Bahasa Cinta yang Berbeda: Kerinduan Spiritual Nabi Musa Ketika Ingin Melihat Allah
Oleh: M. Syarif Hidayatullah, S. Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu

Tulisan ini adalah bagian kedua dari tiga tulisan bersambung tentang hakikat melihat Allah, silahkan baca artikel sebelumnya “Hakikat Melihat Allah Bag 1 – Sindrom Bukti Indrawi: Ketika Iman Dijadikan Syarat oleh Bani Israil“
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Tuhan berfirman, ‘Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika gunung itu tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya kamu dapat melihat-Ku.’ Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al-A’raf : 143).
Berbeda jauh dari kelancangan Bani Israil, terdapat sebuah permintaan yang sama namun lahir dari sumber yang bertolak belakang. Permintaan itu datang dari Sang Nabi sendiri, Musa alaihissalam, di puncak momen paling intim dalam hidupnya: setelah Allah berbicara langsung kepadanya di Gunung Thur. Dalam keadaan dipenuhi cinta, kekaguman, dan kerinduan yang tak terperi, Musa pun berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143). Ini bukanlah syarat, bukan tuntutan, melainkan ungkapan rindu seorang kekasih kepada Kekasihnya. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa permintaan Nabi Musa ini lahir dari puncak kecintaan (mahabbah) dan keintiman (uns), sebuah hasrat spiritual untuk menyatu dengan Sumber dari segala sumber.Dari kacamata psikologi, ini adalah puncak dari “spiritual longing” atau kerinduan spiritual. Seperti seorang anak yang merindukan pelukan hangat ibunya setelah melalui perjalanan panjang, Nabi Musa ingin merasakan kedekatan yang paling hakiki dengan Sumber Ketenangannya. Permintaannya adalah ekspresi alami dari jiwa yang telah menyentuh puncak spiritual namun menyadari masih ada puncak yang lebih tinggi lagi yang ingin dituju. Ini adalah dorongan manusiawi untuk mengalami realitas tertinggi secara langsung.
Dari kacamata psikologi, ini adalah puncak dari “spiritual longing” atau kerinduan spiritual. Seperti seorang anak yang merindukan pelukan hangat ibunya setelah melalui perjalanan panjang, Nabi Musa ingin merasakan kedekatan yang paling hakiki dengan Sumber Ketenangannya. Permintaannya adalah ekspresi alami dari jiwa yang telah menyentuh puncak spiritual namun menyadari masih ada puncak yang lebih tinggi lagi yang ingin dituju. Ini adalah dorongan manusiawi untuk mengalami realitas tertinggi secara langsung.
Allah menjawab permintaan tulus ini bukan dengan murka, tetapi dengan pendidikan spiritual (tarbiyah) yang paling menggugah. “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku,” firman-Nya, “tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika gunung itu tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya kamu dapat melihat-Ku.” (QS. Al-A’raf: 143). Lalu, ketika Allah menampakkan sepercik cahaya keagungan-Nya (Tajalli) kepada gunung itu, gunung yang kokoh dan perkasa itu pun “hancur luluh menjadi debu”. Musa, manusia pilihan Allah itu, langsung jatuh pingsan. Demonstrasi ini bukanlah hukuman, melainkan pelajaran tentang kapasitas. Allah seakan berkata, “Wahai Musa, bukan Aku tidak ingin memperlihatkan Diri-Ku. Tetapi, ciptaan-Ku yang paling kokoh pun tak mampu menahan cahaya keagungan-Ku. Aku menjagamu karena Aku mencintaimu.“
Sadar dari pingsannya, Nabi Musa segera bertobat. Ucapannya, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman,” (QS. Al-A’raf: 143) adalah pengakuan sempurna. Ia memahami bahwa keagungan Allah mustahil terjangkau, dan iman yang tulus justru adalah merayakan ketakterjangkauan itu dengan penuh kekaguman.
Dua permintaan yang sama, “Perlihatkanlah Allah kepada kami,” tetapi dengan niat yang berbeda menghasilkan konsekuensi yang bertolak belakang. Yang satu dihukum, yang satunya dididik. Ini mengajarkan pada kita bahwa dalam hubungan dengan Allah, niat dan keadaan hati adalah segalanya. Tuhan tidak menilai dari kata-kata kita semata, tetapi dari kedalaman dan ketulusan jiwa kita. Apakah kita mendekati-Nya dengan sikap menuntut seperti Bani Israil, atau dengan kerinduan dan cinta seperti Nabi Musa?
Renungkanlah bahasa hatimu saat berdoa. Wallahu a’lam…
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.