan, seperti kursi yang goyah mencari keseimbangan. Dan di dada rakyat, amarah tetap berkobar, karena tahu aturan itu lahir bukan dari kebijaksanaan, melainkan dari rasa takut dan mungkin… dari bisikan kuasa yang ingin melindungi bayangan gelap.

Alhamdulillah—kata rakyat—akal sehat kembali, meski setelah terpojok. Tangan-tangan yang semula hendak menutup tirai akhirnya melepaskannya, membiarkan cahaya masuk, membiarkan dokumen terbuka, meski entah sampai kapan.

Sejarah pun menulis catatan kecil hari ini: bahwa KPU bisa goyah, bahwa aturan bisa lahir lalu mati dalam sehari, bahwa kebenaran bukan dikembalikan dengan sukarela, melainkan dipaksa oleh amarah yang membara, oleh ancaman rakyat yang siap berdiri, oleh massa yang tak gentar lagi pada nama besar, pada kepalsuan, pada politik yang menipu.

Dan dari balik kaca yang bergetar, para Komisioner berbisik dalam hati : lebih baik mundur teratur, daripada digeruduk gelombang rakyat adalah yang membawa kebenaran sebagai palu.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca