Oktober 9, 2026

Disampaikan Oleh: Haremen

Di tengah hiruk pikuk kota yang berteriak, teriakan rakyat di jalanan menjadi genderang, demo yang berulang kali menyala seperti api, diikuti penjarahan, jerit lapar, dan hasrat tidak terjaga. Di sudut lain, berita menyalak — seorang ojol dan mahasiswa meregang nyawa di antara aspal dan asap, sementara isu ijazah palsu berkelindan di layar televisi, di warung kopi, di meja sidang.

Foto pahar laut beton di Cilincing

Namun, di balik semua hiruk pikuk itu, ada sebuah perubahan yang diam-diam menjelma: dulu orang mengenalnya sebagai pagar bambu, rapuh, sederhana, menyatu dengan pasir dan ombak, tempat nelayan bersandar perahu, tempat anak-anak berlari mengejar kepiting kecil sambil tertawa dengan mata penuh garam laut.

Kini pagar itu bukan lagi bambu, bukan lagi anyaman sederhana dari tangan nelayan. Ia menjelma pagar beton sepanjang empat kilometer, tegak kaku menahan gelombang, membelah laut Cilincing dari nafasnya sendiri.

Ooh, Cilincing, kota nelayan yang dulu penuh bau asin dan riuh tawar-menawar ikan kini terkurung dalam proyek-proyek raksasa. Beton menutup pandangan ke laut lepas, beton mengikat bibir pantai, beton menelan cerita pagar bambu yang dulu menjadi saksi perahu pulang menjelang subuh.

Apakah ini kemajuan, atau penjara baru? Nelayan bertanya dengan mata kosong : “Apakah beton bisa mengganti ikan-ikan yang lari ke tengah? Apakah tembok bisa memberi makan anak-anak kami yang dulu berlari di antara bambu-bambu tipis itu?”.

Sementara di televisi, orang terus berbicara tentang demo, tentang angka kematian, tentang ijazah palsu. Tidak seorang pun menyebut pagar beton yang tumbuh di laut Cilincing, seperti naga diam yang menunggu, mengubah garis pantai, mengubah sejarah dengan dingin, dengan sunyi.

Di antara teriakan rakyat di jalanan dan keheningan nelayan di tepian, ada kontras yang pahit: di kota, pagar hukum bisa dilubangi dengan uang, di laut, pagar beton menutup harapan dengan permanen.

Cilincing, oh Cilincing, engkau bukan sekadar pantai, engkau cermin zaman : ketika pagar bambu yang rapuh penuh kehidupan diganti pagar beton yang kokoh penuh kesepian.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca