Oktober 9, 2026
The Smiling General

Pada bagian ke 5 ini adalah lanjutan dari KRONIK ’98: PERJUANGAN ATAU PENGKHIANATAN⁉️ (Bag 4)

Tanyakan Pada Hati Nuranimu

Berderet pertanyaan yang bisa kita jawab dengan hati nurani, yang barang tentu juga bisa kita jawab dalam hati.

– Apakah kecurangan pemilu tak lagi ada pasca runtuhnya Orde Baru..??

– Benarkah KKN berhasil diberantas setelah turunnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan..??

– Sudahkah supremasi hukum mengalami kemajuan..??

– Berhasilkah bangsa kita keluar dari jerat hutang luar negeri..??

– Akankah hutang luar negeri yang dicairkan pasca reformasi benar-benar tepat sasaran dan tak lagi mengalir ke pundi-pundi para konglomerat..??

– Sudah kokohkah fundamental ekonomi bangsa kita ditangan orang-orang yang mengaku sebagai aktivis reformasi..??

– Sudah adilkah sikap kita terhadap Presiden Soeharto yang telah mendarmabaktikan hidupnya untuk negeri ini..??

Keputusan Soeharto Untuk Mundur Dilandasi Kecintaan Terhadap Rakyat

Perlu dicatat baik-baik, bahwa keputusan Presiden Soeharto untuk melepaskan jabatannya bukanlah karena rasa takut terhadap rakyatnya, tetapi sebagai implementasi besarnya rasa cinta beliau terhadap rakyat Indonesia.

Satu hal yang perlu kita fahami terkait Pemilu 1997, kala itu Presiden Soeharto sudah mempersilahkan kepada para elit politik untuk mencari figur pengganti beliau. Karena beliau telah memutuskan untuk menghabiskan masa senja bersama anak dan cucunya.

Opsi purnabakti yang beliau pilih merupakan bentuk pemberian kesempatan bagi para generasi muda bangsa Indonesia untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan negara, namun tak ada satupun kandidat yang berhasil disepakati oleh para elit politik. Baik dari PPP, Golkar dan PDI, tak ada satupun nama yang Capres pengganti yang muncul jelang Sidang Umum MPR.

Sampai suatu ketika Ismail Hasan Metareum menghadap Presiden Soeharto, menyampaikan bahwa rakyat masih menghendaki beliau untuk kembali memimpin Indonesia.
Beliau menerima usulan pencalonan kembali sebagai presiden, dengan catatan bahwa ini adalah periode terakhirnya. Presiden Soeharto mengamanatkan kepada seluruh elemen PPP untuk mempersiapkan figur pengganti beliau, karena usia beliau sudah memasuki usia lanjut. Bangsa Indonesia membutuhkan figur muda yang memiliki semangat nasionalisme serta berkompeten untuk memimpin negara.

Perlu diketahui bahwa kala itu belum ada tanda-tanda akan adanya krismon, jadi langkah Pak Harto untuk purnabakti adalah murni karena keinginan pribadi beliau, bukan untuk menghindari tanggungjawab atau alasan lainnya.

Duet Maut Soeharto – Habibie Menggoncang Elit Global

Pasangan Presiden Soeharto yang baru terpilih (kiri), dan Wakil Presiden B. J. Habibie (kanan), untuk periode ketujuh dan terakhir Soeharto

Dunia masih berada dalam kebimbangan, mengingat figur Pak Harto sempat membuat mata publik internasional tertuju pada beliau tatkala di tahun 1992 dengan lantang menolak bantuan dari IGGI lantaran salah satu anggota ormas internasional tersebut mencoba mengintervensi kebijakan pemerintah Indonesia terkait masalah Timor Timur.

Belanda dengan segala kecongkakannya mencoba mendikte Pak Harto, namun secara tegas beliau menolak menggadaikan martabat bangsa dan negara hanya demi bantuan. Keputusan itu membuka persepsi dunia bahwa figur Pak Harto merupakan sosok yang berintegritas tinggi. Sehingga IGGI memilih menendang Belanda dan bertransformasi menjadi CGI dan tetap memberikan bantuan kepada Indonesia.

Kepiawaian ‘The Smiling General’ dalam memainkan peran di panggung internasional, membuat Indonesia menjadi disegani. Bahkan tak dapat disangkal bahwa Pemilu 1997 menjadi sorotan dunia, tatkala beredar kabar bahwa Presiden Soeharto bersedia dicalonkan kembali menjadi Presiden Indonesia, yang paling mengkhawatirkan adalah Pak Harto memutuskan figur B.J. Habibie sebagai wakil presiden. Sebuah sinyalemen yang memaksa elit global untuk bergerak menghentikan kemungkinan Indonesia menjadi negara yang lebih kuat, karena dipimpin oleh duet terbaik yakni Pak Harto yang ahli strategi militer dan Habibie seorang jenius dalam sains.

Banyak pengamat politik internasional meyakini Indonesia akan memulai program pengembangan alutsista modern jika Pak Harto dan Habibie tidak segera dijungkalkan. Terutama Jepang yang khawatir kehilangan pasar otomotif di Indonesia lantaran mendengar rencana program produksi kendaraan berat Texmaco.

Kenyataan pahit harus ditelan oleh Bangsa Indonesia, dimana berbagai macam proyek strategis terkait pengembangan teknologi harus kandas lantaran dijerat dengan pasal korupsi.

Berbeda nasibnya dengan proyek strategis nasional versi Mulyono yang berwujud reklamasi pantai untuk hunian elit milik swasta yang terus dipertahankan meskipun secara gamblang melanggar hukum dan merugikan negara serta masyarakat.

Penutup

Sebagai penutup mari kita menelaah tentang korupsi dana pinjaman dari luar negeri yang diberikan kepada swasta, dimana uang senilai miliaran dolar Amerika menjadi alat tawar bagi para taipan atas berbagai kebijakan pemerintah Indonesia pasca Orde Baru runtuh. Siapapun presidennya, jika berani mengusik atau minimal tak memberikan akses proyek kepada konglomerat, maka mereka akan menarik seluruh valuta asing miliknya dari bank milik mereka di Indonesia. Sebuah ancaman yang tentunya dapat mengakibatkan hancurnya nilai tukar rupiah kembali.

Tak ada hutang luar negeri yang tak mengalir sebagian ke pundi-pundi taipan, itu adalah syarat mutlak bagi pemerintah jika ingin stabilitas ekonomi tetap terjaga. Penguasaan mereka dalam sektor minyak goreng saja sudah cukup menjadi alat untuk menekan pemerintah, bayangkan jika mereka memutuskan untuk menghentikan produksi minyak goreng, pastinya akan muncul gejolak yang berimplikasi pada eksistensi pemerintahan tersebut.

Makanya jangan heran bila menyaksikan berbagai kebijakan pemerintah Indonesia yang memanjakan para pelaku bisnis swasta, karena tidak ada pilihan lain bagi rezim selain menuruti ambisi para taipan.

Begitulah fakta yang tak pernah bisa kita ingkari, bahwa sesungguhnya pondasi ekonomi kita sangatlah rapuh. Meningkatnya hutang luar negeri secara ugal-ugalan tidak lain merupakan jerat para konglomerat jahat.

Fundamental ekonomi ini yang akan terus mendorong negara semakin tak berdaya oleh cengkeraman anasir licik lagi serakah, konsesi besar di berbagai sektor akan terus diberikan kepada mereka. Bahkan untuk sekedar menghentikan reklamasi pun pemerintah seolah tak sanggup.

Pembaca yang Budiman, melanjutkan pada artikel selanjutnya (insyaallah) akan terbit dalam tajuk KRONIK 98: ABRI DALAM PUSARAN POLITIK.

Akhir kata, semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa membimbing kita semua sebagai bangsa Indonesia sehingga kita semua di mampukan melalui silang sengkarut & carut marutnya situasi negara Indonesia yang kita cintai.

Semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa menjaga Indonesia Raya.

Aamiin


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

1 thought on “KRONIK ’98: PERJUANGAN ATAU PENGKHIANATAN⁉️ (Bag 5)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca