Oktober 9, 2026

Sindrom Bukti Indrawi: Ketika Iman Dijadikan Syarat oleh Bani Israil

Oleh: M. Syarif Hidayatullah, S. Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu

Tulisan ini adalah bagian pertama dari tiga tulisan bersambung tentang hakikat melihat Allah.

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

“Dan (ingatlah) ketika kamu (Bani Israil) berkata, ‘Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas (terang benderang),’ maka halilintar menyambarmu saat kamu menyaksikannya.” (QS. Al-Baqarah : 55)

Dalam perjalanan spiritual umat manusia, terdapat sebuah episode kelam yang menjadi pelajaran abadi tentang kesombongan intelektual dan spiritual. Episode itu adalah ketika tujuh puluh orang terpilih dari Bani Israil -para pemuka dan cendekia yang dipilih oleh Nabi Musa untuk menyaksikan sebuah peristiwa agung di gunung- setelah diselamatkan dari kejaran Fir’aun dan dilimpahi mukjizat, justru membuat syarat yang tak pantas untuk iman mereka. Mereka berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas (terang benderang).” (QS. Al-Baqarah: 55).

Menurut penafsiran Imam Ath-Thabari dalam Jami’ al-Bayan, ketujuh puluh orang ini sebenarnya adalah elite spiritual Bani Israil yang justru seharusnya menjadi teladan dalam keimanan. Permintaan yang tercatat dalam sejarah ini bukan lahir dari kerinduan, melainkan dari sebuah keinginan untuk mengontrol dan membatasi Kuasa Ilahi dengan logika indrawi mereka sendiri. Mereka terjebak dalam apa yang dalam psikologi modern bisa disebut sebagai “literalisme” atau “sindrom bukti indrawi”, sebuah kondisi dimana keyakinan hanya dianggap valid jika bisa dibuktikan secara empiris dan fisik, menafikan sama sekali ranah metafisik dan keghaiban.

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, menyoroti kedunguan dan kekerasan hati di balik permintaan ini. Bagi mereka, Musa dan mukjizatnya bukanlah bukti yang cukup. Mereka menginginkan sesuatu yang lebih spektakuler, lebih langsung, dan—dalam persepsi mereka—lebih nyata. Ini adalah puncak dari sikap membangkang (‘inad) yang berangkat dari hati yang sudah terkunci. Psikolog akan melihat ini sebagai mekanisme pertahanan diri; dengan menetapkan syarat yang mustahil, mereka sebenarnya mencari pembenaran untuk tidak patuh. Mereka menolak untuk tunduk pada otoritas Nabi Musa dan, pada akhirnya, pada otoritas Allah. Mereka ingin Tuhan yang bisa mereka kendalikan, yang muncul sesuai permintaan mereka, bukan Tuhan yang harus mereka imani dengan kerendahan hati.

Akibat dari kelancangan ini sungguh dahsyat. “Maka halilintar menyambarmu saat kamu menyaksikannya,” (QS. Al-Baqarah: 55). Sambaran petir itu adalah teguran sekaligus pelajaran. Namun, kisah tidak berakhir di sini. Dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, setelah halilintar mematikan mereka, Nabi Musa justru memohon kepada Allah dengan penuh kepasrahan, “Wahai Rabbku, seandainya Engkau menghendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan diriku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?” (QS. Al-A’raf: 155). Allah kemudian mengabulkan doa Nabi Musa dan menghidupkan mereka kembali. Peristiwa ini menunjukkan bahwa di balik kemurkaan-Nya, Allah tetap membuka pintu rahmat bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Allah menunjukkan bahwa keinginan untuk melihat-Nya dengan cara yang lancang bukanlah jalan menuju keyakinan, melainkan jalan menuju kehancuran. Iman, pada hakikatnya, adalah lompatan keyakinan yang melampaui bukti indrawi. Ia dibangun di atas kepercayaan, ketundukan, dan penerimaan akan hal-hal yang gaib (ghayb). Bani Israil gagal memahami ini. Mereka mengira iman adalah kontrak negosiasi, bukan penyerahan diri total.

Dalam kehidupan modern, kita sering kali mirip dengan Bani Israil. Kita berteriak, “Tuhan, tunjukkanlah Engkau ada dengan memberiku kekayaan, kesembuhan, atau pasangan yang ideal! Jika tidak, aku tidak akan percaya.” Kita menjadikan iman sebagai syarat yang penuh tuntutan. Kita ingin Tuhan yang sesuai dengan ekspektasi dan jadwal kita.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa iman sejati dimulai dari kerendahan hati untuk percaya meski belum melihat, untuk tunduk meski belum mengerti sepenuhnya. Iman adalah keberanian untuk mempercayai Matahari meski malam masih pekat, karena keyakinan akan fajar telah tertanam di dalam hati. Kisah kebangkitan kembali ketujuh puluh orang ini juga memberi kita harapan – bahwa pintu ampunan dan rahmat Allah selalu terbuka bagi mereka yang mau kembali kepada-Nya.

Wallahu a’lam…


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca