Oktober 10, 2026

Disampaikan Oleh : Haremen

Gambar ilustrasi

Di ruang gelap republik, nama-nama seperti papan catur jatuh satu per satu, Noel—terpeleset dalam pusaran jeruk peras, Nadiem—ditarik dalam pusaran laptop apel bertriliun, dan rakyat bertanya dengan suara yang retak : “Setelah mereka, siapa lagi berikutnya?

”Korupsi bukan sekadar nama di koran pagi, ia adalah gurita yang merentang tentakel dari gedung kementerian, dari kantor parlemen, dari meja birokrasi desa hingga istana megah. Sepuluh tahun berlalu, protes tercekik oleh asap janji, dan akar gunung es itu tidak juga dicabut, malah makin menancap jauh ke dalam—lebih dalam daripada akar beringin tua, lebih kokoh daripada fondasi jembatan baja tahan gempa 9,8 megatrust.

Gunung es itu berdiri, ujungnya terlihat : satu-dua tersangka, tapi dasarnya tenggelam : mungkin ratusan nama, ribuan tanda tangan, puluhan proyek abu-abu mungkin fiktif, jutaan rakyat yang tidak pernah menikmati sepotong pun dari janji pembangunan.

Pertanyaan menggema di jalan-jalan : Apakah hanya Noel dan Nadiem, atau ada daftar panjang yang menunggu giliran? Kursi empuk masih diduduki, papan tender masih dibagikan, komisi masih disamarkan dalam angka yang dipoles laporan akuntansi.

Sepuluh tahun, rakyat belajar bahwa korupsi bukan sekadar pelanggaran, tapi agama baru bagi sebagian penguasa : ritualnya adalah tanda tangan,doanya adalah amplop, tempat sucinya adalah rekening di luar negeri.

Dan bila hukum hanya memotong cabang, sementara akar gunung es tetap terjaga, maka kita hanya menonton drama—episode berganti, aktor berbeda, namun alurnya tetap sama : rakyat jadi penonton, koruptor jadi sutradara.

Lalu suara samar terdengar, dari lorong sunyi pengadilan, dari ruang rapat politik yang tertutup rapat : “Setelah Noel, setelah Nadiem, siapa lagi yang siap dikorbankan agar wajah gunung es tetap tidak sepenuhnya terlihat?”

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca