
Kauman, Yogyakarta — Tahun 1870-an
Langit Yogyakarta sore itu tampak sendu. Seorang anak lelaki, mengenakan kain batik dan peci hitam, duduk di serambi rumah sambil memandangi langit.
“Bu, mengapa orang di kampung ini masih percaya pada pohon besar, bukan pada Tuhan?” tanyanya polos.
Ibunya tersenyum sambil membelai rambutnya yang ikal.
“Karena mereka belum melihat cahaya, Nak. Mungkin… nanti kamu yang bawa cahaya itu ke mereka.”
Anak itu bernama Muhammad Darwisy, anak dari K.H. Abu Bakar, seorang Imam Masjid di Kauman.
Sejak kecil, ia haus akan ilmu. Tak cukup hanya belajar di langgar (surau-red) kampung, ia berangkat ke Semarang untuk berguru pada Kyai Shaleh Darat, ulama besar Jawa yang dalam ilmu fikih dan tafsirnya.
Semarang — Majelis Kyai Shaleh Darat
Di bawah cahaya lampu minyak, Darwisy remaja duduk bersimpuh, membuka kitab tafsir berbahasa Arab yang diterjemahkan Kyai Shaleh ke dalam bahasa Jawa.
“Ilmu agama itu bukan untuk ditakuti,” ucap Kyai Shaleh, memandangi murid-muridnya. “Tapi untuk membuka hati. Supaya kalian bisa bedakan mana cahaya, mana kegelapan.”
Darwisy mengangguk pelan.
“Guru… mengapa banyak orang masih mengamalkan yang tak bersumber dari Rasul?” tanyanya.
Kyai Shaleh memandang tajam, tapi lembut.
“Karena tak semua orang diberi taufik untuk bertanya seperti kamu, Darwisy. Dan tugas orang berilmu adalah menyampaikan, bukan mencela. Bersabarlah… waktumu akan tiba.”
Bangkalan — Tahun 1880-an
Usai menuntut ilmu di Semarang, Darwisy melanjutkan ke Madura. Ia berguru pada Kyai Khalil Bangkalan, ulama karismatik yang dikenal memiliki kedalaman ilmu syariat dan hakikat.
Suatu malam, saat hujan mengguyur, Darwisy berbincang dengan sang kyai di teras pesantren.
“Kyai,” katanya lirih, “kadang saya merasa, ilmu saya ini masih seperti buih. Semakin saya pelajari, semakin saya merasa bodoh.”
Kyai Khalil tersenyum, lalu menjawab sambil menatap langit malam.
“Itu tandanya kau telah menyentuh samudra ilmu. Dan kalau hatimu gelisah, berarti jiwamu sedang dipanggil ke tempat yang lebih tinggi…”
“Maksud Kyai?” tanya Darwisy.
“Pergilah ke Mekkah, Darwisy. Di sanalah samudra itu. Hanya di sana kau bisa menemukan kedalaman yang kau cari.”
Mekkah — Tahun 1883
Mekkah menyambut Darwisy dengan panas padang pasir dan sejuknya majelis ilmu. Di bawah naungan Ka’bah, ia belajar dari para ulama besar Nusantara yang telah menetap di sana: Imam Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan ulama besar asal Mesir Syekh Bakir Syatha.
Hari-harinya dipenuhi pelajaran tentang tafsir, fikih, ushuluddin, tasawuf, dan berbagai cabang ilmu. Tapi bukan hanya isi kitab yang menarik hatinya, melainkan ketulusan dan keluasan hati para gurunya.
Suatu hari, selesai mengaji, Syekh Bakir Syatha memanggilnya.
“Darwisy,” katanya pelan, “engkau telah menunjukkan kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu. Tapi setiap ilmu besar, butuh nama yang membawa keberkahan besar.”
“Syekh?” Darwisy mengangkat wajahnya.
“Mulai hari ini, kau bukan lagi Darwisy. Aku menamakanmu… Ahmad Dahlan.”
Seketika itu, air mata jatuh dari sudut mata Darwisy. Nama itu bukan sekadar panggilan, tapi amanah. Ia tahu, hidupnya tak akan sama.
Yogyakarta — Tahun 1888
Setelah lima tahun di Mekkah, Ahmad Dahlan pulang ke tanah air. Ia kembali sebagai ulama muda, mengajar di langgar, memperbaiki arah kiblat masjid, dan mulai menyeru umat untuk kembali pada ajaran yang murni.
Namun tak semua menyambutnya dengan baik.
“Ini ajaran baru!” teriak sebagian.
“Dia bawa kebaratan ke Islam!” tuduh yang lain.
Dahlan tak gentar.
“Aku tidak membawa ajaran baru,” ujarnya di depan para warga. “Aku hanya ingin kita kembali kepada ajaran Rasul, kepada al-Qur’an dan sunnah yang shahih.”
Mekkah — Tahun 1903
Tapi kegelisahan intelektualnya kembali muncul. Ia ingin memahami lebih dalam tentang pembaruan Islam yang mulai ia dengar dari tulisan-tulisan yang beredar.
Ia kembali ke Mekkah, dan di sanalah ia mengenal karya-karya Syekh Jamaluddin al-Afghani, Imam Muhammad Abduh, dan Syekh Rasyid Ridha.
Majalah Al-Manar dan Al-‘Urwatul Wutsqa membuatnya terpekur.
“Islam harus bangkit,” bisiknya di malam-malam panjang. “Dan itu hanya bisa lewat ilmu, akal, dan keberanian meninggalkan taklid.”
Suatu hari, ia mendengar kabar: Syekh Rasyid Ridha berada di Mekkah.
Dengan perantaraan Kyai Baqir al-Jokjawi, ia dipertemukan langsung.
Dalam pertemuan itu, Dahlan menggenggam tangan Syekh Ridha erat.
“Syekh, saya datang dari negeri yang jauh. Di sana, umat Islam terbelakang, tenggelam dalam kebiasaan yang tak berdasar. Ajarkan saya… cahaya yang Anda bawa.”
Syekh Ridha menatap matanya dalam.
“Bawalah pulang bukan hanya kata-kata, tapi semangat. Islam harus hidup dengan ijtihad, bukan beku dalam taklid. Umatmu butuhmu.”
Yogyakarta — Tahun 1905 hingga 1912
Sepulangnya ke tanah air, K.H. Ahmad Dahlan mulai menyebarkan gagasan pembaruan:
Umat Islam harus berpikir, bukan ikut-ikutan buta.
Ulama harus berani berijtihad, bukan hanya mengulang.
Umat harus meninggalkan bid’ah, khurafat, dan tahayul.
Pada tahun 1908, ia bergabung dengan Budi Utomo, organisasi nasionalis pertama. Di sana, Sutomo terkesan pada keilmuan dan pemikiran Dahlan.
“Pak Dahlan,” ujarnya suatu hari, “mengapa tidak engkau dirikan saja wadah Islam yang seperti Budi Utomo—modern dan membawa pencerahan?”
Dahlan menatap langit.
“Mungkin sudah waktunya…”
18 November 1912
Di bawah langit Yogyakarta, di sebuah rumah kecil di Kauman, Muhammadiyah lahir. Organisasi Islam modern yang membawa semangat tajdid (pembaruan), pemurnian, pendidikan, dan amal.
Di hadapan para santri dan warga, KH Ahmad Dahlan berkata:
“Islam itu bukan hanya untuk surau dan masjid. Islam itu untuk dunia. Untuk memajukan manusia, menyembuhkan sakit, mengajar yang bodoh, dan menyelamatkan dari kegelapan.”
Penutup
Dari seorang anak kampung bernama Darwisy, tumbuh seorang ulama besar bernama K.H. Ahmad Dahlan. Ia menyatukan warisan ilmu klasik dengan ruh pembaruan. Ia memurnikan keyakinan, memperbaiki amal, dan menyalakan cahaya di zaman yang gelap.
Kini, cahaya itu terus menyala.
Dituturkan oleh : Kyai Wahyudi Abdurrahim, pengasuh Pondok Pesantren al-Muflihun Temanggung Jawa Tengah.
Pondok pesantren al-Muflihun merupakan pondok kader ulama yang fokus pada kajian turas Islam dan pemikiran Islam kontemporer.
Ponpes Al-Muflihun memberikan kesempatan bagi Anda untuk berzakat, berwakaf dan berinfak untuk pembangunan ruang kelas baru santri.
Kirimkan dana anda melalui LazizMu KLL Ponpes Al Muflihun:
No Rek:
BSI: 7890090073
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.