(Indonesia Harus Belajar Dari Amuk Masa Nepal)

Disampaikan Oleh: Haremen
Di kaki Himalaya, di kota Kathmandu yang sesak debu, lonceng doa kuil masih bergetar lirih, tapi di jalanan bukan lagi mantra, melainkan teriakan marah yang memecah langit kelabu.
Api menjilat rumah sang perdana menteri, KP Sharma Oli, yang namanya pernah diagungkan, kini menjadi arang dalam amarah rakyat, rumah pribadinya di Balkot—menyala, terbakar, sementara rakyat berteriak : “Tanggung jawab! Darah kami tidak bisa dipadamkan dengan janji!”
Presiden Ram Chandra Poudel pun tidak luput, kediamannya di Bohoratpur diserbu, potret dirinya dilempar ke tangga, sebuah simbol : kehormatan jatuh, kekuasaan runtuh, tidak ada lagi singgasana yang aman bila rakyat sudah memutuskan melawan.
Di Sanepa, kantor pusat Kongres Nepal dilalap api, dinding-dinding tua memerah, seperti wajah rakyat yang lama menahan malu. Anggota dewan diburu massa, rumah mantan Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak, terbakar di Naikap, dan batu-batu menghantam rumah Menteri Komunikasi, Prithvi Subba Gurung, di Sunakothi, karena ia memerintahkan sunyi, memblokir suara di dunia maya, seolah kebenaran bisa dipenjarakan dengan kabel, layar, dan undang-undang.
Namun anak-anak muda Nepal tahu, bahwa sosial media bukan sekadar hiburan, itu jalan suara, itu tempat luka dituliskan, itu wadah kritik yang dicoba dibungkam. Mereka menolak dibisukan, karena korupsi sudah menutup terlalu banyak pintu, dan anak-anak pejabat—Nepo Kids—berlenggok dengan mobil mewah, jam tangan berkilau, pakain bermerek, sepatu mahal, pesta di hotel bintang lima dari hasil korupsi orang tuanya. Sementara rakyat makan bubur pahit, menyulam hidup dengan kerja super keras dan utang yang tidak terbayar.
Dua puluh dua jiwa telah gugur, nama-nama mereka tidak tertulis di undang-undang, tapi hidup mereka jadi api, yang menyalakan ribuan obor amarah.Kathmandu bukan lagi sekadar ibu kota, ia menjelma jadi bara yang merembet ke kota-kota lain. Bishnu Paudel, sang Menteri Keuangan, dikabarkan dikejar, dipukul, seolah angka-angka di tabel pajak tidak mampu lagi menutupi lapar yang nyata.
Di antara kerumunan, sirene polisi meraung, pentungan mengayun, gas air mata menyesakkan paru-paru, tapi massa tidak mundur. Karena mereka tahu, bila keadilan tidak diberikan, maka keadilan harus direbut.
Oli menyeru,”Tetaplah tenang, mari kita bertemu, mari kita duduk!” Namun rakyat menjawab dengan api dan batu : “Kami sudah terlalu lama duduk, sementara engkau dan mereka menari di atas penderitaan kami.
“Nepal, negeri atap dunia, hari ini terbakar bukan karena bara hutan, tapi karena bara hati yang dipupuk oleh sombongnya kuasa, oleh flexing anak pejabat yang menginjak perut rakyat.
Dari Kathmandu, pesan ini berlayar : Negara-negara berkembang termasuk Indonesia, belajarlah jangan biarkan kesombongan jadi percikan, jangan biarkan rakyat menjerit dalam gelap, karena ketika amarah turun ke jalan, tidak ada pagar, tidak ada istana, tidak ada jabatan yang bisa menyelamatkan.Himalaya masih berdiri, gunung-gunung masih memandang diam, namun sejarah mencatat : ketika rakyat lapar, sebuah bangsa bisa tengkurap terbakar.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.