Disampaikan Oleh : Haremen

Di ruang rapat berpendingin udara, politik disulap jadi pesta meja bundar, di mana kursi bukan sekadar kayu, melainkan takhta yang diperebutkan dengan senyum palsu dan mata penuh intrik.
Koruptor menyembunyikan wajahnya di balik jargon, menjual kata “pembangunan” sebagai parfum busuk, sementara bau anyir amplop menyebar ke sebagian lorong pendusta parlemen. Mereka bukan sekadar pencuri, mereka adalah arsitek penjarahan yang menggambar ulang peta negeri sesuai ukuran kantong pribadi.
Kekuasaan, oh kekuasaan, engkau bagai jeruji emas yang membius, bukan lagi amanah rakyat, melainkan sandera yang mengikat leher pejabat. Mereka saling menggenggam rahasia, saling menyimpan luka aib, hingga setiap langkah adalah tebusan, setiap keputusan adalah barter, setiap kesalahan ditutup dengan kesalahan lain.
Inilah dunia “jeruk makan jeruk”: sebuah pasar gelap di tengah terang, di mana penguasa menelan penguasa, koruptor menyandera koruptor, dan rakyat hanya menjadi statistik di laporan tahunan penuh dusta.
Kawan menjadi lawan, lawan menjadi kawan, semua tergantung pada siapa yang memegang bukti, siapa yang menyimpan dokumen, siapa yang bisa mengancam lebih kuat. Sandera tidak lagi berarti tubuh manusia, melainkan rekaman, surat perintah, kontrak gelap, atau data rekening rahasia yang bisa menjatuhkan singgasana dibelahan bumi.
Politik berubah jadi tawar-menawar : “Selamatkan aku, maka rahasiamu aman. Hapus kasusku, maka bisnismu lancar. Lindungi aku, maka kursimu tetap tinggi.” Begitulah simfoni sandera, lagu tifak berjudul yang diputar ulang di gedung-gedung kekuasaan.Dan rakyat? Hanya mendengar gaung samar dari balik kaca, melihat pertunjukan boneka yang bergerak tanpa jiwa, sementara dalang sesungguhnya bernama uang dan kekuasaan.
Namun sejarah mencatat, tidak ada sandera yang abadi. Rahasia akan bocor, jeruk busuk akan membusuk lebih cepat, dan pohon kuasa yang disiram dengan darah rakyat pada akhirnya tumbang oleh badai keadilan.Mungkin tidak hari ini, mungkin tidak esok, tapi setiap janji palsu adalah bara yang disimpan, setiap perampokan hak rakyat adalah bahan bakar kemarahan.
Dan ketika waktu itu tiba, jeruk-jeruk busuk itu akan saling memakan hingga habis, menyisakan tanah yang siap ditanami kembali oleh benih kejujuran, oleh tangan rakyat yang tidak mau lagi di nina bobokan oleh sandera amplop, sembako dan janji-janji jeruk busuk.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.