Oktober 10, 2026

Disampaikan Oleh: Haremen

Di sebuah kota yang tak pernah tidur, berdiri bangunan megah: Museum Janji-janji. Pintunya terbuat dari baliho kusam, yang dulu penuh senyum manis dan kata-kata manjur, tapi kini catnya mengelupas, menyisakan wajah-wajah yang kakuseperti topeng retak di pasar malam.

Ganbar ilustrasi

Di dalamnya, lorong panjang penuh arsip : janji tentang harga sembako yang murah, janji tentang tanah untuk petani, janji tentang rumah layak bagi kaum miskin, janji tentang pendidikan gratis hingga perguruan tinggi, janji tentang lapangan kerja tidak terbatas, Janji tidak bagi-bagi kursi, Janji tidak akan berhutang, dan seribu Janji-janji lainnya.

Semua tersimpan dalam etalase kaca berdebu, dijaga petugas museum yang tidak pernah tidur, seorang rakyat tua yang matanya keruh, karena terlalu sering membaca kata-kata yang tidak pernah jadi nyata.

Di ruang pertama, terdengar gema kampanye : “Rakyat adalah tuan, kami hanyalah pelayan.” Namun di ruang kedua, layar menayangkan debat : “Korupsi harus diberantas, oligarki harus dihentikan”. Suara-suara itu kini terdengar seperti rekaman rusak, berulang tanpa makna, menghantui pengunjung yang melangkah dengan getir.

Ada juga ruang khusus bernama Janji Lupa Ingatan.Di sana tersimpan kursi empuk kekuasaan, yang begitu diduduki, seketika menghapus semua memori tentang rakyat. Hanya tersisa janji bisnis, janji tambang, dan tanda tangan proyek strategis nasional yang mengalir seperti sungai emas ke kantong keluarga dan kolega.

Di halaman belakang, ada patung besar berbentuk amplop, di sekelilingnya rakyat berbaris panjang,membawa kertas suara yang telah usang. Mereka menunduk, mengingat malam-malam kampanyeketika nasi bungkus dan kaos partai dianggap sebagai tiket menuju masa depan.

Museum Janji-janji ini terus ramai, bukan oleh wisatawan, melainkan oleh rakyat yang datang berziarah, mencari potongan harapan yang pernah dijanjikan, tapi hanya menemukan kebohongan yang dipajang sebagai artefak sejarah politik negeri.

Dan setiap kali pintu museum ditutup, suara lirih terdengar dari balik tembok : “Janji-janji itu bukan untuk ditepati, melainkan untuk dikenang sebagai karya seni retorika. “Begitulah, di negeri ini, politik menjelma pameran permanen—tempat rakyat belajar bahwa janji hanyalah tiket masuk, dan kekuasaan adalah pertunjukan bisnis yang tidak pernah mengenal kata akhir”.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca