
Sahabat pembaca yang Budiman, sampailah pada bagian penutup, tentu pembaca telah membaca artikel sebelumnya KRONIK ’98 : PRABOWO DIANTARA MANUVER WIRANTO. (Bag 3)
PRABOWO DIANTARA MANUVER WIRANTO. (Penutup)
Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 4 Agustus 1999, Sekjen PBB Kofi Annan mengumumkan bahwa hasil jajak pendapat Timor Timur dimenangkan oleh kelompok kemerdekaan dengan angka 78,5%.
Pengumuman yang membuat kelompok pro-integrasi kecewa lalu melakukan penyerangan bersenjata terhadap kelompok pro-kemerdekaan, pertikaian semakin membesar tatkala kelompok pro-kemerdekaan juga menyasar pos-pos TNI.
Dari Jakarta, Wiranto memberikan lampu hijau kepada Pangdam IX Udayana untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk memulihkan situasi keamanan dan ketertiban di Timor Timur. Kebijakan yang tak pernah diambil saat menghadapi peristiwa ’98, kini dijalankan di Timor Timur, di wilayah yang sama sekali sudah tidak bisa lagi dipertahankan sebagai bagian dari NKRI.
Kontak senjata di tengah kota tak bisa dihindari dan mengakibatkan kehancuran besar atas berbagai infrastruktur yang ada di Kota Dili. Selain itu diduga tak kurang dari 1400 orang tewas dalam peristiwa tersebut, besarnya jumlah korban membawa dampak adanya indikasi pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Jakarta dalam tragedi itu. Nama Wiranto mengisi tempat teratas dalam daftar pelaku pelanggaran HAM, suatu hal yang sangat dihindari dan dijadikan alasan Wiranto dalam menolak Inpres No. 16 Tahun 1998, kini status sebagai ‘Penjahat HAM’ justru didapatkannya dalam kasus Timor Timur.
Masalah Timor Timur ini juga yang menjadi landasan bagi MPR untuk menolak pidato pertanggungjawaban Presiden Habibie dalam Sidang Istimewa MPR yang digelar tanggal 13 November 1999.
Sebuah ironi yang cukup disesalkan, mengingat masing-masing figur yang terlibat dalam skenario ‘penggulingan’ Presiden Soeharto harus menelan kenyataan yang tak sesuai dengan harapannya. Mereka yang pernah menuding Pak Harto, terbukti tak pernah bisa menghadirkan pencapaian yang lebih baik daripada era Orde Baru.
Semoga Kronik ’98 bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi generasi muda Bangsa Indonesia, agar kesalahan yang sama tak kembali terulang di masa depan.
Akhir kata, Semut Ibrahim Mediatama (SIM) sampaikan terimakasih setinggi-tingginya kepada “PECINTA SEJARAH TAHAN AIR (PEJANTAN)” yang telah menuliskan artikel panjang berseri ini, sehingga melengkapi ruang baca dan ruang pengetahuan kita.
Semoga Allah, Tuhan yang Maha Esa senantiasa menjaga kita semua, menjaga dan menguatkan Indonesia Raya. Aamiin… (Red SIM-PEJANTAN)
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
1 thought on “KRONIK ’98 : PRABOWO DIANTARA MANUVER WIRANTO. (Penutup)”