Oktober 9, 2026

Disampaikan Oleh : Haremen

Foto istimewa

Di ruang sejarah yang berdebu, para pendiri bangsa dulu bersua, duduk dalam musyawarah, menyulam kata demi kata, hingga lahir Piagam Jakarta, dengan tinta perjuangan : “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya.”

Waktu bergulir, debu zaman menutup lembaran, tapi api itu tak padam, ia berpindah dari hati ke hati, dari podium ke jalanan, dari masjid ke gelanggang politik.

Lalu hadir seorang pejalan, Eggi Sudjana namanya, dengan wajah keras namun tutur lugas, membawa selembar gagasan yang disebutnya OST JUBEDIL : Objektif, Sistematis, Toleran, Jujur, Benar, Adil.

Ia meraba ayat-ayat suci, menyusunnya menjadi cermin untuk negeri yang gamang, negeri yang masih mencari arah antara demokrasi dan syariat, antara hukum adat dan modernitas.

“Ia mentadabburi Al-Qur’an, merasionalisasikannya dengan konteks zaman,” tulis Hariman Siregar dalam pengantar, tokoh Malari yang dulu menantang rezim, kini membaca Eggi sebagai jurus jitu mengurus negara.

Muslim Arbi: Dalam perjalanan Kemerdekaan Indonesia, ternyata perjuangan Penegakan Syariat Islam terus berlangsung, sehingga lahir Konsensus Nasional berupa kesepakatan bersama melalui Musyawarah Mufakat Para Pendiri Bangsa dan Negara Indonesia dari semua kelompok Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

Hariman menambahkan : “Eggi khotbahkan Islam dan demokrasi, sosial-ekonomi dan HAM, dengan cara khasnya: lugas, bebas, tegas.”

Lalu berdiri pula seorang Imam, Habib Rizieq Syihab, menggenggam sejarah dengan tangan gemetar, menunjuk Piagam Jakarta, mengutip Dekrit 5 Juli 1959, suara Bung Karno menggema kembali : “Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945, menjadi rangkaian kesatuan konstitusi kita.”

Habib menekankan : Negara ini tidak melarang pelembagaan hukum Islam, karena sejak awal, Indonesia berdiri di atas Pancasila dan UUD 1945 yang terbuka, selama ia bernaung di langit keadilan.

Maka di tangan Eggi, OST JUBEDIL bukan sekadar teori, ia adalah doa panjang untuk Indonesia Bertaqwa. Sebuah jalan yang ingin ditawarkan, agar bangsa ini tegak di antara badai modernitas dan globalisasi.

Buku setebal 433 halaman itu, menjadi saksi pergulatan pikiran, ditulis sebagai syarat akademik, namun bergema sebagai syiar, diterbitkan di tengah bangsa yang masih lapar keadilan.

Di ruang HB. Yassin, Taman Ismail Marzuki, panggung sastra bersiap menerima, tanggal 16 September 2025, buku ini dirilis ke publik. Para tokoh berkumpul: Habib Rizieq, Hariman Siregar, Eggi Sudjana, Abi Dodi, Muslim Arbi, menjadi saksi lahirnya teori yang ditujukan untuk menuntun bangsa.

Dan di Purwokerto, seseorang menulis dengan hati bergetar, bahwa buku ini bukan sekadar kata, melainkan tawaran jalan lurus, OST JUBEDIL—jurus jitu negeri, dari pikiran yang menyatu dengan iman dan harapan.

Walau Hariman Siregar jauh di Singapura, dan Habib Rizieq Syihab tertahan di Medan, namun suara mereka tidak pernah absen. Dalam ruang bedah buku, hadir bukan dengan jasad, melainkan dengan pikiran—yang menyalakan obor, membelah gelap wacana, menjadi saksi bahwa gagasan tidak pernah mengenal jarak. Takbir “Allāhu ʾAkbar.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca